Jembatan Jafri Zam-Zam Dikebut, Oprit Jadi Perhatian agar Tak Jadi Masalah Baru

Ketua DPRD Banjarmasin bersama Komisi III meninjau progres pembangunan Jembatan Jafri Zam-Zam. (FOTO:JURNAL BANUA)


JURNALBANUA.COM, BANJARMASIN – Deru pekerjaan pembangunan terdengar di kawasan Jalan Jafri Zam-Zam, Banjarmasin. Di tengah aktivitas warga yang terus berjalan, sebuah akses baru perlahan mulai terbentuk: Jembatan Jafri Zam-Zam yang nantinya menghubungkan Jalan Jafri Zam-Zam dengan Komplek DPR.

Pembangunan jembatan tersebut kini menunjukkan perkembangan cukup menggembirakan. Memasuki tahap pengerjaan saat ini, progres fisik telah mencapai sekitar 30 persen, atau lima persen lebih cepat dibanding target yang ditetapkan sebelumnya sebesar 25 persen.

Capaian itu terlihat saat pimpinan DPRD Banjarmasin bersama Komisi III turun langsung meninjau lokasi pembangunan.

Ketua DPRD Banjarmasin Rikval Fachruri mengatakan, hasil peninjauan menunjukkan pekerjaan berjalan sesuai harapan. Bahkan, capaian kontraktor sudah berada di atas jadwal yang ditentukan.

“Artinya, dari target 25 persen, sekarang sudah mencapai 30 persen. Ada kelebihan kurang lebih 5 persen. Saya pikir ini sudah mencukupi dan sangat baik,” ujar Rikval.

Namun, bagi DPRD, kecepatan pengerjaan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan proyek. Ada hal lain yang tak kalah penting, yakni bagaimana pembangunan tersebut tetap berjalan berdampingan dengan aktivitas masyarakat.

Lokasi proyek berada dekat dengan permukiman warga dan masjid. Karena itu, Rikval meminta pelaksana pembangunan tidak hanya fokus mengejar progres, tetapi juga membangun komunikasi dengan masyarakat sekitar.

“Ketika ini masih dalam tahap pengerjaan, jangan sampai mengganggu kegiatan warga. Apalagi di sini bersebelahan dengan masjid. Tentunya harus dikomunikasikan dan dikoordinasikan dengan baik,” katanya.

Harapannya sederhana: pembangunan berjalan cepat, tetapi aktivitas masyarakat tetap nyaman.
Jangan Sampai Oprit Menjadi Persoalan Baru
Perhatian lain datang dari Komisi III DPRD Banjarmasin. Ketua Komisi III M Ridho Akbar menyebut progres pembangunan saat ini sudah berada sekitar lima persen di atas time schedule.

Menurutnya, pihak pelaksana dan Dinas PUPR Banjarmasin bahkan optimistis proyek tersebut dapat selesai lebih cepat dari masa kontrak yang berakhir pada November.

“Dalam peninjauan Komisi III bersama pimpinan DPRD, konsultan perencana menjelaskan bahwa time schedule yang dilaporkan hari ini sudah plus 5 persen. Pelaksana maupun Dinas PUPR juga optimistis pekerjaan selesai lebih cepat dari waktu berakhirnya kontrak di bulan November,” ujar Ridho.

Meski demikian, Ridho mengingatkan satu bagian yang kerap luput dari perhatian: oprit jembatan, yakni akses jalan yang menghubungkan badan jembatan dengan jalan di sekitarnya.

Bagian ini dinilai penting karena pengalaman di sejumlah lokasi menunjukkan bahwa persoalan tidak selalu muncul pada badan jembatan. Justru akses menuju jembatan bisa menjadi sumber keluhan apabila kemiringan atau ketinggiannya tidak sesuai dengan kondisi masyarakat yang melintas.

Ridho tak ingin hal serupa kembali terjadi di Jafri Zam-Zam. “Kita berharap pada saat pekerjaan selesai, oprit jembatan yang sering bermasalah dengan masyarakat bisa diantisipasi dari awal. Jangan sampai oprit selesai, kemudian masalah baru muncul,” tegasnya.

Ia bahkan mengingatkan pengalaman di kawasan Simpang Ulin, ketika oprit yang terlalu tinggi sempat menjadi persoalan bagi masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat kembali ribut seperti yang terjadi di Simpang Ulin. Di sana terlalu tinggi sehingga kembali menjadi masalah bagi masyarakat. Kita sudah membangun dengan anggaran daerah, jangan sampai setelah selesai malah muncul masalah lagi,” ujarnya.

Karena itu, Komisi III memastikan pengawasan tidak berhenti pada saat proyek mencapai target progres. Pembangunan akan terus dipantau hingga jembatan benar-benar selesai dan dapat digunakan masyarakat.

Dari sisi pemerintah kota, Dinas PUPR Banjarmasin juga melihat progres 30 persen tersebut sebagai perkembangan positif.

Kepala Dinas PUPR Banjarmasin Chandra mengatakan, sejak awal pihaknya memastikan proyek berjalan dengan tiga prinsip utama: tepat waktu, tepat mutu, dan tepat sasaran.

“Yang kami lakukan sebelum kegiatan ini dilaksanakan tentunya untuk melihat beberapa prinsip, yakni tepat waktu, mutu, dan sasaran. Tadi juga sudah disampaikan pihak pelaksana bahwa hari ini progresnya sudah mencapai 30 persen,” kata Chandra.

Semula, pembangunan ditargetkan selesai pada awal Desember. Dengan progres yang berada di atas jadwal, PUPR berharap waktu penyelesaian bisa dimajukan menjadi akhir November.

“Semula kita targetkan selesai awal Desember. Mudah-mudahan bisa ditarik ke akhir November sehingga setelah selesai dapat dimanfaatkan masyarakat pengguna jalan di sini,” ujarnya.

Tetapi mengejar waktu tidak berarti mengorbankan kenyamanan pengguna jalan.
Masukan mengenai oprit juga menjadi perhatian PUPR. Chandra memastikan desain akses menuju jembatan telah dibuat lebih landai sehingga tidak menimbulkan kemiringan yang terlalu curam.

“Tentunya tadi kami mendapat beberapa masukan agar oprit ini tidak curam. Desainnya memang sudah dibuat landai sehingga masyarakat bisa nyaman lewat sini,” pungkasnya.(saa/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.