![]() |
| Sepuluh cerpenis muda berfoto bersama tim Wabul Sawi Festival dan para sastrawan mentor di rumah adat Banjar | FOTO: WABUL SAWI |
Masterclass residensi Wabul Sawi sudah usai, sepuluh penulis terpilih dari 192 karya sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Namun gugahan pengalaman batin mereka masih melekat kuat sampai sekarang.
ZALYAN SHODIQIN ABDI, BANJARBARU
Suaranya kering dan tipis, logatnya turun naik seperti gesekan biola stakato. Apa pun yang meluncur dari mulutnya, bibirnya seperti tak pernah lepas dari senyum.
“Sayang, aku ingin kaya. Bukan kayak anjing, yang dilempar tulang lalu disuruh diam.”
Orang-orang menahan geli. Saya menahan tawa. Sudah lama tidak mendengar aksen seperti itu.
Windy Joana membacakan puisi Sayang Aku Ingin Kaya dengan keriangan pesisir: badannya bergoyang-goyang, tangannya menari-nari. Dari balik kacamata besar yang nangkring di ujung hidungnya, matanya berbicara.
“Tapi setiap kali rakyat bermimpi besar, selalu ada yang datang sambil tersenyum. Berbisik lewat matanya di layar televisi: jangan materialistis. Lucu sekali, karena yang bilang begitu, mobilnya lebih banyak dari jumlah piring hadiah sabun cuci di rumahku.”
Tepuk tangan merayap. Penampilan gadis mungil dari Barru, Sulawesi Selatan, itu menyelamatkan saya dari jemu rentetan sambutan pejabat pada pembukaan Promising Writers Wabul Sawi 2026 di Kafe Kala, Banjarbaru, Sabtu (23/5) malam.
![]() |
| Windy Joana membacakan puisi buatannya di pembukaan malam Promising Writers Wabul Sawi Festival 2026, Sabtu (23/5) | FOTO: WABUL SAWI |
Windy datang ke Banjarbaru bersama sembilan cerpenis muda. Mereka lolos lewat panggilan terbuka bertema budaya, lingkungan, dan keberpihakan. Tagline-nya: hancur, tumbuh, bertahan, melawan.
Di balik panggilan itu, proses seleksi berlangsung ketat. Selama April, 192 karya masuk ke meja kurator Wabul Sawi di Banjarbaru. Sastrawan Kanti W. Janis dan Sandi Firly bukan hanya menilai mutu tulisan, tetapi juga membaca motivasi penulisnya.
“Kalau ada nama beken yang masuk, langsung kami coret. Sepertinya motivasinya hanya ingin jalan-jalan gratis,” kata Sandi sambil tertawa. “Program pelatihan ini hanya untuk penulis muda yang punya potensi naik kelas, bukan yang namanya sudah mapan.”
Berminggu-minggu membaca ratusan lembar naskah, keluarlah sepuluh nama. Enam dari Kalimantan, sisanya dari Jawa, Sulawesi, dan Sumatra.
Di antara para peserta itu, ada beberapa nama yang sudah saya kenal. Salah satunya jurnalis Musa Bastara dari Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Ia memperlihatkan cerpennya yang meramalkan kelak kecerdasan buatan akan merampas tetes terakhir air bersih di muka bumi, sehingga manusia harus bertahan hidup dengan keringatnya sendiri.
Ada pula Rafii Syihab, juga dari Banjar, yang memotret kegelisahan masyarakat adat kaki pegunungan Meratus yang terancam aktivitas hariannya oleh proyek pemerintah. Rafii membungkus kisahnya dengan unsur budaya dan magis.
“Jadi, selama ratusan tahun hidupnya, Nik Anjang terus-terusan memakan daging manusia?” tulis Rafii dalam dialog tokohnya.
KETIKA REALITA LEBIH HOROR DARI FIKSI
Minggu pagi esoknya, sepuluh cerpenis bersama tim Wabul Sawi dan sastrawan mentor berangkat ke rumah adat Banjar Bubungan Tinggi di Teluk Selong. Selepas menggali sejarah singkat Kesultanan Banjar, mereka melanjutkan perjalanan darat menuju Pengaron di kaki Meratus.
“Oranje Nassau, situs tambang batubara tertua di Indonesia. Sudah ada sejak abad ke-16,” kata Hudan setelah menempuh satu jam perjalanan dari rumah adat.
Di bawah rimbun pepohonan, berbaring puing-puing dan sisa struktur bangunan bekas mesin tambang batubara bawah tanah Belanda. Di tengah situs, terlihat semacam cerobong raksasa yang keluar dari perut bumi. Dinding-dinding cerobong itu terbuat dari batu bata yang direkatkan dengan semen.
![]() |
| Cerobong raksasa di situs Oranje Nassau, jejak peninggalan tambang batubara Belanda | FOTO: WABUL SAWI |
Beberapa cerpenis meraba-raba bebatuan. Berjalan pelan ke dalam ceruk, menghidu aroma tanah, mendongak lama ke cerobong raksasa. Saksi bisu perlawanan kolosal rakyat Banjar.
Meninggalkan fragmen masa lalu, mereka kemudian menuju punggung Meratus. Satu jam lebih, tibalah rombongan di kawasan Desa Rantau Bakula. Jalan rusak di sana-sini, langit mendadak keruh. Di kanan dan kiri, membentang kupasan tambang, keruh dan menganga. Aroma sangit merayap masuk ke dalam kabin mobil.
“Pasang masker, pasang masker!”
Bagi cerpenis yang berasal dari Kalimantan, iring-iringan alat berat dekat permukiman dan dapur rumah warga yang berhadapan dengan lubang raksasa adalah cerita lama. Tetapi bagi mereka yang dari luar daerah, itu seperti melihat sinema.
“Lebih horor daripada fiksi,” kata Arif Kurniawan asal Bengkulu.
Di desa tepi tambang ini, mereka menginap setengah hari satu malam. Tidur di rumah-rumah warga. Tujuannya satu: menggali pengalaman empirik sedalam mungkin. Karena kata Hudan, program masterclass dan residensi kali ini juga untuk merangsang kepekaan dan kreativitas penulis terhadap isu ekosistem.
Sepuluh kepala, sepuluh karakter. Sepuluh pengalaman.
“Jangan berbincang antar kalian saja. Harus banyak menggali dari warga,” sungut sastrawan sekaligus mentor mereka, Dadang Ari Murtono.
“Seperti jurnalis, ambil kisah dari dua sisi, berimbang. Tapi ketika menulis, berpihaklah kepada kebenaran,” pesan mentor Kurnia Effendi.
“Kalau ceritamu pakai sudut pandang kucing, maka ingat binatang tidak berpikir seperti manusia,” Mutia Sukma mewanti-wanti cerpenis yang berencana menjadikan hewan jadi tokoh utama.
AKU INGIN MENULIS...
Senin pagi, dua hari sebelum hari raya kurban, mereka kembali ke Banjarbaru. Di Museum Lambung Mangkurat, para penulis memeras kemampuan mereka untuk mengolah pengalaman menjadi karya sastra. Lalu pada sore harinya, satu per satu bergantian menghadap mentor, mendiskusikan karya awal mereka.
![]() |
| Deretan cerpenis perempuan yang terpilih di program Promising Writers Wabul Sawi. Terlihat penulis Adjie Valeria dari Kalimantan Timur sedang berdiskusi dengan mentor di depannya | FOTO: WABUL SAWI |
Balik dari meja mentor, ada yang ringan langkahnya, bersinar-sinar matanya, seperti orang yang tercerahkan. Tapi ada juga yang terpekur, lehernya menunduk, macam orang yang baru kalah dari ring tinju.
“Amun menurut ulun...” Entah terlalu bersemangat, tanpa sadar Musa Bastara memakai kosa kata tertentu dalam bahasa Banjar ketika berdiskusi dengan Mutia Sukma, mentor dari Yogyakarta. Mendengar percakapan intens mereka, saya diam-diam berharap Mutia akan terbawa suasana: “Engkang minurut kulo...”.
“Deadline tanggal 30 Mei. Berikan kemampuan terbaik kalian. Ada tiket dari Kementerian ke luar negeri bagi yang spesial,” kata Hudan.
Selesai sudah? Belum.
Kalau Windy dari Barru membuka program Manajemen Talenta Nasional dengan riang, Arif dari Bengkulu memungkasinya dengan renungan.
Saat diminta memberi kata penutup, Arif bercerita tentang seorang anak petani yang ia temui di desa tepi tambang. Anak itu ingin melanjutkan sekolah ke bangku kuliah, tetapi keluarganya kesulitan biaya. Untuk makan sehari-hari saja, mereka harus banting tulang. Namun anak petani itu tetap menyalakan asa.
“Memangnya mau kuliah apa?” kata Arif, mengulang pertanyaannya. “Kalian tahu jawabannya? Dia mau kuliah sastra.”
Seorang anak petani, tiap hari melihat kekayaan tanah kelahirannya dikeruk, tiap akhir bulan melihat orang tambang sumringah menerima gepokan gaji, malah ingin kuliah sastra?
Pengalaman itu rupanya meninggalkan kesan dalam. Kalau dulu dia menulis apa yang dia suka, apa yang membuatnya bergairah, pengalaman selama Promising Writers ini membuatnya ingin menulis apa yang semestinya harus ditulis.
“Sastra memang harus berpihak,” kata Rafii.
Saya jadi ingat malam-malam panjang berdebat dengan Musa Bastara: mana lebih penting dalam sastra, gaya bahasa atau gagasan? Musa memilih gaya. Saya sebaliknya. Musa seni untuk seni, saya seni untuk rakyat. Namun sepulang dari Promising Writers, kupikir Musa pun mulai melihat tuntutan lain dalam berkarya. Ia sepakat, dalam beberapa kasus, menulis kontekstual bisa jadi adalah jawaban.
“Tetapi tidak mesti heroik. Ini memaksa. Sastra tidak memaksa,” sembur Musa.
Santai, kawan! Ingat pesan Sandi Firly ketika urat leher kita berdenyut? Perdebatan Manikebu versus Lekra sudah usai, sudah ada titik temunya. Manusia terus bertumbuh, kebaruan pengalaman membuat perspektifnya meluas.
Jadi, Mus, seni untuk seni, atau seni untuk rakyat?
Apapun itu, tulisan di baju kaos Koordinator MTN Seni Budaya Bidang Sastra, David Irianto nampaknya bisa sama-sama kita sepakati: "Menulis adalah sebuah keberanian."
![]() |
| David Irianto dengan baju kaos bertuliskan "menulis adalah sebuah keberanian" | FOTO: WABUL SAWI |




