Ketika Zairullah Minta Lempeng di Dalam Istana, Nikmat Mana Kau Dustakan - Jurnal Banua -->

Ketika Zairullah Minta Lempeng di Dalam Istana, Nikmat Mana Kau Dustakan

Zairullah Azhar bercanda sembari menyantap lempeng di Istana Anak Yatim, Tanah Bumbu, Senin (16/11) | Foto: Jurnal Banua
Petang usai keliling desa, Zairullah masuk istana dengan para sahabatnya. Di dalam istana, mereka berbincang ringan. "Lempengnya mana?," pinta Zai.

JURNALBANUA.COM, TANAH BUMBU - Tidak terlihat lelah di wajahnya. Candanya masih terus mengalir. Padahal sejak pagi hingga jelang sore, ia keliling desa-desa berkampanye.

Seperti Senin (16/11) kemarin, Zai tiba di Istana Anak Yatim, di Gang Batu Benawa jelang petang. Tampak beberapa sahabatnya menggiring masuk.

Hasanudin, Andi Asdar dan Pawa duduk di dekat Zai. Bersila di ubin. Dan banyak lagi pria-pria lainnya. Ada bersurban, ada bercelana jeans. Macam ragam.

Mereka saling tukar pikiran. Diskusi ringan. Tentang masa depan Tanah Bumbu. Masa depan Bumi Bersujud.

"Permasalahan hari ini di Tanah Bumbu adalah hilangnya ruh atau spirit pembangunannya," ucap Zai.

Dalam pemilu sebutnya, calon pemimpin seolah berlomba-lomba mendulang suara rakyat. Melalui rentetan janji manis. Namun lupa menempatkan masyarakat sebagai sumber daya pembangunan itu sendiri.

"Mengelola masa depan artinya menata kehidupan masyarakatnya. Jika ini tidak kita benahi, maka daerah kita tidak akan tumbuh maksimal."

Khas seorang akademisi, ia pun membeber fakta. Kasus penyakit seksual yang mematikan di Tanah Bumbu nomor tingga ke dua setelah Banjarmasin.

"Bayangkan? Kita di ujung daerah, tapi masalah yang biasa terjadi di kota besar, malah terjadi di daerah kita. Ini ada apa?."

Belum lagi persoalan narkoba. "Tahukah kalian? Narkoba itu senjata paling mematikan untuk menjajah sebuah wilayah. Narkoba merusak anak-anak kita yang harapannya besok akan jadi pemimpin."

Diskusi terus berlanjut. Asyik.

Tiba-tiba Zai berbicara degan seseorang. "Lempengnya mana?," ujarnya dengan senyum khas.

Lempeng? Apa itu?

Tidak lama rasa penasaran penulis. Sekitar beberapa menit ke luar berpiring-piring kecil. Nampaknya kue. Ternyata itu namanya lempeng.

Zai menyodorkan lebih dahulu ke para tamunya. Rasanya khas: pisang berbalut gurihnya gandum. Lahap lah mereka makan.

"Jadi kita sekarang berada di istana, makananya lempeng. Istana lain boleh makan mahal. Tapi istana ini lempeng, karena istana ini spesial. Nikmat mana yang kita dustakan lagi?," kekehnya. (shd/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar