Krisis Air di Pulau Laut, PDAM Mengadu ke Tuhan - Jurnal Banua -->

Krisis Air di Pulau Laut, PDAM Mengadu ke Tuhan


Seperti tahun lalu, tahun lalunya lagi, tiap akhir tahun PDAM selalu berkutat masalah air bersih. Ribuan pelanggan menjerit. Puluhan pegawai PDAM pun mengadu pada Yang Kuasa.

JURNALBANUA, KOTABARU

Wajah-wajah ayu pegawai wanita PDAM Kotabaru, pagi kemarin terlihat lebih lembut. Mukena membalut wajah mereka. Disorot berkas matahari yang baru naik merangkak di atas pegunungan Sebatung.

Pegawai pria memakai peci. Juga ada beberapa santri. Pagi itu, saat burung-burung ramai bernyanyi, mereka menggelar salat Istisqa di Waduk Gunung Ulin, sekitar 9 kilometer dari pusat kota. Salat dipimpin Guru Sasra, di barisan makmum depan ada Dirut PDAM Noor Ipansyah.

Sudah beberapa bulan kemarau menggantung di atas langit pulau kecil ujung tenggara Kalsel ini. Waduk Gunung Ulin merupakan penyedia utama suplai air ke pusat kota. Mayoritas pelanggan pusat kota dapat air dari Gunung Ulin, totalnya sekitar 5.000 pelanggan.

PDAM sudah dua bulan melakukan kebijakan penggiliran air. Warga pun menjerit. Ada yang numpang cuci di tempat keluarga yang ada air lebih. Ada terpaksa buang air besar di tempat umum berbayar. Ada yang tidak mandi berhari-hari, seperti yang penulis sendiri alami, hemat air untuk hal prioritas: buang air besar.

Air bersih memang sulit didapatkan warga pusat kota. Selama ini mereka mengandalkan pasokan PDAM. Sumur bisa dibilang hampir tidak ada. Kalau ada dangkal dan cepat kering. Sumur bor hanya dimiliki segelintir. Namun sumur bor juga tidak bisa diandalkan, potensi air bawah tanah pesisir pusat kota sulit.

Namun bagi warga yang tinggal di kaki gunung, seperti di Gunung Mandar misalnya, hanya sekitar tiga kilometer dari kantor bupati airnya ada. Walau beberapa hari belakangan sempat macet, namun setelah ada hujan sehari, air kembali lancar.

Warga-warga di kaki gunung itu mengelola sendiri air mereka. Membendung aliran sungai di punggung perbukitan Sebatung yang masih asri. Kemudian airnya dialirkan memakai pipa besar. Menariknya, beberapa bendungan-bendungan itu adalah peninggalan zaman penjajahan Belanda.

PDAM sendiri mengandalkan waduk-waduk buatan. Terbaru ada di Desa Tirawan, sekitar enam kilometer dari pusat kota. Waduk ini hampir sama luasnya dengan Gunung Ulin. Jika di Gunung Ulin tinggi air sisa 1,5 meter, di Tirawan masih empat meter.

Sebelum menggelar salat Istisqa, PDAM Kotabaru sudah memutuskan menunda banyak program kegiatan. Seperti pembayaran iuran pensiun karyawan, insentif kinerja karyawan dan lainnya. Untuk mendapatkan dana Rp300 juta, yang akan dipakai membuat koneksi pipa dari Tirawan ke aliran pelanggan kota.

Selama ini kondisi air di Tirawan memang lebih baik dibanding daerah lainnya di radius 10 kilometer pusat kota. Tirawan juga berada di kaki Sebatung. Tapi kualitas alamnya jauh lebih asri dibanding lainnya. Mayoritas warga Tirawan masih berkebun secara alami. Di hutan desa pepohonan rimbun.

Kata Ipansyah, kemarin material sudah dipasok. Jika tidak ada aral, pemasangan koneksi selesai dalam dua minggu. "Masalahnya, kalau setengah bulan lagi tidak ada hujan yang cukup, waduk Gunung Ulin akan lumpuh," ujarnya setelah selesai salat Istisqa.

Normalnya ketinggian air Gunung Ulin enam meter. Mampu alirkan air ke pengolahan 150 liter per detik pakai sistem gravitasi. Sekarang hanya mampu alirkan air 30 liter per detik. Jika ini lumpuh nanti, maka tidak ada pilihan warga selain membeli air dari pikap-pikap yang menjual keliling pakai tandon. Harganya mahal.

Ipansyah menekankan, solusi air pusat kota adalah memperbanyak waduk. Atau meningkatkan kedalaman waduk. Karena katanya, air di pesisir hanya resapan hujan. Tidak ada air bawah tanah. Praktis hanya mengandalkan hujan.

Parahnya kata dia hutan-hutan sudah banyak hilang. Kondisi itu mempengaruhi daya resap dan daya simpan air permukaan. Dalam sidang masalah tambang Pulau Laut di PTUN Banjarmasin belum lama tadi, terungkap adanya kajian ilmiah dari ULM Banjarmasin, bahwa daya dukung dan daya tampung Pulau Laut sangat rendah.

Solusi jangka panjang kata Ipansyah, tidak lain adalah melestarikan hutan. Jangka pendek bisa membuat banyak waduk. "Harus ada gerakan hemat air. Mulai dengan mandi sekali sehari, gak usah mandi di hari libur," saran seorang guru, Noorhana di sosial media.

Untuk tahun 2019 kata Ipansyah, Pemkab Kotabaru menyetujui anggaran kegiatan perluasan waduk Gunung Ulin. Peningkatan intake dam Gunung Ulin. Serta lanjutan proses pembangunan embung Gunung Perak.

Tahun 2018 memang tidak ada kegiatan peningkatan kualitas waduk atau pembangunan waduk baru. Hanya ada pembebasan lahan waduk di Gunung Tirawan dan pembuatan DED Gunung Perak.

Seperti diketahui, tahun ini Pemkab fokus anggara ke pembangunan infrastruktur jalan. Juga ada proyek puluhan miliar wisata Siring Laut. Khusus Siring Laut sempat diprotes Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kotabaru karena dinilai tidak mendesak untuk kepentingan publik.

Upaya mengatasi masalah air bersih di pusat kota sempat menimbulkan harapan masa-masa awal pemerintahan Bupati Sayed Jafar. Tahun 2015 sampai 2016, digalakkan pembangunan sumur bor. Bupati terlihat beberapa kali turun ke lapangan. Tapi hasilnya jauh dari harapan. Kata Ipansyah, tidak ada potensi sumur bor yang mampu melayani banyak orang, dan kualitas airnya tidak baik.

Masalah air di ujung tahun adalah masalah menahun daerah ini. Tiap Pilkada, hampir semua calon bupati berjanji akan menyelesaikan persoalan itu. (Radar Banjarmasin edisi 24 Oktober 2018)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar