Ketika Sawit Jadi Devisa Terbesar Negara: Tantangan Pengusaha Lokal - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ketika Sawit Jadi Devisa Terbesar Negara: Tantangan Pengusaha Lokal

Ketika Sawit Jadi Devisa Terbesar Negara: Tantangan Pengusaha Lokal


JurnalBanua – Kehadiran perusahaan lokal yang bergerak di bisnis emas hijau kelapa sawit disambut positif beberapa kalangan. Selama ini sudah melekat: pemilik kebun sawit besar adalah asing.

Tahun 2017 tadi, devisa negara terbesar disumbang komoditas ekspor minyak kelapa sawit. Nilainya mencapai Rp300 Triliun, mengalahkan batubara (baca migas), konveksi, karet, dan sektor pariwisata.

Kebutuhan minyak nabati dunia terus meningkat. Sementara itu kelapa sawit hanya tumbuh dengan baik di iklim tropis. Di pasar dunia, crude palm oil (CPO) bersaing dengan minyak kedelai, jagung, dan biji bunga matahari.

Minyak nabati non sawit dihasilkan negara Amerika dan beberapa negara Eropa, termasuk juga Jepang.

Pertambahan penduduk dunia membuat kebutuhan minyak meningkat. Lahan terbatas. Satu hektare sawit menghasilkan minyak empat hingga lima kali lebih banyak dari pada penghasil minyak nabati lainnya.

Produk minyak sawit juga dipakai bahan produk kecantikan anti aging | Foto: Pinterest

Dalam sebuah jurnal dari situs validnews.co yang ditayangkan pada Desember 2017 tadi, Kepala BPPK Kementerian Luar Negeri Siswo Pramono mengatakan, di tengah keterbatasan lahan di dunia, sawit merupakan pilihan efektif memenuhi kebutuhan minyak nabati.

Persaingan produsen minyak nabati membuat “dunia” (Amerika dan negara penghasil minyak nabati non sawit) belum sepenuhnya menerima pilihan itu. Mereka menolak dengan berbagai alasan yang terus dikampanyekan beberapa LSM dunia dan lokal.

Pramono mengatakan, pentingnya terus-menerus melakukan penelitian dan edukasi perkebunan kelapa sawit. Sehingga masyarakat akan menerima informasi yang valid mengenai tanaman yang mampu tumbuh hampir di semua kondisi lahan itu.

Negara Eropa lanjutnya, terkesan merasa bersalah dengan habisnya hutan mereka sejak atau bahkan sebelum revolusi industri. Di satu sisi petani mereka tersaingi dengan produktivitas sawit, di sisi lain ada kepentingan menjaga sisa hutan yang masih tersisa.

Perkiraan lahan sawit di dunia sekarang mencapai 20 juta hektare. Sementara lahan pengha

Solusinya kata Pramono adalah dengan melakukan kajian ilmiah. Seperti menghasilkan bibit kelapa sawit yang unggul, sehingga kebutuhan dunia bisa terpenuhi tanpa harus menambah lahan lagi.

red palm oil atau minyak kelapa sawit

Kajian-kajian sejauh ini terus dilakukan. Di Sumatera misalnya, pemerintah melakukan tumpang sari sawit dan gaharu. Hasilnya dua tanaman itu bisa tumbuh bersamaan dengan baik.

Sebuah perusahaan saat melakukan penanaman kembali, menyisihkan sebagian lahannya untuk tanaman hutan. Hasilnya, keragaman hayati di sekitar kebun justru menunjang produktivitas buah sawit: penyerbukan yang meningkat.

Di Pulau Laut Kabupaten Kotabaru, Multi Sarana Agro Mandiri (MSAM) dalam surat kabar harian Radar Banjarmasin edisi Senin 21 Mei 2018, mengatakan hasil panen mereka nanti berkisar 20 ton perbulan. Bibit unggul mereka mampu menghasilkan 24 persen CPO.

Lahan perusahaan lokal itu mencapai 11 ribu hektare. Artinya dalam sebulan mereka mampu menghasilkan CPO sebanyak 52.800 ton. Nilai jual CPO sekarang di posisi Rp7,6 juta per ton.

MSAM mengaku akan mengembangkan konsep sawit terbaru, pengembangan sawit yang sustainable. MSAM merupakan perusahaan lokal yang disebut-sebut didirkan oleh satu dari lima pengusaha lokal yang tergerak bermain di bisnis emas hijau.

Semua bagian kelapa sawit bisa diolah menjadi bermacam produk termasuk cangkangnya untuk bahan bakar | Foto: Bebeautiful

Dan tentu saja, selain berbicara mengenai tanggung jawab lingkungan dan bisnis jual beli CPO, romantisnya juga perusahaan memberikan nilai lebih: membawa keakraban lokal. Tidak melulu mengejar keuntungan maksimal, juga menjadi rumah besar bagi unit-unit usaha rakyat yang sedari dulu terbelit kesulitan modal. Inilah hakikat koperasi yang jadi ciri khas bangsa Indonesia.

Pengusaha lokal artinya berusaha memiliki pabrik minyak goreng sendiri. Tidak ketinggalan membangun industri kesehatan dan kecantikan.

Bukan rahasia, banyak produk kecantikan berbahan dasar minyak nabati ini. Ahli kecantikan Hollywood, Scott - Vincent Borba, menggunakannya untuk perawatan kulit. Sudah masanya remaja desa kita memakai produk kelas Hollywood.

Indonesia ini kaya raya. Tinggal bagaimana warga dan pemerintah mau mengelola untuk kepentingan bisnis dalam negeri. Cukup sudah kita ekspor bahan mentah untuk dikelola di luar. Toh, industri seperti listrik, pangan, kesehatan dan kecantikan rasanya sudah mampu kita kerjakan. (JB)

Space Iklan

Tags

Posting Komentar