Ekasila Soekarno Diamalkan BKW Group dan Warga Pulau Laut: Sehari Jembatan Baru Terbangun


Gotong-royong adalah warisan leluhur nusantara. Borobudur dibangun karena itu. Penjajah diusir juga sebab gotong-royong, walau senjata mayoritas bambu runcing.

JURNALBANUA.COM, KOTABARU - Di era reformasi industri, bangsa Eropa terkesima dengan semangat gotong-royong bangsa ini.

Di saat barat mulai sibuk urus perut masing-masing. Masyarakat nusantara masih membangun desa dengan kerja sama.

Soekarno pernah berkata. Jika Pancasila dijadikan ekasila. Makanya silanya adalah: gotong-royong.


Pindah rumah, diangkat sama-sama. Buat jalan, diurus sama-sama. Sekarang, semangat ini terkesan luntur.

"Berapa upahnya? Kalau diupah mau saya," begitu sekarang sering terdengar.

Dan, Selasa (9/7) tadi, semangat gotong-royong dipertontonkan di pelosok Pulau Laut. Tepatnya bagian barat. Di Desa Semisir. Persis di tepi cerukan pantai.

Sudah beberapa waktu lalu, parade pengendara khawatir melintas. Jembatan penghubung barat ke pusat kota di Semisir rusak parah.

Jalan itu akses satu-satunya. Tiap hari tidak kurang ratusan kendaraan hilir mudik. Puluhan taksi angkutan kota. Puluhan truk pengangkut hasil kebun.

Keluhan warga berseliweran di sosial media. Jembatan itu milik pemerintah.


Amank, tokoh masyarakat di Kecamatan Pulau Laut Barat gelisah. Menunggu pemerintah memang terkesan lamban.

Anggaran harus disusun. Ini dan itu. Persetujuan dewan juga perlu. Birokrasi, Bung.

Kebetulan di dekat sana, ada perusahaan lokal sedang bekerja. Memperbaiki jalan. Amank bertanya, apakah perbaikan jalan termasuk perbaikan jembatan?

Pekerja di lapangan mengatakan, anggaran pemerintah hanya untuk jalan. Tendernya untuk ruas jalan. Belum ada untuk jembatan Semisir itu.

Amank pun coba memberanikan diri meminta bantuan. Kepada Tajerian Noor. Pengusaha muda, owner BKW Group.

Tidak sulit ternyata berkomunikasi dengan Tajeri. Cukup sosial media.

Bla bla bla. Tajeri setuju mengerahkan pekerja di lapangan memperbaiki jembatan. "Tapi gotong-royong ya. Sama warga yang mau," ujarnya.

Amank girang. Segera dia mengontak teman-temannya yang punya waktu luang. "Selasa kita kerjakan. Buat pengumuman di Facebook," ujarnya kepada warga di sana.

Pekerja BKW dan warga pun mulai mengumpulkan material. Gergaji mesin beraksi di hutan. Menebang kelapa milik warga yang merelakannya: untuk kepentingan orang banyak.

Warga Pulau Laut dan BKW Group gotong-royong di jembatan Desa Semisir

Rantai-rantai bekas dikumpulkan. Selasa pagi semua material on site. Batang-batang kelapa diikat dengan rantai. Banyak.

Kemudian ditutupi dengan material batu kualitas tinggi oleh BKW. Diratakan dengan alat berat.



Tara...! Rabu (10/7) pagi tadi, jembatan itu berubah. Seperti baru. Dan lebih kuat.

Tokoh masyarakat di Pulau Laut Tanjung Selayar, tetangga Pulau Laut Barat, Syaripuddin alias Pudding mengaku salut dengan BKW Group.

Amank selfi di depan jembatan yang sudah mulus, Rabu (10/7) pagi tadi

"Setahu saya, itu satu-satunya perusahaan lokal yang selama ini memberikan banyak jejak pembangunan di daerah kita," ujarnya

Menurut Pudding, BKW selama ini terlihat menjaga hubungan baik dengan warga. "Mereka tak melulu kejar keuntungan. Tapi seperti ingin bermanfaat buat orang banyak. Mungkin karena Tajeri itu kelahiran Pulau Laut," lirihnya. (JB)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar