BEKAMBIT: JALAN PANJANG PERLAWANAN PETANI

Transmigran asal Pulau Jawa dan Bali ketika awal membuka lahan di Rawa Indah, Bekambit. Terlihat semua turun bekerja, termasuk para remaja | FOTO: DOK PRIBADI
Datang hanya berbekal bundelan. Puluhan tahun mengolah rawa pedalaman menjadi sawah dan ladang. Tapi akhirnya deru alat berat mengubah harapan menjadi lubang, sertifikat beralih menjadi kertas kosong. Meletuslah perlawanan petani: jalan panjang tentang ketabahan juga kesetiaan.

ZALYAN SHODIQIN ABDI

Tahun 1988 di Pelabuhan Benoa. Embusan angin beraroma garam terasa liat bercampur bau keringat.

Orang-orang berdesakan naik ke atas kapal barang berukuran sebelas kali enam puluh meter. Riuh suara tindih-menindih; anak-anak balita bergerak-gerak gelisah dalam gendongan. Ketika sauh ditarik, mereka berebut ke tepian geladak. Mencari-cari wajah keluarga di daratan. Tangan-tangan melemparkan salam perpisahan.

"Semakin kecil pelabuhan, semakin berat rasanya dada," kenang Nyoman Swastika, petani asal Bali.

Kahuripan membawa dirinya bersama ratusan transmigran Jawa dan Bali, hijrah menuju Kotabaru Kalimantan Selatan. Mengadu peruntungan di tanah rantau. Setelah berlayar sehari semalam, tibalah Kahuripan di perairan Kotabaru.

Di garis langit, Nyoman melihat Pulau Laut beratapkan pegunungan megah. Di depannya, berbaris rumah-rumah yang dipancangkan di atas laut. Perahu nelayan hilir mudik, mesinnya batuk-batuk, mengeluarkan gumpalan asap hitam.

Kapal merapat, mengikat tali di Pelabuhan Panjang. Petugas transmigrasi membawa rombongan petani ke sebuah bangunan perkantoran, tidak jauh dari pelabuhan. Satu-satu kepala keluarga didata. Setelah proses administrasi beres, resmilah nama mereka menjadi warga trans.

Suasana pelabuhan di Pulau Laut Kotabaru tempo dulu. Rumah-rumah nelayan di pesisir utara rata-rata dibangun di atas laut, sampai sekarang | FOTO: POTRET KOTABARU
Esok harinya mereka berangkat ke lokasi transmgirasi di Rawa Indah, Desa Bekambit. Sekitar empat puluh kilometer ke arah timur. Karena armada angkutan kota terbatas, sebagian petani terpaksa harus memutar pulau naik perahu nelayan.

Nyoman mencengkeram kuat-kuat ke besi sandaran angkot yang ia tumpangi. Badannya terguncang-guncang. Jalan tanah berlubang dan bergelombang. Ketika melewati kampung, anak-anak berlarian mengejar angkot sambil berteriak: "Ada oto! Ada oto!".

Satu jam lebih berkendara, tibalah mereka di Bekambit. Tetapi angkot tidak bisa masuk ke Rawa Indah. Jalur di depan belum rampung, tergenang lumpur sisa hujan semalam

"Jalan kaki lima kilometer. Anak-anak kami gendong, lumpurnya setinggi lutut."

Ketika memasuki kawasan transmigrasi Rawa Indah, barulah Nyoman mulai menyadari, daerah yang akan mereka garap ternyata berbeda dengan permukiman subur dataran tinggi yang tadi telah ia lewati. Rawa Indah seperti namanya, adalah bentangan luas hutan rawa primer. Udara terasa panas dan lembap — medannya basah dan berat.

Nyoman hanya bisa menghela napas. Layar sudah terkembang.

PRAJURIT PEMBANGUNAN


"Transmigrasi bukanlah pemindahan kemiskinan, tapi untuk menjadikan penduduk Pulau Jawa yang sudah padat menjadi prajurit-prajurit pembangunan."

The Smiling General Soeharto nampaknya sedang tidak bercanda ketika mengucapkan kalimat di atas, tahun 1982.

Setelah menempati rumah sesuai nomor undian, dan istirahat beberapa hari, suami istri juga para remaja mulai mengisi hari-hari dengan parang, kapak, gergaji juga pacul. Balita pun terkadang dibawa masuk hutan, dibuatkan ayunan di pohon atau digendong di belakang punggung. Seperti prajurit gerilya, mereka berjibaku membabat hutan, mengolah lahan. Akhir pekan ditutup dengan gotong-royong memperbaiki jalan; membuat saluran irigasi.

Petani transmigran Bekambit menanam padi bersama anak-anak mereka | FOTO: DOK PRIBADI
Dalam masa-masa perjuangan ini, pemerintah rutin mengirim suplai Jadup: jatah hidup berupa bahan-bahan sembako.

Beratnya medan tempur membuat beberapa keluarga menyerah sejak awal. Mereka tidak tahan. Ada yang kembali ke Jawa, ada pula memilih mengadu untung ke daerah lain.

Tidak terasa tahun demi tahun berlalu. Pelan-pelan pemerintah mengirim alat pertanian seperti mesin bajak. Prajurit-prajurit pembangunan Soeharto yang tetap bertahan akhirnya berhasil mengubah tanah perawan menjadi sawah dan ladang. Padi-palawija tumbuh: berbunga, mekar, lalu berbuah. Ternak dalam kandang beranak-pinak. Anjing menyalak riang, memburu pipit panen perdana. Tiap pekan, pikap dari kota masuk ke desa. Hasil keringat petani dibawa ke pasar harian Kotabaru.

Tahun 1990, pemerintah mengakui kerja keras mereka. Semua kepala keluarga mendapatkan sertifikat hak milik (SHM). Nyoman menyimpan semua berkasnya di dalam lipatan baju lemari kayu, "untuk anak cucu nanti".

Warga transmigran di Bekambit benar-benar menjadi prajurit pangan seperti telah diucapkan Presiden M Soeharto | FOTO: DOK PRIBADI
Sepuluh tahun berselang, seiring dengan dibangunannya akses pendidikan dan kesehatan, Rawa Indah Bekambit tumbuh menjadi kawasan mandiri. Rumah-rumah berbenah: lebih besar, lebih layak huni.

Orang-orang kemudian mengingat pada hari-hari kalender tertentu —biasanya sehabis musim panen, terdengar gamelan mengalun dari alun-alun. Kandang dibuka — ternak disembelih. Desa tetangga diundang. Piring-piring diedarkan, tarian sukur disuguhkan. Orang-orang trans datang melengkapi kekayaan pulau.

RAUM BULDOSER


Braaak! Pohon-pohon tumbang. Akarnya tercerabut dari tanah. Raum buldoser bergemuruh di tepi desa.

Suhermanto lahir di Bekambit tahun 1993. Ayahnya adalah transmigran — sekarang nyambi sopir angkot.

Ketertarikan Herman dengan kewirausahaan tumbuh seiring geliat ekonomi desanya. Ketika Herman usia SMA, orang-orang di Bekambit telah melebarkan usaha produksi ke industri perkebunan tanaman keras. Truk pengangkut mulai lalu lalang.

Ia sering berlama-lama tenggelam dalam lembar-lembar halaman Trubus, membayangkan dirinya: memakai topi koboi, berkuda menyusuri kebun buah dan kandang-kandang ternak.

Suhermanto (kiri) di rumah transmigrasinya, terlihat di belakang sebuah radio transistor. Kelak bocah ini menjadi salah satu ujung tombak perlawanan petani | FOTO: DOK PRIBADI
"Agribisnis. Kata itu terasa manis di telinga" ujarnya.

Lulus SMA, Herman merengek, minta kuliah pertanian di ULM Banjarbaru. Beberapa keluarga sempat mendebat. Pertanian dianggap tidak akan bisa mengubah wajah famili. Petani ya petani.

"Serius, Nduk, sekolah tinggi-tinggi cuma tani? Kami belasan tahun, masih begini-gini saja," ragu seorang kerabat.

Datang lagi temannya, "Kenapa, gak masuk polisi? Tinggi begitu," heran karibnya.

Tapi Herman bergeming. Menurunya, petani tua hanya kalah pengetahuan dan teknologi. Menanam masih begitu-gitu saja, panen seperti itu juga, hingga pengolahan produk dan pemasaran yang ketinggalan. Bagi Herman semuanya sejelas lembar-lembar majalah pertanian modern.

Di mata Herman tidak ada yang lebih keren dari pengusaha agribisnis muda. Namanya akan harum; kesuksesannya berarti ada banyak orang di belakang barisannya. Bukankah kerja tani adalah kerja bersama.

"Orang lain bisa, masa saya tidak?"

Keluarga akhirnya mengalah. Berangkatlah Herman ke Banjarbaru. Tiap bulan ayahnya rutin mengirimkan sebagian hasil panen.

Warga transmigrasi Bekambit mengirim hasil ladang merek ke kota dengan pikap. Sampai sekarang kendaraan jenis ini masih jadi transportasi umum antar kecamatan di Pulau Laut | FOTO: DOK PRIBADI
Sadar telah mengorbankan kenyamanan dapur keluarga, Herman belajar dengan ketekunan khas anak kampung. Siang kuliah, sore organisasi. Sambil belajar, sambil nyari sampingan. Kalau tiba godaan hura-hura, ia kenang-kenang lagi dapur di rumah.

"Bapak banting tulang, masa saya leha-leha?" ujarnya.

Jika seseorang mencoba menengok ke belakang, waktu baginya seakan hanya lipatan-lipatan kertas. Masa-masa kuliah berjalan cepat. Herman ingat, tahun 2015 ia mengenakan toga, lalu pulang dengan dada terbusung. Sarjana muda, semangat membara. Mulailah Herman meniti mimpinya, sembari bekerja sebagai petugas lapangan Kemensos di Kotabaru.

Sayang, ibarat satu kepak kupu Amazon yang menimbulkan badai di Sahara, kadang persimpangan ikhtiar orang banyak ditentukan hanya oleh segelintir orang. Ketika sedang asyik-asyiknya dari ladang ke sawah, berceramah tentang smart farming, tiba-tiba kabar suram itu datang: Bekambit mau ditambang.

PT Sebuku Sejaka Coal (STC) yang telah mengantongi izin tambang dari pemerintah daerah pada 2010, akhirnya memulai operasi eksploitasi pada 2018. Deram berat iring-ringan alat berat memasuki Pulau Laut. Kera menjerit-jerit dari atas pucuk mangrove. Babi berlarian ketakutan masuk ke dalam.

Jantung hutan berdetak gelisah.

Sebelum Bekambit, konflik agraria lebih dahulu pecah di Pulau Laut Tengah. Pada waktu bersamaan —bukan hanya antara tambang dan warga— tapi juga antar kementerian: tumpang tindih perizinan tambang dan kelapa sawit. Gelombang massa turun ke jalan menolak tambang. Kompleksitas masalah membuat persepsi publik terbelah: kesulitan memisahkan antara silang kepentingan politik bisnis dan trauma masyarakat agraria.

Namun di Bekambit, satu yang sudah pasti: jejak kebijakan jalinan penguasa dan pengusaha di masa lalu telah merintang jalan Herman. Jalan seorang petani muda.

Benar saja. Setelah sebagian pemilik lahan terbujuk ganti rugi, alat berat mulai mengeruk dari tengah ke timur — membelah daratan antara Gunung Jambangan dan Gunung Sebatung. Debu beraroma sangit mengudara ke langit. Orang-orang perusahaan datang menawarkan gepokan-gepokan rupiah.

Makelar tanah bermunculan. Kasak-kusuk di balik meja. Oknum-oknum di desa sibuk membaca dan memetakan peluang cuan.

"Nyaris tiap hari kami didatangi, ditawari ganti rugi Rp5 ribu per meter," kata Herman.

Suhermanto (topi terbalik berkacak pinggang) ketika berdebat dengan orang-orang perusahaan yang menjalankan proses eksploitasi di Bekambit 2019 | FOTO: DOK PRIBADI
Ada yang tergoda, tapi banyak menepis. Bagi petani yang tidak punya kebisaan selain bercocok tanam, melepas lahan sama artinya dengan melepas masa depan. Lima ribu per meter dan mereka harus mulai dari awal lagi.

Lalu ketika rayuan ganti rugi sudah tak lagi mempan, terjadilah peristiwa yang mengejutkan pubik. Tahun 2019, melalui permohonan kepala desa, BPN Kalsel membatalkan sertifikat transmigran — mengurangi sebanyak 717 sertifikat tanah di atas lahan seluas 485 hektare. Warga transmigran dianggap sudah tidak punya alas hak lagi. Gantinya, terbitlah Sertifikat Hak Pakai (SHP) kepada PT SSC. 

Herman masih ingat wajah ayahnya, wajah-wajah tua generasi pertama trans ketika mendengar sertifikat mereka sudah tidak berlaku. Ibu-ibu menangis di dapur. Langit terasa rebah di atas pundak. Semua derita ketika pertama kali merintis desa berkelindan di pelupuk mata para orang tua.

Tangan Herman bergetar. Jari-jarinya keras menggenggam seluler. "Bagaimana?" tanyanya pada seseorang di seberang sambungan.

"Ini tanah kelahiran!" suara pengacara muda M Hafidz Halim tegas di telinganya.

Meletuslah perlawanan petani Bekambit. Tua muda turun. Membuat pagar betis. Menghadang raum buldoser di tepi desa.

Petani di Bekambit saat melakukan protes kepada perusahaan | FOTO: DOK PRIBADI
Tapi semua telah berubah. Bukan hanya orang-orang perusahaan yang harus mereka hadapi. Alat-alat negara juga hadir, berdiri di sisi kepentingan korporasi.

Di darat buldoser dan ekskavator terus merangsek — di meja birokrasi warga berhadapan dengan tembok pasal-pasal yang mereka tidak mengerti.

KABUR


"Pembatalan sertifikat itu cacat hukum!" yakin M Hafidz Halim.

Pengacara muda ini lahir di Berangas, tetangga Desa Bekambit. Kebetulan kakeknya adalah mantri tani desa. Panggilan moral membawanya dalam barisan perlawanan, sejak awal.

"Kami tidak menolak investasi. Tapi cara-caranya harus manusiawi," ujarnya.

M Hafidz Halim, namanya mulai mencuat di Kotabaru sejak 2015-an. Pemuda kelahiran Berangas Pulau Laut Timur ini aktif memberikan pendampingan kepada warga lokal | FOTO: IST
Tahun 2020, bersama-sama dengan Herman dan Ketua Transmigrasi Bekambit I Ketut Buderana, ia melakukan serangkaian aksi protes di daerah. Ketika aksi-aksi itu tidak mendapatkan sambutan, mereka lanjut ke provinsi lalu ke ibu kota Jakarta.

Timbul pertanyaan, dari mana amunisinya?

Dari penelusuran wartawan, petanilah yang sukarela menyisihkan hasil ladang mereka. Nelayan yang selama ini juga menggantungkan dapur dari kekayaan perairan mangrove, ikut merogoh kocek. Seadanya — secukupnya.

"Kalau mau turun, kami urunan dulu. Berapa terkumpul, segitulah yang berangkat" Herman mengakui.

Tapi semua percuma. Suara mereka tetap berada di pinggiran, seperti ada tembok penghalang. Unjuk rasa di Jakarta bukannya berbuah headline, pulang-pulang dari aksi mereka malah disambut dengan beragam aduan. Mereka dilaporkan dengan pasal penggelapan, keterangan palsu sampai UU ITE.

Yang dikhawatirkan akhirnya terjadi. Tidak lama setelahnya, bergantian Buderana dan Halim ditahan. Sepintas kasus mereka memang tidak berkaitan dengan perlawanan petani Bekambit. Tapi bagi warga yang mereka bela artinya hanya satu: hilangnya ujung tombak pergerakan.

"Minta pertolongan kepada siapa lagi selain kepada Bapak Presiden? Ketua transmigrasi dipenjara, pengacara yang membela tanah kami juga dipenjara,” kata Supriadi warga trans, dalam sebuah video yang kemudian viral.

Gundah.

Herman yang ketika itu baru menikah di 2020, memutuskan untuk kabur. Ia membawa istri dan anaknya yang masih balita angkat kaki meninggalkan Kotabaru.

"Ada yang laporkan saya pakai pasal karet UU ITE" wajahnya mengeras ketika mengenang kejadian itu.

Lalu, reduplah perlawanan Bekambit.

TERLUNTA-LUNTA


Sore merona di langit Pulau Dewata; angin bertiup pelan; kecipak air lembut membelai karang. Burung-burung camar terbang rendah, mencari mangsa sebelum pulang ke sarang untuk memberi makan anak-anaknya.

Di sudut jalan sebuah perkampungan pesisir, lelaki muda bercaping lebar melangkah tergesa-gesa. Bahu kaos lengan panjangnya sobek, memperlihatkan kulit legam terbakar matahari. Kepalanya menunduk, tangannya menjinjing keresek berisi beras dan telur. Di depan sebuah bedakan sempit, langkahnya semakin memburu. Dalam bedakan itulah istri dan anaknya menanti dengan perut lapar. 

"Dua ribu dua tiga, saya bertahan hidup jadi buruh penggali pasir," cerita Herman.

Meninggalkan Kotabaru, Herman berangkat ke Banjarmasin lalu diam-diam mencoba menghilangkan jejak ke dalam lautan manusia di ibukota Jakarta. Rencananya sederhana, sambil bersembunyi, sambil tetap berjuang. Ia sempat mengirim surat ke beberapa kementerian.

Sayangnya rimba beton bukan tempat ramah bagi pelarian. Dua bulan bersembunyi, dua bulan berhemat keras, akhirnya kekuatannya habis. Kalau melamar kerja, ia takut harus membuka lagi kartu identitasnya. Kalau kerja kasar, orang-orang sudah berebut —  sikut-sikutan. Nyaris tidak ada tempat.

Beberapa rekan menyarankannya hijrah ke Bali. Kabarnya di pulau masih ada beberapa kenalan. Dan tidak seperti Jakarta, di Bali masih mudah mendapatkan pekerjaan yang tidak membutuhkan syarat apapun selain kekuatan otot.

Setiap pulang kerja dari menggali pasir, istrinya sabar memilah lembar-lembar uang lusuh. Terkadang, kalau panggilan menggali tidak ada, suami istri terpaksa harus makan sekali dalam sehari. Semua harus hemat, yang penting buah hati aman, "semoga surga tempat istriku. Tak pernah sekalipun ia mengeluh."

Tapi cobaan tidak berhenti. Beberapa bulan di Bali, kabar duka datang dari kampung halaman istri. Mertua lelaki Herman telah berpulang.

Ketabahan perempuan muda itu akhirnya runtuh juga. Bahunya terguncang menahan duka. Bagaimana caranya bisa melihat wajah almarhum untuk terakhir kali? Jarak membentang seribu dua ratus kilometer.

Saat mereka sudah putus asa, tiba-tiba datanglah bantuan. Seorang rekan mengirimkan tiket elektronik. Hanya untuk satu orang. Seperti terbang Herman mengantar istrinya ke bandara. Namun takdir rupanya sudah berkehendak. "Pemakaman jam dua siang, istri saya baru sampai jam lima sore ke rumah duka."

Tak sempat jua perempuan malang itu melihat wajah ayahnya untuk yang penghabisan.

KESETIAAN


Herman lupa persis waktunya. Tapi kejadiannya siang hari, ketika ia sedang asyik memindahkan pasir ke dalam bak truk. Teleponnya berdering, sebuah panggilan video. Melihat wajah di layar hape, ia langsung melepas caping dan melempar sekop dari tangannya.

Wajah itu. Wajah cucu mantri tani Bekambit. Wajah Hafidz Halim.

Dalam sambungan video, Halim memperlihatkan sebuah bangunan besar kusam berkelir abu-abu. Tertulis besar di atasnya: Lembaga Permasyarakatan Kotabaru.

"Aku sudah bebas! Kamu, bagaimana?" Halim nyengir.

Herman ingat, wajah Halim ketika itu pucat kurang sinar matahari, dan badannya lebih kurus. Hanya senyumnya yang masih sama: bibirnya terbuka lebar memperlihatkan deretan gigi rapi, matanya menyipit.

"Lho, kamu jadi kuli sekarang?" ganti Halim yang kaget ketika Herman memperlihatkan kondisinya.

Seperti takdir. Tidak lama berselang, juga terdengar kabar. Buderana pun telah menghirup udara dari luar jeruji besi.

Awal 2024 pemerintah merevisi UU ITE, beberapa teknis berubah. Pencemaran nama baik jadi delik aduan absolut: pelapor harus korban. Pasal onar: harus ada kerusakan di lapangan, tidak cukup mengandalkan gaduh di medsos. MK memperkuatnya di 2025: kritikan untuk kepentingan publik tidak dapat dibawa ke meja hijau. Herman memutuskan pulang. Lengkaplah sudah formasi awal.

Tidak ada waktu reuni, tidak ada perayaan. Wajah Bekambit nyaris tidak dapat mereka kenali. Tanah yang dahulu hijau oleh rimbun kelapa kini terkupas menganga. Bekas alat berat meninggalkan bentangan luka. Mobil-mobil perusahaan lalu lalang membawa debu, meninggalkan cemburu.

Kunjungan petugas pemerintah ke lokasi tambang di Bekambit | FOTO: IST
Lapangan kerja? Nampaknya hanya manis dalam berita. Apa mau diharap? Faktanya sudah jelas, tambang adalah industri padat modal, bukan padat karya. Petani-nelayan hanya menonton. Kalau beruntung tempat mereka di perusahaan paling-paling hanya wakar.

"Penderitaan kami tidak ada apa-apanya dibanding mereka yang harus bertahan, dalam tekanan dalam keterbatasan," mata Herman memerah.

Tungku bakar perlawanan kembali menyala. Berkas-berkas lama dikumpulkan, bukti-bukti baru disusun ulang. Protes-protes kembali disuarakan.

Apresiasi publik mengalir. Herman didaulat menduduki posisi Ketua Pemuda Tani Indonesia cabang Kotabaru. Halim dipercaya menjabat Sekretaris HAPI (Himpunan Advokat Pengacara Indonesia) DPD Kalsel. Tokoh-tokoh senior di provinsi dan Jakarta turun gunung membantu. Perubahan peta politik era Prabowo sedikit banyak ikut mempermudah pergerakan.

Kisah perjuangan mereka menginspirasi generasi baru. Gen Z ikut bergabung. Ketua DPC ARUN (Advokasi Rakyat Untuk Nusantara) Kotabaru, Wahid Hasyim yang masih belia turun membawa praktisi hukum muda. Bergandengan dengan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Kotabaru.

"Sungai ditutup, demi jalan tambang! Nelayan harus memutar!" kecam Wahid dalam unjuk rasa di depan kantor DPRD Kotabaru, November silam.

Generasi muda yang terinspirasi perjuangan Bekambit ikut turun ke jalan. Wahid Hasyim melakukan orasi di depan kantor DPRD Kotabaru | FOTO: IST

MENGADU


Matahari membakar siang awal Februari 2026. Puluhan orang berdiri di atas hamparan gersang, bekas kupasan alat berat. Urat lengan tua mereka bertonjolan; mengacung-acungkan sertifikat lahan.

"Bapak Presiden, lahan kami sudah diginikan! Tolong kami rakyat kecil!” kata Nyoman Darpada sambil memperlihatkan sertifikatnya.

Perempuan itu histeris di depan kamera.

"Suami saya sudah meninggal. Diginikan tanah saya bagaimana. Mohon kebijakan dari Bapak Presiden!"

Darpada mengusap mata dengan ujung kerudung. Orang-orang terisak.

Nyoman Darpada menangis sembari memperlihatkan sertifikat lahan yang sekarang sudah gersang akibat eksploitasi tambang | FOTO: IST
"Pandangan saya mengabur. Saya tidak bisa melihat lagi layar hape," kata seorang pemuda yang merekam aksi tersebut.

Sebelum rekaman video meledak. Akhir 2025, Kementerian Transmigrasi telah menurunkan tim investigasi. Hasil temuan lapangan: ada pelanggaran berat.

"Ada penyerobotan tanah yang dilakukan PT SSC, sehingga merugikan banyak pihak,” kata analis Kementerian Transmigrasi Elya Rifia.

Tanggal 10 Februari, sehari setelah video viral, Menteri ATR BPN Nusron Wahid angkat suara. Nusron bilang, keputusan BPN Kalsel membatalkan sertifikat petani transmigrasi adalah kesalahan prosedur. Setelah meminta maaf, ia berjanji akan segera mengembalikan hak petani.

"Langkah pertama, kami akan menghidupkan kembali sertifikat tersebut. Artinya, mencabut, membatalkan Surat Keputusan (SK) Pembatalan Sertifikat Hak Milik. Kedua, membatalkan Sertifikat Hak Pakai (perusahaan) yang sudah kadung terbit,” ujarnya.

Pemerintah pusat juga melarang PT SSC kembali melakukan kegiatan pertambangan di Pulau Laut masalah dengan warga selesai. Namun hingga artikel ini diturunkan, permasalahan masih berputar-putar di atas meja.

ANAK PETANI


Suara orang mengaji lapat-lapat mulai terdengar dari surau. Seorang bocah duduk di atas traktor. Tangannya bergerak-gerak riang, rambutnya bersinar keemasan oleh cahaya senja Ramadhan.

Herman, satu tangannya mengepit anaknya, tangan yang lain mengendalikan kemudi traktor. Sore itu, ia membuat jalur parit areal pertanian yang masih tersisa.

Sesekali pandangannya mengarah ke belakang desa. Di sana, di atas perbukitan, hijau dan keruh danau-danau raksasa sisa galian tambang, seperti kudis raksasa yang bernanah menganga menatap langit. Bagaimana nanti masa depan anaknya, masa depan anak-anak Bekambit?

Lubang raksasa bekas tambang di Bekambit | FOTO: RENDY TISNA/MONGABAY INDONESIA
Ingatan Herman melayang ke masa dirinya masih remaja. Bermain petak umpet di belakang desa. Permainan yang membawa anak-anak ke dalam semak-semak kebun warga, memanjati pohon-pohon buah. Atau kadang menangkap ayam, membakarnya di tempat-tempat rahasia, lalu keesokan harinya mereka cekikian mendengar kabar seorang tua misuh-misuh ayam jagonya hilang satu.

Malam hari, ketika rembulan bundar sempurna, Herman dan kawan-kawan kecilnya biasa berbaring di rumput lapangan tengah desa. Berbisik pelan tentang anak gadis siapa paling cantik. Sementara tangan mereka sibuk memain-mainkan rumput, kadang mencabutnya, dan memasukkan batang bawahnya ke dalam mulut. Tiba-tiba, terdengar pekikan ngeri, "asu! ono telle weddus!" Tanpa sadar, Herman tersenyum ketika mengenang itu semua.

Tak terasa, cahaya di langit mulai melindap. Ayah beranak pulang ke rumah. "Bagaimana, suka jadi petani?" tanya Herman. Si bocah hanya menjawab dengan sisa tawa — belum hilang gembiranya bermain di atas traktor. (*)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.