PERINTIS ATAU PENGIKUT

Arya dan Adi memeriksa masalah pada mesin jet ski (atau lebih tepatnya disebut Personal Watercraft / PWC), diperhatikan Penulis.


Yuri Muryanto Soedarno *

Sore itu, di ujung tahun 2025, seorang teman (Isnandar) yang pernah bekerja sebagai TKA di negeri jiran Malaysia dan juga pernah turut mengaduk semen pada pembangunan di IKN Nusantara itu bertandang silaturahmi ke rumah.
Selagi ngobrol ngalor-ngidul, berderinglah telepon seluler dari kontak seorang teman dari Bali yang berprofesi sebagai mekanik otomotif, berzodiak Aquarius yang kebetulan sama dengan saya.

Selanjutnya, tanpa rencana, berangkatlah kami ke rumahnya karena sudah cukup lama juga tidak bersua dan ngobrol-ngobrol.
Di bidang otomotif, Kadek Arya Wiyanta inilah yang saya kontak sebagai salah satu mentor nonformal saya bila ada trouble motor.

Sekitar 30 menit, sampailah saya di workshopnya yang bersebelahan dengan tempat tinggalnya.
Melihat saya di luar pagar yang terbuka, dia tersenyum lebar dan melambaikan tangan memberi kode untuk masuk.

Saat itu saya tertegun melihat kendaraan air terparkir di workshopnya; biasanya yang jadi pasien di workshopnya kebanyakan adalah mobil.
Sambil melihat, saya mendekat ke kendaraan air pribadi (Personal Watercraft/PWC) 700 cc.
Secara populer kendaraan air ini disebut "Jet Ski", walaupun sebenarnya "Jet Ski" adalah salah satu merek.

"Lho, bisa jadi dokter transportasi air juga ya?" tanya saya pada Arya (Kadek).

"Ya, sambil belajar juga, Mas," jawabnya sambil tersenyum, dengan kesan rendah diri.

Sementara itu, seseorang menimpali, "Bisa saja dia — yang servis jetski 1600 cc juga, bro ini juga, Mas," kata seseorang di sampingnya.

Yang akhirnya saya ketahui setelah berkenalan dengannya adalah bahwa dialah pemilik jet ski itu: namanya Adi Saputra dari Jawa Timur, yang pernah menjadi supplier alat-alat kelautan di Maluku.

Sebelumnya saya mengira sobat dari Bali ini ahli servis AC (air conditioner), karena saya pernah tahu dia memperbaikinya di rumah seseorang.

Saya juga sempat heran mengapa dia membangun workshop dan rumahnya justru jauh dari kota.
Akhirnya saya ketahui ternyata dia mempunyai strategi: membuka workshop di lintasan seputar usaha transportasi pengangkutan material bangunan dan perusahaan-perusahaan lainnya.
Sepertinya dia sudah menganalisis ke depan bahwa usahanya bakal berkembang bila jembatan penghubung dari pulau ini tersambung ke pulau terbesar nomor tiga di dunia.

Saya jadi ingat obrolan dengan Arya beberapa waktu di tahun 2024.

Andai ada dua tipe pengusaha.
Pengusaha yang pertama: akan membuka pabrik sandal dan sepatu walaupun masyarakatnya belum memakai sandal dan sepatu, meskipun awalnya harus perlahan mengajarkan literasi betapa pentingnya alas kaki.

Sementara pengusaha yang kedua: tidak akan membuka pabrik sandal dan sepatu pada suatu masyarakat yang belum memakai sandal dan sepatu.

Pilihan menjadi pengusaha tipe pertama atau kedua terserah, wajar, dan manusiawi; itu hak atas prediksi, kegigihan, serta keyakinan masing-masing.

Maka dia memilih tipe pengusaha yang pertama.

Ada suatu hal yang menurut saya agak unik: ternyata Arya pernah mengenyam kuliah di jurusan pariwisata.

Maka, bila berkelakar dengannya, saya mengatakan, "Makhluk aneh: jurusan pariwisata, program studi otomotif," kata saya sambil tersenyum.

Sebelum pamit, karena hari mulai mendung, saya berkelakar dengannya.

"Benar juga, bro — pariwisata juga perlu transportasi?" ujar saya sambil tertawa.

"Setuju, pariwisata dan transportasi perlu multitalenta; pulau ini juga punya multidimensi," katanya sambil tertawa pula.

*Penulis, akrab disapa Ceppe/Utuh Iyur, adalah alumni FISIP ULM; salah satu pelopor MPA Fisipioneer; pernah mengajar di SMK dan beberapa perguruan tinggi; serta pernah secara teamwork menjadi konsultan administrasi dan manajemen di beberapa perusahaan. Sekarang tinggal di Pulau Laut, mengerjakan apa yang dia suka — salah satunya menulis.*


Space Iklan

Tags :

bm
Admin

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.