![]() |
| Deddy Sophian. (FOTO: JURNAL BANUA) |
JURNALBANUA.COM, BANJARMASIN - Peta kepemimpinan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Banjarmasin mulai menunjukkan arah yang semakin jelas. Dinamika yang sempat ramai dengan banyak nama kini perlahan menyempit, menyisakan dua figur yang dinilai paling siap bertarung memperebutkan kursi Ketua DPC.
Kursi yang ditinggalkan Hilyah Aulia bukan sekadar jabatan struktural. Posisi ini menjadi kunci dalam menentukan arah politik PKB di Kota Banjarmasin lima tahun ke depan. Seiring waktu, suhu persaingan yang sebelumnya hangat kini mulai mendingin, berganti dengan kontestasi yang lebih terukur.
Awalnya, sejumlah nama sempat mencuat ke permukaan. Feri Hidayat, Rahman Nanang Riduan, Deddy Sopyan, hingga Zainal Hakim disebut-sebut sebagai kandidat potensial. Mereka merupakan wajah-wajah yang saat ini duduk di DPRD Kota Banjarmasin dan memiliki basis dukungan masing-masing. Namun, dinamika internal partai bergerak cepat.
Hilyah Aulia kini mengalihkan fokusnya ke level yang lebih tinggi sebagai Sekretaris DPW PKB Kalimantan Selatan. Di saat yang sama, Feri Hidayat dan Rahman Nanang Riduan dikabarkan belum mengambil langkah maju. Situasi ini membuat peta persaingan semakin mengerucut pada dua nama: Deddy Sopian dan Zainal Hakim.
Di tengah mengerucutnya bursa kandidat, Deddy Sopian tampil dengan pendekatan yang lebih menenangkan. Ia mengajak seluruh kader untuk melihat kontestasi sebagai bagian dari proses demokrasi internal yang sehat, bukan ajang perpecahan.
“Lima calon itu semuanya siap. Di PKB, semua kader punya kesempatan yang sama,” ujarnya, Senin (6/4/2026).
Bagi Deddy, Musyawarah Cabang (Muscab) bukan sekadar agenda formal, tetapi menjadi panggung penilaian terakhir atas kesiapan dan komitmen para kandidat. Ia juga menegaskan pentingnya menjaga suasana kompetisi tetap kondusif hingga proses selesai.
“Siapapun yang terpilih nanti, tidak ada lagi kubu-kubuan. Semua kembali bersatu untuk membesarkan PKB,” tegas Wakil Ketua Komisi I ini.
Lebih jauh, ia langsung mengarahkan pandangan pada pekerjaan rumah yang menanti kepengurusan mendatang. Ia menekankan pentingnya memperkuat konsolidasi internal sebagai fondasi utama. Struktur partai dari tingkat DPC, PAC hingga ranting harus bergerak dalam satu irama.
Deddy juga memasang target elektoral yang lebih tinggi. Ia mendorong seluruh kader bekerja lebih agresif untuk meningkatkan perolehan suara sekaligus menambah kursi legislatif pada pemilu berikutnya. Baginya, kekuatan politik tidak hanya ditentukan oleh figur, tetapi juga soliditas organisasi.
“Kami ingin capaian elektoral meningkat, sejalan dengan bertambahnya kursi di legislatif,” katanya.
Di sisi lain, ia melihat masa depan PKB sangat bergantung pada keberhasilan merangkul generasi muda. Ia menilai kelompok pemilih usia produktif sebagai kekuatan besar yang belum tergarap maksimal.
Dengan pendekatan yang lebih terbuka, ia mendorong partai hadir sebagai ruang aspirasi yang relevan bagi mahasiswa, pemilih pemula, hingga komunitas anak muda di Kota Banjarmasin.
“Kami akan merangkul anak muda, mahasiswa, hingga pemilih pemula agar PKB menjadi wadah aspirasi yang relevan,” tandasnya.
Kini, menjelang Muscab, sorotan tertuju pada dua nama yang tersisa. Di balik persaingan itu, ada harapan besar agar PKB tidak hanya melahirkan pemimpin baru, tetapi juga memperkuat langkah politiknya di Banjarmasin. Kontestasi boleh berakhir dengan satu pemenang, namun pekerjaan besar sesungguhnya baru saja dimulai.(saa/jb)
