![]() |
| Ketua DPRD Banjarmasin, Rikval Fachruri. (FOTO:JURNAL BANUA) |
JURNALBANUA.COM, BANJARMASIN – Denyut kehidupan di kawasan Kubah Guru Zuhdi tak pernah benar-benar sepi. Setiap pekan, bahkan pada momen-momen tertentu, ribuan peziarah dari berbagai daerah datang untuk berziarah dan mengikuti kegiatan keagamaan. Namun, di balik ramainya kunjungan itu, masih tersimpan sejumlah persoalan infrastruktur yang dirasakan langsung oleh warga.
Persoalan tersebut mencuat saat kegiatan Penelaahan dan Aspirasi Masyarakat (Reses) Ketua DPRD Kota Banjarmasin, Rikval Fachruri di RT 5, Kelurahan Antasan Kecil Timur. Warga memanfaatkan kesempatan itu untuk menyampaikan kebutuhan yang dinilai mendesak agar kawasan wisata religi tersebut semakin nyaman bagi masyarakat maupun para jemaah.
Dalam dialog bersama warga, berbagai usulan mengemuka. Mulai dari pelebaran jalan, penyediaan lahan parkir, peninggian badan jalan agar tidak lagi terendam saat banjir, hingga pembangunan dermaga sebagai jalur transportasi alternatif.
Menurut Rikval , kawasan Kubah Guru Zuhdi memiliki peran penting sebagai salah satu tujuan wisata religi terbesar di Banjarmasin. Karena itu, pembangunan infrastruktur tidak boleh hanya berorientasi pada kebutuhan warga sekitar, tetapi juga harus mampu melayani para pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
"Setiap kegiatan haul maupun ziarah, jemaah datang bukan hanya dari Kota Banjarmasin. Banyak yang berasal dari berbagai kabupaten di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, bahkan dari luar Pulau Kalimantan. Karena itu, infrastruktur di kawasan ini memang harus terus diperkuat," ujarnya.
Politikus Golkar ini menjelaskan, peningkatan infrastruktur harus dilakukan secara menyeluruh, baik melalui jalur darat maupun jalur sungai. Untuk akses darat, warga mengusulkan pelebaran jalan, pembangunan area parkir, serta peninggian ruas jalan yang selama ini kerap tergenang ketika banjir datang.
Sementara itu, pada sektor transportasi sungai, warga berharap pemerintah membangun dermaga di beberapa titik, seperti di RT 1, RT 7, dan RT 8. Dermaga tersebut diharapkan dapat menjadi jalur alternatif ketika kemacetan terjadi di akses darat, terutama saat pelaksanaan haul atau kegiatan keagamaan berskala besar.
"Dermaganya tidak harus besar. Yang penting cukup aman dan nyaman untuk menampung para jemaah. Bisa berupa dermaga apung ataupun dermaga berbahan kayu ulin," katanya.
Lebih jauh, ia menilai pengembangan kawasan Kubah Guru Zuhdi tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemerintah perlu menyusun konsep pembangunan yang terintegrasi agar potensi wisata di Banjarmasin mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.
Menurutnya, wisata religi harus dikaitkan dengan destinasi lain, seperti wisata kuliner, wisata belanja, hingga wisata sungai. Dengan begitu, para wisatawan tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi juga menikmati berbagai potensi yang dimiliki Kota Banjarmasin.
Ia mencontohkan, setelah berziarah ke Kubah Guru Zuhdi, pengunjung seharusnya sudah memiliki panduan yang jelas mengenai lokasi kuliner khas, pusat belanja tradisional maupun modern, hingga destinasi wisata lainnya.
"Harus ada peta pengembangan wisata yang saling terhubung. Setelah wisata religi, pengunjung bisa menikmati kuliner, berbelanja, lalu mengunjungi pasar terapung atau destinasi lain. Semua harus saling terkoneksi," jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa Banjarmasin memiliki identitas yang kuat sebagai Kota Seribu Sungai. Selain wisata religi, kota ini mempunyai pasar terapung yang menjadi ikon sekaligus daya tarik khas yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Potensi tersebut, menurutnya, harus dipadukan dalam sebuah blueprint pengembangan pariwisata yang terarah. Targetnya, wisatawan tidak hanya singgah selama beberapa jam, tetapi terdorong untuk tinggal lebih lama di Banjarmasin.
"Kalau seluruh potensi wisata itu terintegrasi, pengunjung bisa menghabiskan waktu tiga hingga tujuh hari di Banjarmasin. Semakin lama mereka tinggal, semakin besar pula perputaran ekonomi yang dirasakan masyarakat," pungkasnya.(saa/jb)
