Anggaran Jalan ke Lontar Dipangkas, Rp17 M Jadi Rp5 M Saja - Jurnal Banua -->

Anggaran Jalan ke Lontar Dipangkas, Rp17 M Jadi Rp5 M Saja

Jalan menuju Lontar di daerah Sakarambut rusak parah

Kapan ya Jalan Pesisir Selatan Pulau Laut Mulus?


Sreeet, pelajar muda itu terpeleset di jalan berlubang. Beruntung tidak jatuh. Para pemuda berganti, pelajar jadi sarjana, bekerja. Tapi jalan di kampungnya tidak berubah. Tetap menganga.

JURNALBANUA.COM - KOTABARU

Baru-baru tadi penulis mengunjungi Desa Oka-oka Kecamatan Pulau Laut Kepulauan. Dekat dengan bukit Saranjana. Salah satu tempat favorit pemancing ikan muara.

Kepala Desa Oka-oka, Basri, mengatakan ingin mengembangkan wisata di sana. Alasannya banyak orang ke sana waktu-waktu tertentu. Ada yang memancing, ada juga yang ingin melihat Saranjana.

"Gak lah. Saya pikir gak apa-apa. Gak akan marah (makhluk halus) di Saranjana kalau dijadikan wisata," ujarnya saat ditanya.

Sudah terkenal kemana-mana, Saranjana dipercaya merupakan pusat kota besar makhluk halimunan. Atau makhluk gaib. Radar Banjarmasin pernah mengangkat khusus tentang sejarah dan faktanya.

Foto kora Radar Banjarmasin hari ini

Jika dikelola dengan baik, Basri percaya akan ada pemasukan bagi desa dan warga di sana. Namun disinggung soal akses jalan yang sulit dia membenarkan. Jalan dari pusat kota ke pesisir selatan Pulau Laut masih banyak yang rusak parah.

Kondisi jalan itulah yang menjadi kendala besar bagi warga pesisir untuk meningkatkan ekonominya. Potensi ekonomi itu bukan isapan jempol. Kepala BI Kalsel Herawanto, Kamis (6/9) siang kemarin mengatakan, wisata dan agrobisnis Kotabaru peluangnya sangat besar. Herawanto di aula hotel dalam rangka menghadiri penandatanganan MoU dengan pemerintah daerah.

Herawanto mengatakan itu kepada wartawan di Hotel Grand Surya Kotabaru. Penulis tiba di Grand Surya berkendara dari pesisir selatan. Berangkat sekitar pukul 06.00 pagi, sampai sekitar 09.40. Hampir empat jam hanya menempuh jarak 100 kilometer an saja.

Di daerah Sebanti Kecamatan Pulau Laut Barat, di pagi buta kemarin beberapa anak pelajar SMA dan SMP berkendara. Terlihat dua pelajar wanita berboncengan tanpa helem. "Aduh," pekiknya saat ban kendaraannya tergelincir. Namun si pelajar berhasil menyeimbangkan motornya.

Tidak jauh dari sana, tepatnya di Desa Sekarambut, terlihat seorang guru. Pelan dia mengendarai sepeda motor. Meliuk-liuk menghindari lubang. Kadang tidak ada pilihan, semua berlubang, dia terpaksa menggilas jalan berkubang lumpur.

Suara mesin truk meraum-raum di perseneling rendah. Bak nya berbunyi keras saat badan truk terhempas lubang. Wajah sopir kusut, kaku, lurus menatap ke depan. Bergoyang-goyang. Penulis ingat seorang anggota keluarga yang terkena ambien setelah bertahun jadi sopir truk.

Suasana itu gambaran umum kondisi jalan ke pesisir selatan Pulau Laut jika hujan beberapa hari. Lubang-lubang tergenang air. Jalan yang aspalnya sudah terkupas jadi berubah seperti trek untuk balapan motor cross.

Kalaupun ada perbaikan, hanya beberapa kilometer saja. Itu pun tidak lama rusak lagi. Irigasi tidak ada, akibatnya jalan yang sudah baik mudah tergenang air, membuatnya cepat berlubang.

Beruntung sedikit. Ruas jalan dari Batu Ladung ke Sungai Pasir sudah lumayan. Beberapa waktu lalu, lubang-lubang di sana parah. Dalam menganga. Pemprov Kalsel mengucurkan dana sekian miliar memperbaiknya. Sedang dalam pengerjaan, namun sudah mudah dilalui.

Baca juga: Pemprov Kalsel Perbaiki Jalan Arah ke Lontar

Dengan kondisi begitu, wajar saya menempuh jarak 100 kilometer dalam waktu hampir empat jam lamanya. Itu pun sudah ngebut. Yang rusak parah sebenarnya hanya belasan puluhan kilometer saja. Puluhan kilometer yang menguras waktu dan tenaga.

Bagaimana pemerintah daerah? Di Hotel Grand Surya, kebetulan juga ada Kepala Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air, Johan Ariffin. Ada sekitar Rp5 miliar untuk perbaikan jalan di daerah Kecamatan Pulau Laut Barat.

Rp5 miliar? Sedikit sekali. Bukankah sudah diketahui publik mayoritas anggaran ke Bina Marga tahun ini. Ratusan miliar totalnya. Kata Johan awalnya memang besar. Rp17 miliar. Tapi karena ada defisit anggaran dipangkas jadi Rp5 miliar.

Jalan lain dipangkas juga? Dia mengatakan iya. Desas-desus jalan Pulau Laut Barat yang dipangkas memang sudah lama terdengar. Warga Lontar pusat kota kecamatan tidak bisa sembunyikan kecewa.

"Kenapa? Kapan lagi kami bisa nikmati jalan mulus ke kota. Sudah puluhan tahun begini," keluh Safri.

Dulu tidak seperti sekarang. Alokasi anggaran pemerintah bisa dipantau di internet. Warga menemukan, untuk Pulau Laut ada anggaran perbaikan jalan Stagen total Rp3,3 miliar. Jalan itu menuju pelabuhan fery Stagen.

"Kalau memang anggaran kurang kenapa tidak pakai skala prioritas. Jalan ke Stagen masih bagus, masih enak dilalui daripada jalan kami. Kenapa tidak itu dialihkan dananya ke sini," tambah Safri.

Ditanya soal itu, Johan Ariffin tidak berkomentar. Terkait apakah nanti pekerjaan jalan di Pulau Laut bisa selesai, Johan mengaku optimis. "Kalau grup (menyebut salah satu nama perusahaan) yang kerja cepat saja," ujarnya.

Sekarang ini katanya, sudah dilakukan rekayasa jalan. Setelah selesai baru kontraktor akan bekerja. Kontraktor yang sama sedang mengerjakan jalan yang dianggarkan Pemprov Kalsel di daerah Sungai Pasir ke Batu Ladung.

Edy Rahmat warga Lontar Timur, berharap ke depan pemerintah daerah bisa mengalokasikan anggaraan lebih besar untuk perbaikan jalan pesisir Selatan. "Semua tahu di sini paling indah pesisirnya. Orang-orang suka ke sini. Tapi jalannya. Padahal dekat saja dari kota."

Entah kapan jalan mereka bisa mulus. Apakah nanti jika sudah mulus, Saranjana akan jadi wisata yang ramai. Atau tetap sepi sendiri dengan kisah-kisahnya yang melegenda. Harmonis dengan suasana tenang nelayan pesisir Oka-oka. (Radar Banjarmasin)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar