Kerap Dianggap Hedonis, Pelabuhan Batang justru Jadi Simbol Kesederhanaan Warga Tanbu

SEDERHANA: Warga Tanah Bumbu memadati Pelabuhan Batang saat akhir pekan tadi | FOTO: JURNAL BANUA
JURNALBANUA.COM, KOTABARU - Pelabuhan Batang di Tanah Bumbu menjadi simbol kalau bahagia itu ternyata cukup sederhana. Cukup tertawa bersama orang tercinta, memandang pulau kecil di seberang lautan dan sepiring es pisang ijo.

Siapa sangka, kerap dianggap hedonis karena perputaran uang yang cepat  warga Tanah Bumbu (Tanbu) faktanya lebih memfavoritkan bersantai di tempat wisata sederhana. Halamana sebuah pelabuhan perusahaan yang disulap jadi tempat wisata kuliner menu khas daerah.

Diberi nama pelabuhan batang karena awalnya di sana banyak batang kayu besar-besar, dan dalam perjalanan waktu pelabuhan tersebut menjadi tempat sandar kapal-kapal tongkang besar. Sekarang, pelabuhan yang berhadapan langsung dengan selat Pulau Laut dan Pulau Sewangi itu malah dikenal jadi tempat santai sore hari.

Jika Anda belum pernah ke sana, berpatokan saja dengan gedung megah milik Jhonlin Group. Pelabuhan di tepi selat itu berjarak sekitar satu kilometer dari gedung berkelir cokelat alami tersebut.

Ketika Jurnal Banua berkunjung ke sana, Minggu 2 Desember 2023 sore, di jalan aspal milik perusahaan yang beroperasi di pelabuhan, ada sedikitnya seratus buah mobil parkir. Roda dua jauh lebih banyak lagi. Halaman pelabuhan dengan luas sekitar seperempat hektare itu pun penuh sesak manusia. Bisa dibayangkan berapa orang di sana?

SANTAI: Seorang ibu asyik mewarnai bersama anak-anaknya di Pelabuhan Batang | FOTO: JURNAL BANUA
"Biasanya paling banyak datang itu hari Sabtu dan Minggu," ujar karyawan perusahaan yang dengan sukarela membantu warga parkir. Artinya kebanyakan wisatawan adalah para ASN atau karyawan perusahaan.

Apa kelebihan objek wisata kuliner ini? Sederhana, lokasinya alami tanpa sentuhan bangunan pemerintah. Ditambah jajanan yang dijual khas lidah lokal, dan harganya amat ramah kantong. Seporsi pisang ijo hanya Rp8 ribu rupiah. Selain menu lokal seperti pisang gapit dan jagung bakar, di sana juga ada penjual es krim khusus datang menggunakan roda empat serta donat kentang yang jelas dibuat dengan peralatan modern.

Suasana merakyat itulah yang tidak Anda dapatkan di mall atau tempat wisata yang sudah dipoles sedemikian rupa. Pelabuhan Batang jelas terlihat tumbuh secara alami, menjadi tempat silaturahmi dan bersantai warga Tanah Bumbu. Semua berbaur di sana tanpa sekat, yang datang dengan Rubicon tertawa di lapak yang sama dengan yang datang dengan roda dua.

Dimintai tanggapannya, rata-rata pengunjung meminta tempat tersebut dibiarkan apa adanya. Kalaupun ada tambahan, cukup WC umum. Dekat sana bisa saja warga numpang buang hajat di pos polisi air --yang dengan senang hati mempersilakan warga-- tapi tentu itu akan menyulitkan jika yang buang hajat kebetulan banyak dan berbarengan.

Bagaimana, Anda tertarik datang ke sana? Jika iya, jangan lupa bawa uang tunai, karena para pedagang belum menggunakan aplikasi pembayaran non tunai. Juga, jangan lupa bawa ikat rambut jika Anda perempuang tak bekerudung, atau pria dengan gaya rocker tahun 80 an, angin laut kencang. Anda tidak akan mau kesulitan membenahi rambut sambil menyantap pisang ijo. (zal/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar