Air Mata dan Senyum Seorang Suami - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Air Mata dan Senyum Seorang Suami

Air Mata dan Senyum Seorang Suami


Habis ini jangan langsung ke tempat atasanmu, ke rumah bos mu, tapi ke rumah indo-mu, lebaran dulu sama beliau. Kalimat yang diucapkan dalam bahasa Mandar itu menerbitkan air mata dan suara isak para jemaah.

JurnalBanua - Pulau Laut Kotabaru

Indo artinya ibu. Asal katanya kindo. Jangan pernah menilai dari kesan awal, begitu yang saya rasakan di masjid Mustaqim, desa pesisir Tanjung Pelayar, Pulau Laut Tanjung Selayar.

Masjid Mustaqim kecil saja. Kira-kira hanya bisa menampung dua ratus jemaah. Letaknya di tengah desa. Berhadapan langsung dengan laut, nun di depan Laut Jawa dan Selat Makassar.

Jemaah menuju masjid

Tidak seperti masjid di kota besar, jemaah datang agak siang. Rumah-rumah mereka dekat, mayoritas ke masjid jalan kaki. Mukena jemaah wanita berkibar, angin pesisir lumayan kencang saat itu.

Wajah-wajah gembira. Apalagi saat Abdul Jalil, guru tua di kampung berdiri mengajarkan niat dan tata cara salat id. "Takbirnya pertama tujuh kali. Hampir sama dengan tahun kemarin. Eh, maaf bukan hampir sama, tapi memang sama dengan tahun kemarin."

Ada yang bilang Jalil saat itu sengaja melucu. Tapi tidak sedikit bilang dia keselip lidah. Alasannya, waktu ucapkan itu Jalil pakai bahasa Indonesia tulen, sementara penjelasan lain memakai bahasa Mandar: lancar jaya.

Sakaruddin si Imam sepertinya menjadi paling bijaksana. Ayat yang dibaca tidak panjang juga tidak pendek. Sedang saja. Rupanya dia paham, beberapa jemaah ada yang ingat opor ayam di rumah.

Usai salam, takbir kembali berkumandang. Berdiri seorang pria paruh baya. Berwajah bulat, perawakannya sedang. Kulitnya putih. Naik ke mimbar membawa buku khotbah, sampulnya kuning hijau, dari jauh sudah kelihatan: itu buku jadul.

Ustaz Amin Mahfud membacakan khotbah

Bener ternyata, dari redaksi kalimat yang dibaca. Rapi, baku antar kalimat. Khas buku kumpulan khotbah yang biasa dijual di pasar dekat Sudimampir Banjarmasin.

Kelopak mata saya perlahan terpejam. Malam tadi hampir tidak tidur. Kebawa kebiasaan puasa, begadang sampai larut.

Ceramah di kampung kecil, apa yang kau harap? Dinamika sosial tenang. Warga sibuk melaut atau berkebun. Acara TV kalau bukan dangdut ya lomba-lomba agama itu.



Saat mulai pasrah, tiba-tiba suara khatib keras memekak. Kurang ingat apa persisnya yang dia sampaikan waktu itu. Saya cuma ingat dia pakai bahasa Mandar, menyebut kata dosa.

Saya lihat jemaah di belakang. Rupanya beberapa seperti saya. Mengantuk, tapi perlahan mengangkat kepala. Khatib tahu benar kapan mesti bersuara nyaring.

Saat Ustaz Amin Mahfud kemudian menggunakan bahasa Mandar, jemaah kembali memusatkan perhatian. "Pura di e, da tappa langsung di bos mu atau atasanmu. Tapi di sapona indo mu diolo, pirrauo dappang."

Arti bahasa Mandar itu sudah saya tulis di atas. Maka kemudian, lanjutlah ceramah bahasa Mandar soal ibu. Ustaz mengatakan, jangan pernah tunda jika untuk ibu. Meski bos atau atasan penting untuk finansial, tapi ibu jauh lebih penting.

Ceramah klasik memang, tapi bukan membaca di buku. Bahasanya keseharian warga. Dan ketika Ustaz Amin terisak di mimbar, mengusap air mata dengan ujung sajadah, jemaah terbawa suasana.

Ustaz menangis saat ceramah

Isak tangis terdengar di samping, di belakang saya. Ada anak-anak, remaja bahkan orang tua. Jemaah suku Banjar di barisan wanita, mengatakan di sana juga penuh isak. "Saya tidak mengerti semuanya. Tapi tahu saja kalau dibahas itu ibu," akunya usai salat.

Masih memakai bahasa Mandar dengan buku khotbah yang sepertinya sudah jadi hiasan, Ustaz juga mengatakan, Ramadan sudah berlalu. Tidak ada jaminan siapa pun bisa menggapai puasa tahun depan. Meski langit dan bumi menangis dia tidak akan kembali.

Saat menjelaskan itu, bahasa yang dia pakai sepertinya merupakan bahasa yang digemari jemaah. Mereka fokus. Saya merasa malu, di awal sudah menilai khatib adalah penceramah asal ada, seperti yang pernah saya temui di beberapa desa.



Di sana juga saya sadar, penceramah di desa beberapa kadang masih tidak percaya diri. Memakai buku teks yang umum baku, tidak menyentuh keseharian jemaah. Sedikit penceramah desa yang berani membacakan teks kehidupan warganya, padahal ini mudah karena memakai bahasa dan fenomena harian.

Habiskan semua perselisihan lanjut Ustaz. Perbedaan tidak mesti menjadi perpecahan. Pilpres kata dia anggap saja permainan sepak bola, bertanding, usai kembali salaman.



Seperti roda berputar, tidak selalu air mata, pasti juga ada giliran tawa. Pria di belakang saya yang sempat menitikkan air mata di ujung khotbah tampak tersenyum. Doa Ustaz membuatnya sumringah.

Ustaz berdoa agar semua dosa jemaah mendapat ampunan, seperti mereka yang: "Maiddi tori to waine pimbali-pimbali lao ri muanena..!". Artinya kurang lebih: masih banyak istri durhaka kepada suaminya, semoga diampuni.





Space Iklan

Tags

Posting Komentar