Polisi Anak Band Kotabaru Jadi Lulusan Terbaik Fakultas Hukum Unlam - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Polisi Anak Band Kotabaru Jadi Lulusan Terbaik Fakultas Hukum Unlam

Polisi Anak Band Kotabaru Jadi Lulusan Terbaik Fakultas Hukum Unlam


Usai menginterogasi tersangka dia memetik gitar. Tahunya cuma main gitar tapi otaknya encer. Polisi muda itu meraih predikat sebagai lulusan terbaik Fakultas Hukum ULM (Universitas Lambung Mangkurat) tahun ini dengan IPK 3,93.

JURNALBANUA - KOTABARU

Kity Tokan namanya. Populer di Kotabaru, utamanya di kalangan anak muda. Dia personel Police Band, band populer yang semua personelnya para penegak hukum itu. Kity mengaku hobinya bermusik sejak masih anak-anak.

Pertama kenal Kity, tahun 2012. Waktu dia sudah tugas di Polres Kotabaru sebagai Driver Wakapolres. Penulis sendiri baru tugas di Kotabaru, mencoba bertamu ke Polres. "Kapolres ada, Pak," tanya penulis pada seorang polisi berbadan besar berwajah terang. "Tadi ada, tapi kayaknya ke luar, nanti saya cari dulu ya," ujarnya berlalu tersenyum geli.

Tiba-tiba Kity memanggil. "Sini kamu. Itu tadi Kapolres, masa' kamu gak kenal. Aduh," ujarnya tergelak. "Sudah minum jamu dulu. Bi, buatin jamu wartawan ini, kayaknya beliau belum sarapan," ujarnya seraya memberikan Bibi Jamu sebuah kode, entah apa maksudnya. Meski curiga, gelas jamu itu akhirnya saya minum. Kity tergelak lagi.

Bertahun-tahun kemudian, Kity baru buka rahasia. Jamu yang dia pesan itu jamu kuat. "Kamu sih, masa sama Kapolres gak kenal. Kan ada pangkatnya di bahu." Saya ngeles lupa simbol pangkat di bahu. Sejak kejadian itu saya lalu menghapal simbol-simbol pangkat di kepolisian.

Kity kelahiran Banjarmasin 11 April 1987. Dia tugas di Kotabaru sejak tahun 2008. Di Kotabaru sendiri keluarganya banyak. Ketua MUI Kotabaru KH Muchtar Mustajab adalah kakeknya.

Menunjang karirnya di kepolisian dia sekolah hukum. Di STIH Sultan Adam. Lulus tahun 2012 dengan titel SH. Tidak lama setelah jadi sarjana dia pun tugas ke Satuan Krimsus Polres Kotabaru.

Minatnya pada hukum memang terlihat. Beberapa kali saat santai di ruangannya, dia suka berdiskusi dengan wartawan soal hukum. Macam-macam yang dibicarakan, tapi biasanya terkait kasus hukum yang lagi ramai di TV.

Tahun 2016 Kity mengambil program magister di Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat. Saat menyusun tesis dia mengambil tema masalah tahanan anak-anak yang dicampur dengan orang dewasa.

Kity menjelaskan, menempatkan anak-anak yang bermasalah hukum di tahanan bersama orang dewasa itu melanggar hak asasi manusia. Dia mewawancarai banyak aktivis anak-anak. Termasuk berbagi kisah dengan para wartawan.

Dalam paparan tesisnya Kity menulis, pelaku yang menahan anak-anak dalam tahanan orang dewasa dapat dikenakan sanksi pidana. Serta proses peradilan pidananya batal demi hukum.

Tesisnya itu mendapat pujian dari kampusnya. Kamis (18/10) tadi dia menerima penghargaan dari Dekan FH ULM Halim Barkatullah. Dari informasi yang didapat IPK Kity tertinggi di semua jurusan dan program FH ULM. Nilai IPK nya 3,93.

Ditanya mengapa mengambil tema soal anak-anak itu, Kity mengaku supaya ilmu yang dia pelajari itu linear. "S1 saya menyusun skripsi soal pidana anak. Jadi S2 juga saya khususnya di bidang anak. Supaya lebih memahami soal hukum pidana anak," ujarnya.

Karena selama ini ujar Kity pemahaman masyarakat tentang pidana anak masih kurang. "Anak ini bukan cuma tanggung jawab polisi, jaksa, hakim saaja. Tapi semua, termasuk pemerintah," ujarnya yang juga sering diminta pemerintah sebagai narasumber seminar hukum oleh pemerintah.

Berbahaya sekali ujar Kity jika anak-anak yang tersandung hukum ditangani tidak tepat. "Apalagi sampai misalnya sempat ditahan dalam sel bersama orang dewasa. Ini berbahaya, karena anak dan remaja itu peniru yang baik," tekannya.

Dia juga berharap, pemerintah ke depan, utamanya pemerintah daerah bisa memberikan perhatian serius dalam bentuk kebijakan anggaran. "Saya ada temukan saat menyusun tesis itu, salah satu kendala tim pemerintah yang tugasnya untuk perlidungan anak adalah ketiadaan anggaran."

Lantas bagaimana perasaannya meraih lulusan terbaik di FH ULM Banjarmasin? Kity mengaku bersyukur. "Ini semua berkat bantuan rekan-rekan dan atasan saya di Polres Kotabaru khususnya kasat reskrim akp suria miftah irawan, Juga para aktivis dan lembaga perlindungan anak, wartawan yang mau diajak diskusi soal hukum pidana anak," jawabnya.

Adakah hubungan musik dan predikat terbaik itu? Kity mengaku tidak tahu soal itu. Hanya saja katanya, musik bisa membuatnya tenang. "Kalau otak kiri terus yang jalan kan bisa stress ya?."

Saat Kity memposting penghargaan kampus di Facebook nya, pujian dan selamat pun membanjiri. Termasuk dari mantan bupati Kotabaru, Sjachrani Mataja, berpesan agar ilmu Kity digunakan untuk memberi manfaat sebaik-baiknya kepada manusia.

Masduki salah satu wartawan di Kotabaru mengatakan, predikat lulusan hukum terbaik di ULM menjadi kebanggan sekaligus tanggung jawab. "Saya sepakat, masalah pidana anak masih sangat banyak yang harus kita benahi. Pencegahan itu paling penting," pesannya.

Dimintai tanggapannya Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto mengaku bangga dengan prestasi Kity. "Kami bangga pastinya. Bahwa personil di Reskrim Polres mempunyai wawasan yang baik di bidang hukum. Semoga bisa menjadi motivasi," ujarnya. (Radar Banjarmasin edisi 21 Oktober 2018)
Space Iklan

Tags

Posting Komentar