![]() |
| Ketua Komisi III Ridho Akbar didampingi Anggota DPRD Hari Kartono dan Dirut Perumda PALD, Endani. (FOTO:IST) |
JURNALBANUA.COM, BANJARMASIN - Di tengah persoalan sampah yang terus menghantui Kota Banjarmasin, secercah harapan muncul dari sudut kawasan Pergudangan 88 Bumi Basirih. Deru mesin pemilah sampah di Banjarmasin Recycle Center (BRC) kini mulai menarik perhatian para wakil rakyat.
Kamis (7/5), Komisi III DPRD Kota Banjarmasin turun langsung meninjau operasional BRC yang berada di kawasan Banjarmasin Selatan.
Kunjungan lapangan itu sekaligus menjadi upaya DPRD melihat sejauh mana fasilitas pengolahan sampah tersebut mampu membantu mengurangi beban sampah kota.
Ketua Komisi III DPRD Banjarmasin, Ridho Akbar, mengaku cukup optimistis melihat potensi pengolahan sampah di lokasi tersebut. Namun, ia menilai kapasitas dan fasilitas yang ada masih perlu diperkuat agar hasilnya benar-benar signifikan bagi Kota Seribu Sungai.
“Hari ini kami melihat langsung bagaimana BRC ini beroperasi. Ada dua mesin yang standby, meski satu masih dalam perbaikan. Harapan kami kapasitas pengolahan di sini nantinya bisa lebih besar,” ujarnya.
Saat ini, kapasitas pengolahan sampah di BRC disebut hanya sekitar 10 ton per hari. Menurut Ridho, angka itu masih terlalu kecil jika dibandingkan dengan volume sampah harian Kota Banjarmasin yang terus meningkat.
Ia berharap BRC mampu meningkatkan kapasitas hingga 20 sampai 30 ton per hari agar dampaknya terhadap pengurangan polusi sampah benar-benar terasa.
“Kami ingin tempat ini bisa membantu mengurangi persoalan sampah di Banjarmasin secara nyata,” katanya.
Dalam peninjauan itu, Komisi III juga menemukan sejumlah kendala di lapangan. Selain keterbatasan mesin, proses pemilahan sampah dinilai belum berjalan maksimal. Jumlah pekerja yang terbatas membuat operasional belum mampu bekerja optimal.
Karena itu, DPRD berencana membuka komunikasi lebih lanjut dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin guna mencari solusi jangka panjang, termasuk kemungkinan penambahan alat dan teknologi baru.
Ridho menegaskan, keberadaan BRC sebenarnya sudah cukup baik sebagai langkah awal pengelolaan sampah modern. Namun tanpa dukungan alat dan sumber daya manusia yang memadai, potensi besar tersebut sulit berkembang.
“Kita melihat tempat ini sudah bagus, cuma memang pelaksanaan pemilahannya belum maksimal. SDM dan alatnya masih perlu ditingkatkan,” ucapnya.
Komisi III juga meminta pengelola BRC terus memaksimalkan operasional yang ada sembari menunggu dukungan tambahan dari pemerintah.
Sementara itu, Direktur Perumda PALD Banjarmasin Endani menyambut baik perhatian DPRD terhadap keberlangsungan BRC.
Ia menyebut dukungan legislatif sangat dibutuhkan agar pusat pengolahan sampah tersebut benar-benar berkembang menjadi destinasi utama pengelolaan sampah di Banjarmasin.
“Kami sangat mengapresiasi kedatangan dewan yang langsung melihat kondisi di lapangan. Kami memang butuh atensi supaya pengelolaan sampah di sini bisa berjalan optimal,” katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini terletak pada keterbatasan SDM dan teknologi. Dengan dua mesin yang beroperasi dan sekitar 20 pekerja, kapasitas pengolahan masih belum mampu menampung volume sampah yang lebih besar.
“Kalau ada tambahan dua mesin lagi, berarti total ada empat mesin. Itu tentu harus dibarengi penambahan SDM juga. Kalau bisa disemua kecamatan ada, bisa tersedia,” ujarnya.
Di tengah meningkatnya produksi sampah perkotaan, keberadaan BRC kini menjadi salah satu harapan baru bagi Banjarmasin. Namun harapan itu hanya akan berjalan jika dukungan anggaran, teknologi, dan tenaga kerja benar-benar diperkuat.(saa/jb)
