Haji Rahmat: Dua Pesan Tertingal dari Saranjana dan Sebatung

KABUT HALIMUNAN: H Rahmat Trianto politisi Nasdem berdiri di atas kaki jembatan Pulau Laut yang sampai sekarang masih mangkrak | FOTO: IST
Di bawah rinai gerimis, adegan demi adegan tersibaknya halimunan Pulau Laut berkelindan di kepalanya. Purnawirawan tentara itu berdiri di kaki jembatan Pulau Laut, matanya tajam menatap daratan Kalimantan di depannya, pundaknya basah.

JURNALBANUA.COM, KOTABARU - H Rahmat Trianto yang setahun lalu telah menanggalkan tongkat komandonya mengatakan, pertikaian dua putra kerajaan yaitu Sambu Batung dan Sambu Ranjana boleh saja telah tersibak. Tapi kabut ekonomi, ketimpangan pembangunan masih menjadi halimunan yang memayungi kondisi warga Pulau Laut sekarang ini.

Contoh di depan mata ujarnya, adalah kondisi jalan lingkar di Pulau Laut yang sampai sekarang masih jauh dari kata layak dan efisien. Juga jembatan Pulau Laut yang seharusnya bisa mengantar percepatan, hingga kini yang terlihat hanya deretan tiang pancang yang mangkrak.

"Kabut halimunan telah tersibak dari Pulau Laut, tapi kabut keadilan pembangunan masih belum," tegasnya.

Haji Rahmat tidak habis mengerti, karena telah begitu banyak yang disumbangkan daerah ini untuk mengisi kas negara. Sumber daya alam Pulau Laut telah memberikan devisa yang begitu besar sejak dahulu. Tapi untuk jalan dan jembatan saja, belum bisa diberikan kepada warganya.

"Teluk Temiang itu sulit dicari tandingannya. Tapi jalan ke sana masih rusak parah, berpuluh-puluh tahun. Padahal membenahi itu semua, setahu saya begitu mudah. Hanya diperlukan kebijakan oleh pemerintah di tingkat lokal," tegasnya.

Dia kembali menekankan, bahwa dalam legenda Pulau Laut karangan sastrawan Najam M Sulaiman, M Syukri Munas, dan Eko Suryadi WS sebenarnya tersirat dua pesan penting. Pertama kekayaan di pulau boleh dipergunakan dengan tujuan untuk mengangkat kesejahteraan warganya, tapi harus adil dan merata.

Tapi itu saja belum cukup. Pesan kedua adalah: semua kegiatan pembangunan harus menghormati tradisi dan kearifan lokal. Kedamaian dan kebersamaan yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan sosial warga Pulau Laut harus dijunjung tinggi, jangan diusik.

"Kedua pesan itu tersirat dalam simbol kisah dua putra kerajaan Sambu Batung dan Sambu Ranjana yang sekarang kita kenal dengan sebutan Sebatung dan Saranjana," bebernya.

Bagi Anda yang belum tahu kisah kerajaan halimunan Pulau Laut, kurang lebih begini.

Dikisahkan jika dahulunya Pulau Laut merupakan kerjaan halimunan. Rakyat kerajaan hidup damai dan tentram di bawah kepemimpinan Raja Pakurindang.

Singkat cerita, Raja ingin istirahat. Dia menyerahkan mahkota kepada anak tertua Sambu Batung. Pergantian kekuasaan berjalan lancar. Kebetulan adik Batung, yaitu Sambu Ranjana memang tidak tertarik dengan kekuasaan. Ranjana layaknya seniman, suka menyendiri dan mencintai kesunyian.

Sambu Batung yang masih muda dengan jiwa yang penuh gejolak petualangan diam-diam membuka tabir halimunan. Niatnya baik, ingin menjalin komunikasi dengan dunia luar. Dia merasa Pulau Laut itu teramat sempit. Batung ingin tantangan baru.

Tapi itulah awal petaka. Kerajaan Banjar yang tahu kalau di tenggara Kalimantan ada sebuah pulau kaya tapi tak terlihat, kemudian mencari berbagai cara agar dapat menyibak misterinya. Di satu waktu, orang-orang pandai dari kerajaan Banjar akhirnya berhasil menyibak seluruh tabir halimunan Pulau Laut.

Tersibaknya halimunan itu mendatangkan bencana besar di Pulau Laut. Raja Pakurindang turun dari pertapannya dan menyelamatkan rakyatnya. Namun dia memberikan titah kepada kedua anaknya. Sambu Batung dia minta tinggal di utara, agar bisa bergaul dengan manusia. Sementara dia merestui Sambu Ranjana pindah ke selatan, menyepi dan tetap terpisah dari dunia luar.

Itu mengapa di utara pulau sekarang ada sebuah gunung besar dan gagah. Warga menyebutnya dengan nama Gunung Sebatung.  Sementara di selatan sebuah bukit kecil bernama Saranjana sepi menyendiri, jauh dari keramaian. (zal/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar