DLH Batola Temukan DO Sangat Rendah, Penyebab Ikan Mati Massal di Sungai Barito

Ribuan ikan mati di keramba apung Sungai Barito.(FOTO:IST)

JURNALBANUA.COM, MARABAHAN - Kematian massal ikan di keramba apung Sungai Barito, khususnya di wilayah Kecamatan Marabahan dan Bakumpai, diduga kuat terjadi akibat rendahnya kadar oksigen terlarut (dissolved oxygen/DO) di perairan sungai tersebut.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Barito Kuala (Batola) mencatat penurunan signifikan kadar DO di sejumlah titik pemantauan. Kondisi paling kritis ditemukan di pertemuan Sungai Barito dan Sungai Nagara, Kelurahan Lepasan, dengan kadar DO hanya mencapai 0,15 mg/l.

Sementara itu, di Desa Bagus, tepatnya di sekitar Jembatan Rumpiang, kadar DO tercatat sekitar 3 mg/l. Angka tersebut masih berada di bawah ambang batas kebutuhan hidup normal ikan budidaya, yang umumnya memerlukan DO minimal 4–5 mg/l.

“Rendahnya kadar oksigen ini menyebabkan ikan mengalami stres berat hingga akhirnya mati, terutama ikan nila yang sangat sensitif terhadap perubahan kualitas air. Sebaliknya, ikan patin dan lele relatif lebih tahan terhadap kondisi tersebut,” jelas Bambang Setyo Sihananto, Pengelola Kesehatan Ikan BPBAT Mandiangin.

Kepala DLH Batola, Abdi Maulana, menjelaskan bahwa penurunan kadar DO biasanya berkaitan erat dengan meningkatnya kandungan bahan organik, suhu air yang tinggi, serta kondisi eutrofikasi atau kelebihan nutrien di perairan.

Ia menambahkan, aktivitas mikroorganisme yang menguraikan bahan organik turut mempercepat konsumsi oksigen terlarut. Kondisi ini memperburuk situasi hipoksia dan memperbesar risiko kematian ikan.

Selain mengukur DO, Dinas Kesehatan Batola juga melakukan pengujian kualitas air. Hasilnya menunjukkan tingkat kekeruhan relatif tinggi, berkisar antara 8–14 NTU, serta pH air yang cenderung asam pada kisaran 5,4–5,7.

Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa air Sungai Barito masih aman digunakan sebagai bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) setelah melalui proses pengolahan.

“Untuk sementara, kematian ikan lebih disebabkan oleh kekurangan oksigen, bukan karena adanya cemaran berbahaya. Ikan juga masih aman untuk dikonsumsi,” tambah Bambang.

Sebagai langkah lanjutan, BPBAT Mandiangin telah mengambil sampel ikan dari keramba apung di Kelurahan Lepasan, Desa Bagus, dan Ulu Benteng. Sampel tersebut akan diuji di laboratorium guna memastikan penyebab kematian ikan secara lebih rinci, sekaligus menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi agar kejadian serupa tidak terulang.(saa/ibr/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.