BAINGAT..! Datu Permisi, Kami Numpang Lewat - Jurnal Banua

BAINGAT..! Datu Permisi, Kami Numpang Lewat

Foto ilustrasi internet

Cerpen Fiksi Intermezzo

Yuri Muryanto Soedarno *).

Air kemasan, snack dan rokok sudah habis. Juga nasi ketan yang dibungkus daun pisang serta telor asin yang dibeli di pinggir jalan, juga tinggal kulitnya.

Namun, mobil mogok yang sudah diutak-atik lebih dari empat jam itu masih enggan berbunyi.

Mesin dan lainnya sudah diperiksa oleh seorang teman yang ngerti mesin dan pernah pengalaman ikut offroad. Semua, no problem!

Tak terlihat kampung, jalan aspal pun masih sangat jauh. Sinyal seluler tak ada. Lengkaplah sudah, ujian kesabaran di alam bebas.

Saat itu, jangankan ATM, uangpun seolah tak berlaku di lokasi tersebut.

Sebatas bisa memandang ke perbukitan sekitar hutan itu, terlihat ladang dan sebuah pondok yang di sekitarnya ada asap. Akhirnya kami putuskan. Saya menunggu. Dan teman saya mencari informasi ke pondok itu. Ia pergi sambil membawa botol kosong.

Setelah sekitar hampir dua jam, teman saya kembali sambil tersenyum. Sambil mengangkat botol yang sudah berisi air minum.

Dia menceritakan, bertemu seseorang lelaki tua di pondok. Memberi air minum dan menawarkan beristirahat di pondoknya, bila kemalaman. Informasi dari lelaki tua itu, jangankan kota, bahwa kampung pun masih jauh.

Dengan membawa barang barang yang penting. Kami pun bergegas ke pondok. Karena hari sudah mulai sore.

Menjelang senja kami tiba. Seorang lelaki tua dengan senyum ranah menawarkan rebusan umbi hutan dan air putih, yang tempatnya terbuat dari gerabah tanah liat. Produk- produk itu sekarang hampir tidak di produksi lagi.

Tak lama kemudian, dia pun permisi. Katanya mau memeriksa tanamannya pada ladang yang lainnya di balik bukit. Ia berpesan, kalau dirinya tidak kembali, berarti beristirahat pada pondok yang lain. Dengan ramah beliaupun mempersilahkan kami bila ingin beristirahat di pondoknya itu.

Sebelum berjalan, beliau tersenyum dan berkata: "Mobil itu barangkali ingin beristirahat di sini. Saya doakan, siapa tahu besok sudah tidak rewel lagi." Kami mengangguk dan mengucapkan terima kasih.

Kemudian ia berjalan di jalan setapak. Hilang dari pandangan, di sebuah belokan yang terlindung pepohonan.

Sambil meminum air dan memakan umbi hutan yang ditingalkan, kami menambah beberapa kayu pada api unggun di samping pondok. Suasana malam itu cerah dengan setengah sinar bulan

Sambil ngobrol dan rebahan di pondok,  malam mulai merambat. Karena kelelahan, kami pun tertidur.

Hangat sinar matahari membuat kami terbangun. Jam di pergelangan tangan menunjukkan 7.29. Setelah cuci muka, minum air putih dan memakan umbi hutan sisa tadi malam yang sudah dingin, kami meninggalkan pondok.

Sebelum berangkat, teman saya minta di foto dengan latar belakang pondok. Saat itu saya teringat pada bapak pemilik pondok. Kenapa tidak berfoto dengannya? Bahkan namanya pun kami tidak tahu. Aneh, pikir saya. Bisa-bisanya, numpang tidur dan makan tapi kami belum kenalan. Perasaan malu dan marah pada diri sendiri menyeruak.

Beberapa jam berjalan kami pun sampai di lokasi mobil mogok. Anehnya, begitu saya perhatikan, bekas sampah ketan dan kulit telor asin itu ada di depan mobil. Bukankah kemaren posisinya ada di belakang mobil? Saya coba tepis perasaan aneh. Barangkali ada hewan yang membawanya.

Teman saya pun berdoa, sebelum membunyikan mesin mobil dengan kunci kontaknya. Bruumm..! Mesin  berbunyi. Teman saya tertawa girang sekali.

Setelah berapa jam lewat jalan tanah kami bertemu jalan makadam (jalan berbatu yang belum aspal). Kami beristirahat di warung dekat simpang tiga.

Teh panas, nasi kuning dan beberapa jajanan lokal kami santap dengan lahap.
Penjual dan beberapa orang menanyakan tujuan kami. Jelas dari raut wajah mereka, kami orang asing di sana.

Satu dari mereka bertanya: "Apa benar, dari bukit yang dekat sungai yang bercabang itu?!"

"Iya Pak. Bahkan kami bermalam di pondok dekat batu besar, karena mobil mogok, dan baru bisa jalan pagi tadi," saya menjawabnya sopan.

Teman saya menimpali, "kami juga bertemu dengan bapak tua yang baik hati, dan memberi umbi hutan serta air minum. Ini airnya masih ada", sambil memperlihatkan air di botol yang masih tersisa.

Orang orang di warung itu terkejut, dan salah satu ada yang tersedak saat minum. "Bersukurlah Bapak berdua ini, karena bertemu dengan Datu Penunggu Hutan Tatanang Halimun. Beliaulah penjaga gunung dan hutan di sini, Beliau baik," ujar seorang kakek di warung itu.

"Maukah Bapak kalau berkenan memberi kan air minum pemberian beliau itu pada saya," katanya lagi.

"Silakan, ambil saja semuanya Pak," teman saya sambil memberikan botolnya.

Saya pun mengambil handphone. Sinyalnya masih satu dua strip, belum maksimal.
Arsip dokumen foto saya buka. Saya kaget. Latar foto teman saya tidak ada gambar pondoknya. Yang ada hanya latar foto batu besar dan hijaunya bukit.

Perlahan saya perlihatkan foto itu dengan teman saya. Dia pun terbelalak.

*). Yuri, akrab di sapa Ceppe / atau Utuh Iyur, kadang menulis tentang lingkungan, traveling (petualangan), bisnis, puisi, cerpen (fiksi), serta menyikapi fenomena sekitar.


Dapatkan berita terbaru dari kami, dengan cara klik like atau suka Fanspage FB ini


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar