Isak Tangis Menonton Habibie Ainun 3 di Bioskop Kotabaru - Jurnal Banua -->

Isak Tangis Menonton Habibie Ainun 3 di Bioskop Kotabaru


Isak tangis terdengar di ruang bioskop pulau kecil, Pulau Laut, Kamis (19/12) tadi. Walau berada di ujung tenggara Kalsel, warga Kotabaru akhirnya bisa menikmati tayangan perdana Habibi Ainun 3.

JURNALBANUA.COM, KOTABARU - Dahaga para penggemar film inspiratif yang berangkat dari kisah nyata, akhirnya bisa terobati. Menyusul beroperasinya Bioskop New Star Cineplex Kotabaru, Rabu (18/12) tadi.

Bioskop milik politikus muda dari PDI Perjuangan, Gewsima Mega Putra itu, sesuai janjinya menayangkan film-film terbaru. Sama dengan yang tayang di kota besar seperti Banjarmasin.

Tepat pukul 11.00, Habibi Ainun 3 diputar. Jumlah kursi penonton ada 112 dalam satu studio. Total ada dua buah studio. Harga tiketnya ramah di kantong.

Mata penonton berbinar-binar. "Gak nyangka bisa nonton Habibi Ainun di sini. Biasanya film terbaru kita harus ke Banjarmasin," ujar Wulan.

Adegan Habibie muda menonton pertandingan kasti Ainun

Layar besar menyuguhkan tampilan full HD. Suaranya tak kalah dengan milik bioskop di mall terkenal di Banjarmasin.

Adegan demi adegan berjalan. Reza Rahadian lagi-lagi memukau penonton dengan aktingnya sebagai Habibi. "Ya ampun, kok mirip sekali gestur tubuhnya dengan Pak Habibie," kata seorang penonton.

Di layar tampak Habibie tua bercengkerama dengan anak, menantu dan cucu-cucunya, di ruang makan yang bertabur buku seperti perpustakaan. Habibi diminta para cucu mengisahkan kisah cintanya dengan Ainun.

Adegan Habibie mengisahkan hidup Ainun semasa muda

Dalam film Habibie yang ke tiga ini, cerita fokus pada kehidupan Ainun semasa kecil hingga jadi dokter. Penyanyi Maudy Ayunda dianggap pantas mewakili sosok Ainun, karena kemiripan wajah dan warna kulitnya.

Dalam film itu terungkap, Ainun merupakan perempuan yang cerdas. Dengan kepedulian yang besar kepada sesama.

Sejak kecil, Ainun suka membantu ibunya yang bidan menolong orang melahirkan. Suatu waktu, Ainun kecil dan ibunya hampir ketangkap tentara Jepang ketika diam-diam malam-malam menyelinap desa membantu warga.

Untuk urusan pengambilan gambar dan adegan, sutradara Hanung Bramantyo kali ini patut diberi dua jempol. Menutupi kekurangan make up sosok Habibie tua.

Suasana zaman awal kemerdekaan tergambar jelas. Setiap detail kecil tak luput dari perhatian Hanung. Seperti memasang selebaran partai-partai saat itu di gang. Ada PKI, Masyumi dan lainnya.

Ainun berjalan di gang bersama temannya. Tampak gambar selebaran partai di kanan

Hanung juga mampu menyulap kampus UI seperti di zaman dulu. Bangunan, pakaian para mahasiswa, kendaraan dan bahkan sudut kota di Jakarta digambarkan begitu baik.

Semua adegan itu terasa hidup. Didukung dengan pengeras suara yang maksimal di bioskop, penonton beberapa kali ikut kaget, seperti saat mendengar suara petir. Rinai hujan pun terdengar alami, seperti mengucur langsung dari atas langit-langit bioskop.

Habibie mengisahkan, di masa kuliah, Ainun sempat berpacaran dengan Ahmad dari Fakultas Hukum. Ahmad berjiwa muda, petualang dan romantis.

Ahmad bahkan melamar Ainun dengan cara yang begitu indah. Di depan kos Ainun dia memberi cincin diiringi alunan musik dari pemain biola.

Kisah itu pun mendapat respons dari menantu Habibie. Namun Habibie menanggapi dengan tawanya yang khas.

"Adegan yang dramatik dan romantis begitu juga tidak bisa, kalau mereka memang tidak satu frekuensi," ujar Habibie.

Ahmad memang tidak jadi menikah degan Ainun karena visi hidup mereka yang berbeda.

Semasa muda, Ainun dikenal sebagai gadis yang kuat fisiknya. Gemar olahraga. Juga berani melawan kesewenang-wenangan, yang beberapa kali ia tunjukkan di kampus.

Ainun lulus sebagai dokter terbaik di UI saat itu.

Maudy Ayunda memerankan Ainun dengan ciamik

Dalam film ini, Hanung terlihat berusaha maksimal membuatnya bukan sekadar film romantis. Tapi juga film yang ditujukan untuk memberikan kontribusi kepada negara dan generasi muda. Terlihat jelas di sini ide gagasan almarhum Habibie memberi andil besar dalam film.

Misalnya, saat Soekarno memberikan ceramah kepada mahasiswa di Jerman. Di hadapan Habibie. Pidato itu didengar Ainun di Jakarta melalui radio.

Isinya, Soekarno berpesan kepada para anak muda agar menuntut ilmu tinggi. Walau harus ke luar negeri. Tapi setelah itu balik ke Indonesia. Membangun bangsa. "Negara akan membiayai (ide kalian)," ujar Soekarno berapi-api.

Gambar Soekarno di rumah orang tua Ainun

Pesan-pesan membangun negeri juga disampaikan Ainun. Adegan ini mampu menerbitkan air mata penonton saat itu di bioskop. Ekspresi dan air mata Maudy yang jatuh secara alami, mengaduk emosi penonton.

"Seri satu sampai ke tiga ini bagus semua. Yang ke tiga ini luar biasa. Bikin tambah penasaran. Nunggu yang ke empat," kata Hamsuri. (JB)

Berikut kualitas tayangan di bioskop Kotabaru. Catatan, rekaman ini melalui Hape, tentu kualitas jauh di bawah tayangan real dengan mata langsung...



Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar