![]() |
| Sepuluh penulis muda dari berbagai daerah di Indonesia yang terpilih mengikuti MTN Lab Wabul Sawi Festival 2026 | FOTO: Wabul Sawi for Jurnal Banua |
Sepuluh penulis muda sore nanti berkumpul di Banjarbaru. Mereka datang dari penjuru nusantara. Membawa kegelisahan juga harapan. "Sastra tidak bisa netral, dia harus berpihak," kata Rafii Syihab berapi-api.
JURNALBANUA.COM, BANJARBARU - Sebanyak 192 penulis muda mengirimkan naskah mereka ke meja Wabul Sawi. Sastrawan Kanti W Janis dan Sandi Firly kemudian menyaringnya menjadi sepuluh karya terbaik.
“Kesepuluh penulis ini akan datang ke Banjarbaru untuk mengikuti seluruh rangkaian kegiatan masterclass dan residensi,” ujar Direktur Wabul Sawi Hudan Nur, Sabtu (23/5/2026).
Di Banjarbaru nanti, para peserta akan mengikuti kelas intensif bersama mentor sastra nasional seperti Kurnia Effendi, Dadang Ari Murtono, dan Mutia Sukma. Mereka juga akan didampingi para fasilitator, yakni Wien Muldian, HE Benyamine, dan Bumi B. Ibra.
Selama tiga hari, para peserta bukan hanya mendapat pelatihan teknik menulis. Mereka juga akan diajak turun langsung ke lapangan untuk melihat dari dekat berbagai persoalan, agar karya yang dihasilkan lebih kontekstual.
“Dengan demikian, pengalaman empiris itu tidak hanya menjadi catatan, tetapi juga diolah menjadi cerpen yang mampu membangkitkan kesadaran dan mendorong kebijaksanaan dalam menjaga bumi,” ujar Hudan, yang juga dikenal sebagai penyair.
Ia menambahkan, pendampingan kepada penulis muda akan terus dilakukan hingga karya-karya peserta diterbitkan dalam bentuk buku.
“Hasil akhirnya nanti, karya-karya penulis akan dibukukan,” pungkas Hudan Nur.
Salah satu peserta, Rafii Syihab dari Kabupaten Banjar, mengatakan dirinya sejak awal tertarik mengikuti Promising Writers: MTN Lab Wabul Sawi Festival 2026 karena tema besar yang diusung adalah keberpihakan.
“Tema itu klasik, tapi memang setiap karya sastra semestinya memiliki keberpihakan. Entah itu terhadap persoalan di sekitar kita. Menurut saya, sastra memang tidak bisa netral, dia harus berpihak,” katanya.
Ia berharap kegiatan serupa terus digalakkan di Kalimantan Selatan.
Hal senada disampaikan Musa Bastara, peserta lainnya dari Banua. “Saat ini anak muda cenderung tertarik dengan karya sastra yang kontekstual. Dan saya beruntung bisa menjadi bagian dari program ini,” ujarnya.
Sekadar diketahui, program ini merupakan inisiatif Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang dikelola Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, bekerja sama dengan Wabul Sawi Festival.
Melalui berbagai inisiatifnya, MTN Seni Budaya bertujuan menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, serta menghubungkan talenta dengan peluang pengembangan kapasitas dan akses pasar, baik nasional maupun global.
Sebelumnya, MTN Lab x Wabul Sawi Festival 2026 telah membuka panggilan terbuka bagi penulis dari seluruh Indonesia untuk mengirimkan karya cerita pendek pada 1–25 April 2026.
Sebanyak 192 karya cerpen diterima dalam program ini. Setelah melalui proses kurasi, terpilih sepuluh penulis, yakni Endry Sulistyo (Samarinda), Windy Joana (Sulawesi Selatan), Rafii Syihab (Kalimantan Selatan), Serli Ariska (Kalimantan Tengah), Arif Kurniawan (Bengkulu), Adjie Valeria Christiasih (Kutai Kartanegara), Rizky Riawan Nursatria (Jawa Tengah), Tiara Karina (Banjarmasin), Ginanjar Teguh Iman (Magelang), dan Musa Bastara (Banjar). (zal)
