Dari Tanah Banua, Nilai Tambah untuk Indonesia

Petani mengangkut Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit hasil panen menggunakan gerobak sorong di kawasan perkebunan.


Menelusuri Jejak Hilirisasi Sawit dari Industri hingga Masyarakat Kalimantan Selatan

Oleh: Smara Aqdimul Azmi

Ketika Kekayaan Tak Lagi Pergi Mentah
Fajar baru saja menyingsing di tepian Sungai Barito. Kabut tipis masih menggantung ketika tongkang-tongkang bermuatan batu bara bergerak meninggalkan pelabuhan. Di jalan-jalan yang menghubungkan kawasan perkebunan, truk pengangkut tandan buah segar kelapa sawit juga terus bergerak menuju pabrik pengolahan.

Pemandangan itu telah lama menjadi bagian dari kehidupan Kalimantan Selatan. Dari perut bumi hingga hamparan perkebunan, tanah Banua menyimpan kekayaan alam yang melimpah. Batu bara, kelapa sawit, karet, hasil hutan, perikanan, hingga berbagai komoditas pertanian menjadi penyangga ekonomi daerah.

Namun, di balik kekayaan tersebut, ada pertanyaan yang lebih penting: seberapa besar manfaat kekayaan alam itu benar-benar tinggal di tanah tempat ia berasal?

Pertanyaan itu menjadi semakin relevan ketika pemerintah mendorong hilirisasi sumber daya alam. Sebab, ketika komoditas keluar dalam bentuk bahan mentah, sebagian proses penciptaan nilai berlangsung di tempat lain. 

Sebaliknya, ketika bahan baku diolah menjadi produk bernilai tambah di daerah asal, terbuka lebih banyak ruang bagi tumbuhnya industri, pekerjaan, jasa pendukung, dan aktivitas ekonomi lokal.

Pada kelapa sawit, misalnya, perjalanan ekonomi tidak berhenti ketika tandan buah segar keluar dari kebun. Buah sawit dapat diolah menjadi crude palm oil atau CPO, kemudian diproses lebih lanjut menjadi berbagai produk pangan, bahan baku industri, hingga biodiesel.

Di titik itulah hilirisasi menjadi lebih dari sekadar pembangunan pabrik. Ia menyangkut bagaimana sebuah daerah mengubah posisi dari pemasok bahan mentah menjadi bagian dari proses penciptaan nilai.

Tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: ketika nilai tambah tercipta di dalam kawasan industri, sejauh mana nilai tersebut ikut dirasakan oleh masyarakat yang berada di awal rantai produksi?

Untuk menjawabnya, perjalanan hilirisasi tidak cukup dilihat dari dalam pabrik. Ia harus ditelusuri hingga kebun dan kehidupan masyarakat yang memasok bahan bakunya.

Dari Sawit Menjadi Energi
Perubahan tersebut mulai terlihat di sektor kelapa sawit Kalimantan Selatan. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan, Suparmi, mengatakan hilirisasi sawit di daerah telah berjalan melalui keberadaan industri minyak goreng dan biodiesel.

“Untuk hilirisasi kelapa sawit di Kalimantan Selatan, saat ini sudah berjalan dengan adanya pabrik minyak goreng dan pabrik biodiesel,” ujar Suparmi, dikutip dari Media Center Kalimantan Selatan.

Perkembangan industri tersebut memperoleh momentum baru seiring kebijakan pemerintah meningkatkan pemanfaatan biodiesel berbasis sawit. Pada 2026, pemerintah menerapkan mandatori B50, yakni campuran biodiesel berbasis sawit dan solar dengan komposisi 50 persen biodiesel dan 50 persen solar.

Bagi daerah penghasil sawit seperti Kalimantan Selatan, kebijakan tersebut tidak hanya berbicara tentang energi. Di dalamnya terdapat peluang untuk memperpanjang rantai ekonomi komoditas sawit di dalam negeri.

Salah satu gambaran industri tersebut berada di Kabupaten Tanah Bumbu.
Di Desa Batu Ampar, Kecamatan Simpang Empat, beroperasi PT Jhonlin Agro Raya Tbk. Perusahaan tersebut mengembangkan industri pengolahan berbasis kelapa sawit, termasuk CPO, produk refinery, dan biodiesel. 

Perusahaan juga mencatat pengembangan fasilitas biodiesel dengan kapasitas output 1.500 ton per hari serta penyelesaian pabrik CPO berkapasitas input 60 ton per jam.
Di sini, sawit tidak lagi berhenti sebagai hasil kebun.

Tandan buah segar masuk ke dalam rantai industri, diolah menjadi CPO, kemudian dapat diproses lebih lanjut menjadi produk dengan fungsi dan nilai ekonomi berbeda. Dalam proses tersebut, tercipta pula kebutuhan terhadap tenaga kerja, transportasi, logistik, perawatan mesin, perdagangan, dan berbagai jasa pendukung lainnya.

Namun, keberadaan pabrik belum dengan sendirinya menjawab pertanyaan mengenai pemerataan manfaat.

Sebab, nilai tambah yang tercipta di kawasan industri belum tentu otomatis berubah menjadi pendapatan yang lebih baik bagi masyarakat di sekitarnya.

Dari Pabrik ke Kebun
Rantai hilirisasi sesungguhnya dimulai jauh sebelum bahan baku memasuki mesin pengolahan. Ia dimulai dari kebun.

Di Kabupaten Kotabaru, Pikal, 28 tahun, menjalani kehidupan sebagai buruh panen sekaligus petani sawit mandiri. Baginya, harga tandan buah segar bukan sekadar angka di atas kertas. Harga tersebut menentukan berapa banyak kebutuhan rumah tangga yang dapat dibawa pulang.

Karena itu, perkembangan industri biodiesel ia lihat sebagai sebuah harapan.
“Kalau Biodisel milik Haji Isam beroperasi besar, kemungkinan permintaan buah sawit juga banyak. Kami petani mandiri berharap harga bisa stabil. Syukur-syukur bisa naik,” ujar Pikal kepada jurnalbanua.com, Senin (17/8/2026)

Harapan Pikal memperlihatkan sisi lain dari hilirisasi yang sering kali luput dari pembicaraan tentang investasi dan pembangunan industri.

Bagi industri, hilirisasi berbicara mengenai kapasitas produksi, pasokan bahan baku, dan pasar. Bagi petani, hilirisasi dapat bermakna lebih sederhana: apakah hasil kebun mereka memiliki pasar yang lebih pasti dan harga yang lebih baik?

Di situlah keberhasilan hilirisasi diuji.
Industri memang membutuhkan bahan baku. Namun, hubungan antara industri dan petani tidak berhenti pada kebutuhan pasokan. Ada persoalan harga, kualitas, kontinuitas, akses pasar, posisi tawar, serta sejauh mana petani kecil dapat masuk ke dalam rantai pasok.
Karena itu, harapan tidak boleh disamakan dengan hasil.

Hilirisasi tidak otomatis membuat semua petani sejahtera. Manfaat tersebut bergantung pada bagaimana rantai pasok dibangun dan seberapa besar pelaku di bagian hulu dilibatkan.

Bagi Pikal, keberhasilan hilirisasi pada akhirnya bukan diukur dari seberapa besar pabrik berdiri, melainkan dari apa yang berubah di kebun: apakah pasar menjadi lebih pasti, apakah harga lebih stabil, dan apakah pendapatan petani ikut meningkat.

Ketika Nilai Tambah Menjadi Ekonomi Lokal
Jika rantai tersebut berjalan dengan baik, dampaknya tidak berhenti pada petani dan perusahaan.

Ada buruh yang memanen buah sawit. Ada sopir yang mengangkutnya. Ada pekerja yang menjalankan mesin. Ada teknisi yang merawat fasilitas produksi. Ada jasa logistik, perdagangan, hingga warung makan yang melayani aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Dengan demikian, hilirisasi berpotensi menciptakan efek berganda.

Tetapi kata “berpotensi” menjadi penting.
Sebab keberadaan aktivitas ekonomi belum otomatis berarti seluruh masyarakat memperoleh manfaat yang sama. Di sinilah data dan pengalaman masyarakat menjadi penting untuk mengukur apakah nilai tambah benar-benar menyebar keluar dari kawasan industri.

Badan Pusat Statistik mencatat perekonomian Kalimantan Selatan tumbuh 5,67 persen secara tahunan pada triwulan I 2026. Angka tersebut menunjukkan perekonomian daerah tetap tumbuh. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak berhenti pada angka.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi kesempatan ekonomi bagi masyarakat: pekerjaan bagi tenaga kerja lokal, pasar bagi petani, pelanggan bagi usaha kecil, dan ruang bagi pelaku usaha daerah untuk masuk ke rantai pasok industri.

Sebab ukuran keberhasilan hilirisasi tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak produk yang berhasil dihasilkan. Ia juga perlu dilihat dari siapa yang memperoleh manfaat dari proses tersebut.

Tantangan di Balik Pabrik
Hilirisasi membutuhkan lebih dari sekadar investasi. Industri memerlukan infrastruktur yang memadai, energi yang andal, logistik yang efisien, tenaga kerja terampil, dan rantai pasok yang mampu menjamin ketersediaan bahan baku.

Tanpa tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai, masyarakat lokal berisiko hanya menjadi penonton ketika industri tumbuh di wilayah mereka sendiri.

Karena itu, pembangunan industri perlu berjalan bersama dengan pembangunan manusia.
Pendidikan kejuruan perlu terhubung dengan kebutuhan industri. Pelatihan harus mengikuti perkembangan teknologi. Pelaku usaha kecil perlu mendapat ruang untuk menjadi bagian dari rantai pasok.

Jika tidak, hilirisasi dapat berhenti sebagai perubahan bentuk komoditas: bahan mentah yang sebelumnya keluar daerah kemudian diproses di dalam daerah, tetapi sebagian besar manfaat ekonominya tetap terkonsentrasi pada pelaku tertentu.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi bukan sekadar pertanyaan tentang apa yang diproduksi, melainkan juga tentang bagaimana nilai yang tercipta dibagikan.

Tidak Berhenti pada Sawit
Kalimantan Selatan memiliki kekayaan alam yang jauh lebih beragam daripada kelapa sawit.
Batu bara selama puluhan tahun menjadi bagian penting perekonomian kawasan. Selain itu, terdapat hasil pertanian, perikanan, kehutanan, dan berbagai komoditas lain yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pengolahan.

Prinsipnya sama.
Jagung tidak harus berhenti sebagai hasil panen, tetapi dapat masuk ke industri pakan. Singkong dapat diolah menjadi berbagai produk pangan. Hasil perikanan dapat diproses menjadi produk beku, fillet, maupun makanan siap saji.

Semakin panjang proses penciptaan nilai dilakukan di daerah, semakin besar peluang aktivitas ekonomi tumbuh di daerah tersebut.
Tetapi hilirisasi tidak boleh berubah menjadi sekadar perlombaan membangun industri.

Tujuannya bukan hanya agar bahan mentah berubah menjadi produk jadi. Tujuannya adalah agar proses tersebut menciptakan kemampuan ekonomi baru dan memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.

Sebab apabila bahan baku hanya berganti bentuk, sementara masyarakat di sekitar sumber daya tidak mengalami perubahan berarti dalam kesejahteraan, maka tujuan utama hilirisasi belum sepenuhnya tercapai.

Dari Tanah Banua untuk Indonesia
Di Sungai Barito, tongkang masih bergerak. Di Kotabaru, petani masih memanen sawit. Di Tanah Bumbu, mesin industri mengolah hasil perkebunan menjadi produk bernilai tambah.

Tiga pemandangan itu memperlihatkan satu perubahan penting: Kalimantan Selatan tidak lagi hanya berbicara tentang seberapa banyak sumber daya alam yang dapat dihasilkan, tetapi juga tentang seberapa besar nilai yang dapat diciptakan dari sumber daya tersebut.

Namun, perjalanan itu belum selesai.
Hilirisasi masih harus menjawab pertanyaan yang lebih penting: siapa yang menikmati nilai tambah itu?
Apakah petani memperoleh pasar yang lebih baik? Apakah pekerja lokal memperoleh pekerjaan dengan keterampilan dan pendapatan yang lebih baik? Apakah usaha kecil di sekitar kawasan industri masuk ke dalam rantai ekonomi? Dan apakah masyarakat yang hidup paling dekat dengan sumber daya alam benar-benar merasakan manfaat dari proses pengolahan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang pada akhirnya menjadi ukuran sesungguhnya.
Sebab keberhasilan hilirisasi bukan hanya ketika sebuah pabrik berdiri.

Keberhasilan itu terlihat ketika petani memiliki pasar, ketika anak-anak muda memiliki pekerjaan, ketika usaha lokal memiliki pelanggan, dan ketika daerah tidak lagi hanya mengirim bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah.

Bagi Pikal, manfaat itu mungkin sesederhana harga sawit yang lebih stabil. Bagi seorang pekerja, mungkin berupa pekerjaan yang lebih pasti. Bagi pelaku usaha kecil, mungkin berupa bertambahnya pelanggan. Bagi pemerintah daerah, mungkin berupa ekonomi yang lebih kuat dan beragam.

Semuanya bermuara pada satu hal: nilai tambah yang tidak lagi sekadar melewati Kalimantan, melainkan tumbuh di Kalimantan. Itulah makna hilirisasi yang sesungguhnya.
Bukan sekadar mengubah bahan mentah menjadi barang jadi, tetapi mengubah kekayaan alam menjadi kesempatan hidup yang lebih baik bagi manusia yang berada di dalam rantai produksinya.

Dari tanah Banua, nilai tambah itu ditanam.
Dan dari Kalimantan, manfaatnya diharapkan tumbuh untuk Indonesia.


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.