Dialog Ratusan Warga di Polres Tanbu, HMI Ungkap Keberadaan Radikalisme, Habib Husin Sebut 1000 Anggota Aktif - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dialog Ratusan Warga di Polres Tanbu, HMI Ungkap Keberadaan Radikalisme, Habib Husin Sebut 1000 Anggota Aktif

Dialog Ratusan Warga di Polres Tanbu, HMI Ungkap Keberadaan Radikalisme, Habib Husin Sebut 1000 Anggota Aktif

Kapolres Tanah Bumbu AKBP Sugianto Marweki saat memberikan keterangan kepada wartawan usai acara dialog paham radikalisme bersama ratusan warga di Mapolres Tanah Bumbu, Kamis (17/10) | Foto: Jurnal Banua

JURNALBANUA.COM, TANAH BUMBU - Bukan tanpa alasan Polres Tanah Bumbu menggelar dialog lintas sektoral terkait radikalisme jelang pelantikan Joko Widodo. Dalam pertemuan di aula Mapolres, warga dan mahasiswa menyebut ada bibit radikal di Tanah Bumbu yang mulai bergeliat.

Kepada Jurnal Banua, Ketua HMI Tanah Bumbu, Teguh Gunawan, mengaku sedang mendalami sebuah aktivitas kelompok agama di daerah pelosok Tanah Bumbu.

"Mereka bergerak ke arah sana (pergantian sistem negara). Kami sedang selidiki. Jika data nanti sudah cukup, akan kami bawa ke aparat hukum," ujar Teguh.

Teguh menegaskan, HMI di Tanah Bumbu bukan barisan NU atau Muhammadiyah. "Sering orang salah kaprah. Bukan. Kami adalah murni pegerakan mahasiswa Islam, tanpa terkait dengan NU atau Muhammadiyah," bebernya.

Keberadaan kelompok-kelompok yang diduga radikal juga dibenarkan Ketua Pemuda Anshor Tanah Bumbu Amirullah. Ia yang saat itu mengenakan pakaian jas hijau menegaskan, dialog lintas sektoral yang digelar Polres Tanah Bumbu jangan berhenti di ucapan deklarasi saja.

"Tapi harus ada aksi-aksi ke depan. Karena begini, paham radikal itu bisa ditangkal kalau warga dan anak muda kita punya dasar pemahaman agama yang kuat," tekannya.

Menurut Amirullah, semua elemen. Baik itu polisi, guru atau ulama, mesti bahu-membahu menanamkan dasar agama yang kuat kepada warga. "Lebih khusus anak-anak usia sekolah. Karena radikalisme itu masuk ke mereka yang awam dengan agama," bebernya.

Sementara itu, mahasiswa Politeknik Tanah Bumbu M Helmi dan mahasiswi STIKES Darul Azhar Tanah Bumbu Dina Mardiana, meminta agar polisi lebih sering masuk ke kampus.

"Acara seperti ini sebaiknya digelar juga di kampus-kampus. Jadi teman-teman kami yang lain juga bisa berdialog. Seperti apa itu pergerakan paham radikal misalnya," kata Helmi.

Namun kata Dina, meski disebut-sebut paham radikal disasarkan oknum-oknum ke kampus-kampus, di STIKES akunya belum terlihat ada gelagat itu. "Kalau di kampus kami sih, masih aman ya, saya lihat," akunya.

Ketua HMI Tanah Bumbu Teguh Gunawan (kiri), mahasiswa Politeknik Tanah Bumbu M Helmi (dua dari kiri), mahasiswi STIKES Darul Azhar Dina Mardiana (dua dari kanan) dan Ketua GP Anshor Tanah Bumbu Amirullah (kanan)



Apa kata tokoh agama di Tanah Bumbu? Kepada Jurnal Banua di Mapolres Tanah Bumbu, pengasuh Majelis Taklim Al Khairaat, Habib Husin bin Anis al Jufry, juga mengakui adanya pergerakan paham radikal di Tanah Bumbu.

"Mohon maaf. Wartawan pun saya lihat ada yang terpapar," ujarnya.

Dari data Habib Husin, sedikitnya ada 1000 anggota aktif yang diduga terpapar. "Mereka itu suka menyalah-nyalahkan. Misalnya, menyalahkan ziarah, maulid, dan lain sebagainya," ungkap Habib Husin.

Anggota mereka, lanjut Habib, terus bertambah. "Karena mereka suka menyalahkan, maka kemudian timbul perpecahan. Bahkan antar umat beragama," tekannya.

Solusinya, kata Habib Husin, semua harus berlapang dada. "Janganlah saling menghakimi," ucapnya.

Habin Husin al Jufry saat diwawancara awak media di Mapolres Tanah Bumbu, Kamis (17/10) | Foto: Jurnal Banua



Bahkan lanjut Habib, terhadap kaum terpapar radikalisme pun jangan menyikapi dengan keras. "Kita bimbing mereka pelan-pelan. Perlu kerja keras semua memang," tandasnya.

Ditanya semua soal itu, Kapolres Tanah Bumbu AKBP Sugianto Marweki mengatakan, semua informasi dari masyarakat akan mereka dalami. "Sejauh mana dan seperti apa mereka di lapangan, coba nanti kita dalami," ujarnya.

Sugianto menambahkan, dialog lintas sektoral membahas radikalisme di Tanah Bumbu, bertujuan untuk menyamakan presepsi. Apa itu paham radikal dan bagaimana cara penanggulangannya.

"Tentu kami sepakat, giat ini tidak hanya sampai di sini. Mengenai permintaan agar kami aktif ke sekolah-sekolah, itu sudah kami lakukan, dan akan kami tingkatkan."

Pun begitu, dari data yang dia dalami sementara, Tanah Bumbu masih masuk kategori daerah yang aman dan kondusif. "Tapi kita juga tidak boleh lengah. Sekecil apapun informasi, silakan masyarakat sampaikan kepada kami," pintanya.

Kapolres Tanah Bumbu AKBP Sugianto Marweki memberikan sambutan | Foto: Jurnal Banua

Sekadar diketahui, ratusan warga meluber di aula Mapolres Tanah Bumbu, Kamis (17/10) pagi tadi. Mereka datang atas undangan dari kepolisian.

Banyak narasumber yang hadir. Mulai dari Pemkab Tanah Bumbu, unsur TNI Polri, tokoh agama, adat, masyarakat dan tokoh pemuda, serta wartawan.

Usai dialog, warga kemudian menggelar deklarasi menolak paham radikal di Tanah Bumbu. Mereka juga deklarasi mendukung kemanan di daerah jelang pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden RI. (JB)



Space Iklan

Tags

Posting Komentar