Politik, Erez Main Mata dengan Petahana di Belakang TJR? - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Politik, Erez Main Mata dengan Petahana di Belakang TJR?

Politik, Erez Main Mata dengan Petahana di Belakang TJR?

Kiri ke kanan: Ketua DPRD Syairi Mukhlis, Erez dan SJA dalam sebuah kegiatan baru-baru tadi

Suhu politik di Saijaan semakin menghangat. Calon Ketua Nasdem Kotabaru, Risma Fakhrin, mulai wara-wiri mendekati beberapa kandidat Cabup, salah satunya petahana SJA.


JURNALBANUA.COM, KOTABARU - Dalam beberapa grup sosial media, jurnalis menemukan beberapa foto momeni keakraban Risma Fakhrin dan petahana Sayed Jafar Alaydrus (SJA). Bahkan di salah satu foto, Risma Fakhrin akrab disapa Erez mengacungkan dua jari bersama SJA.

Sebelumnya, Erez juga sempat terlihat berbincang lama dengan Sayed Jafar di kampus Politeknik Kotabaru. Mereka berdialog terkait pendidikan dan politik di daerah.

Ketua DPC Gerindra Kotabaru, Nur Aini Syahran saat itu mengatakan, Sayed Jafar dan Erez terlihat cocok berpasangan. Mendengar itu Sayed Jafar mengatakan, dirinya memang belum ada pasangan untuk maju ke Pilbup di 2020 nanti. "Semua tergantung partai nanti," ujarnya.

Ditanya soal kedekatannya itu, Erez kepada Jurnal Banua mengatakan, dirinya menjalin komunikasi dengan banyak tokoh politik. "Simbol dua jari itu, ya terserah publik lah. Kan artinya itu banyak, ada victory. Tapi itu artinya peace lah, damai," ujarnya.

SJA (kiri) dan Erez (kanan) mengacungkan simbol dua jari dalam sebuah pertemuan belum lama tadi



Menariknya, Erez yang merupakan anak Sekda Kasiani Nirsun zaman Bupati Sutejo itu adalah Humas PT BKW Group. Owner perusahaan konstruksi itu, adalah Tajerian Noor (TJR). Tajeri sendiri adalah salah satu nama yang masuk bursa Cabup di Kotabaru.

Ditanya soal itu, Erez mengatakan, pekerjaannya di BKW tidak ada kaitannya dengan politik.

"Kami profesional saja. Benar TJR itu Bos saya di perusahaan. Tapi di politik, ya semua dinamis. Gak ada masalah. Bahkan kalau pun nanti saya dan TJR berhadap-hadapan dalam persaingan Pilkada, tidak ada masalah," tekannya.

Erez menjelaskan lebih jauh, dia tertarik masuk bursa Pilkada karena ingin mengembangkan kampung halamannya. Utamanya di bidang infrastruktur, wisata dan olahraga.

"Di era SJA ini kita bisa lihat, infrastruktur mengalami peningkatan. Itu bagus dilanjutkan. Sebagai putra daerah, saya siap melanjutkan pembangunan itu," bebernya.

Kotabaru katanya, tidak akan bisa berkembang maksimal, jika jalan masih banyak yang rusak. "Kalau infrastruktur sudah baik semua, maka kegiatan ekonomi warga akan lancar."

Bagaimana tanggapan tokoh-tokoh di Kotabaru? Dirut Politeknik Kotabaru Ibnu Faozi mengatakan, model politik yang ditampilkan Erez, TJR dan SJA patut diapresiasi.

"Mesti begitu, demokrasi itu berbeda pilihan adalah hal biasa. Tidak perlu saling bermusuhan. Erez meski Humas BKW, dan main mata dengan petahana tapi tidak merusak hubungannya dengan TJR," ujarnya.

Erez merupakan Humas BKW, perusahaan yang dimiliki pengusaha Tajerian Noor (kanan)



Ibnu sepakat, jika Kotabaru ke depan mesti bersinergi. Semua tokoh-tokohnya. "Pilkada jangan lagi membuat kita terkotak-kotak. Karena itu akan menghambat pembangunan di daerah," tekannya.

Ia pun mendukung opini Guru Besar UMJ Prof Dr Syaiful Bakhri, bahwa Kotabaru sebaiknya menerapkan politik mufakat dalam Pilkada. Artinya, semua kandidat sepakat tidak main politik uang. Dan siapa pun yang menang harus merangkul yang kalah.

"Jadi hemat biaya. Dan yang paling penting, degan model begitu daerah akan kondusif," pungkas Ibnu.

Pada kesempatan lain, Ketua Dewan Adat Dayak Kotabaru, Sugian Noor mengatakan, salah satu kelemahan Kotabaru selama ini adalah kurang harmonisnya unsur pimpinan di daerah. Misalnya perseteruan kepala daerah dan wakilnya.

"Itu bisa dihindari, jika posisi wakil ditempati orang yang bukan dari kalangan politisi.  Perseteruan kan paling banyak terjadi karena ada matahari kembar di daerah," ujarnya.

Disinggung tentang pendapat Prof Dr Syaiful Bakhri terkait politik mufakat, dia mengatakan, untuk Kotabaru itu salah satu model yang baik diterapkan.

"Siapa pun nanti yang jadi kepala daerah, dia harus bisa mengedepankan aturan ASN, sistem merit dengan maksimal. Jadi nanti ASN akan patuh pada aturan, bukan pada kepentingan politik," tekannya.

Politisasi ASN kata Sugian, atau ASN yang bermain politik akan membuat daerah tidak kondusif. "Karena dalam politik, aturan mudah dipolitisasi untuk kepentingan politik." (JB)

Baca juga: Heboh..! Tajeri Bertemu Guru Besar Terkait Pilkada Kotabaru



Space Iklan

Tags

Posting Komentar