Kerusakan Terumbu dan Aktivitas Tambang di Angsana Jadi Perbincangan, Usai Debat Pilkada - Jurnal Banua -->

Kerusakan Terumbu dan Aktivitas Tambang di Angsana Jadi Perbincangan, Usai Debat Pilkada

Aktivitas tambang di Banjarsari, Angsana pertengahan 2019 | Foto: Kabar Kalimantan
JURNALBANUA.COM, TANAH BUMBU - Isu tambang dan kerusakan terumbu karang terus menjadi perbincangan hangat usai debat perdana Pilkada Tanah Bumbu, Minggu (15/11) tadi.

Dalam debat itu, calon wakil pasangan nomor urut dua, Zainal Arifin mengeluh. Bahwa bukan hanya kerusakan terumbu karang yang jadi ancaman di daerahnya.

Tapi juga kerusakan lingkungan akibat aktivitas tambang. Kata Zainal, di Desa Banjarsari Kecamatan Angsana, tempat dia tinggal, ada rumah janda yang rusak karena aktivitas pengerukan sumber daya alam Bumi Bersujud itu.

Kesaksian Zainal, rupanya sama dengan yang dialami calon bupati nomor urut tiga, Zairullah Azhar. Pria yang akrab disapai Zai itu mengatakan, ada warga yang coba memperjuangkan lahannya malah diperkarakan.

"Bukan cuma rumah janda, yang bukan janda juga rusak Pak," keluh Zai merespons kesaksian Zainal.

Dilansir dari Redkal dan KalselPos, akhir tahun 2019 tadi terungkap bahwa, lubang tambang di Desa Banjarmasin memang mengkhawatirkan. Beberapa rumah warga hanya berjarak puluhan meter dari mulut tambang.

Warga di Tanah Bumbu sendiri ramai memperbincangkan topi kerusakan lingkungan laut dan darat itu. Khususnya warga yang tinggal di pesisir.

Pemerhati terumbu karang, Anwar Ali Wajab yang tinggal di Pagatan Kusan Hilir mengatakan, dampak kerusakan terumbu memberikan dampak besar.

"Aktivitas pelabuhan dan tongkang batubara kan daerah Bunati dan Angsana, tapi dampaknya terasa sampai Pagatan," ujarnya kepada Jurnal Banua, Senin (16/11) tadi.

Ia berkisah, suatu waktu duduk berdua di tepi pantai bersama rekannya Sabri si nelayan. Tiba-tiba mereka melihat rombongan pria berbadan legam ramai-ramai naik ke kapal, mau ke bagang.

Melihat itu, Sabri berteriak: "aduh, lebih baik kalian pelihara lele. Tidak sebanding itu ongkos solar sama tangkapan..!".

Kata Anwar, nelayan saat ini makin jauh ke luar laut mencari ikan. Ikan-ikan tangkapan seolah menjauh, sejak adanya aktivitas pelabuhan batubara di daerah kawasan terumbu.

"Bahkan ada wartawan sudah investigasi itu laut. Mereka menemukan tumpukan batubara di alat tangkap nelayan di sana," kata anggota senior Mapala ULM ini.

Menurutnya, siapa pun nanti terpilih jadi bupati, maka masalah potensi kerusakan lingkungan laut harus menjadi salah satu agenda prioritas. "Penting sekali, karena kita tinggal di daerah pesisir," tekannya. (shd/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar