Kado Renungan Kecil Buat Dewan Terpilih di Banua - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Kado Renungan Kecil Buat Dewan Terpilih di Banua

Kado Renungan Kecil Buat Dewan Terpilih di Banua


Yuri Muryanto Soedarno*

Bermula dari fase reformasi, dilanjutkan otonomi daerah (otda), nuansa segar seakan-akan hadir di peta politik lokal.

Di era reform, rakyat pilih orang-orang terpilih lewat partai untuk diposisikan sebagai wakil rakyat di legislatif. Dan rakyat juga pilih orang terbaik dan andal untuk posisi di eksekutif.

Itu berarti di legislatif terpilih orang-orang terbaik dan di eksekutif terpilih juga orang terbaik; personality is the best very best. Pada gilirannya, adalah sangat wajar bila produk dan hasilnya adalah juga yang terbaik.

Karena logika dasarnya bila masukannya baik, maka teori harapannya adalah: keluarannya juga baik. Input berperan penting terhadap output. Demikian sebaliknya.

... 'sepakat untuk tidak sepakat adalah kesepakatan'.....

Mengemban amanat rakyat adalah sesuatu kepercayaan yang mulia dan harus dijalankan sebaik-baiknya dan itu tidaklah mudah. Kesadaran itu tentunya sudah diketahui, dipahami serta disadari dengan sebaik-baiknya. Dalam arti tentunya bukan hanya melihat faktor elegant-nya fasilitas dan reputasi yang menyertainya.


Dalam suatu intemezo bila legislatif dan eksekutif telah terpilih, maka selanjutnya akan bahu-membahu sebagai suatu partnership. Maka hipotesis yang barangkali dapat terjadi adalah:

Pertama: Hubungan legislatif dan eksekutif yang ber-partnership  profesional  untuk rakyat,  ibarat nilai 8,0 – 9,9.

Dua: Hubungan legislatif dan eksekutif yang ber-partnership  kadang positif kadang negatif (cenderung positif) untuk rakyat,  ibarat nilai 6,0 – 7,9.

Tiga: Hubungan legislatif dan eksekutif yang ber-partnership  kadang negatif kadang positif (cenderung negatif) untuk rakyat,  ibarat nilai 4,0 – 5,9.

Empat: Hubungan legislatif dan eksekutif yang ber-partnership  tidak profesional  untuk rakyat,  ibarat nilai < 3,9.

Lalu di level manakah legislatif dan eksekutif ingin mendapatkan nilai ?

Sementara kesempatan untuk mendapatkan nilai yang akan dipilih serta di raih juga terbuka lebar, tentunya dengan SWOT (Strength Weakness Opportunity Threat) yang bervariasi dan berdinamika.

Karena telah dipilih personal-personal terpilih dengan seleksi ketat dan sangat selektif secara handal, maka sudah barang tentu konteks profesionalnya tidak diragukan lagi. Apalagi dimbangi IQ-EQ dan SQ (Intellectual Quotient-Emotional Quotient-Spiritual Quotient). Dan yang sangat sakral pada saat di lantik juga disumpah berdasarkan agama yang diyakini.

Menyimak mekanisme proses tersebut tentunya eksekutif dan legislatif tidak akan memilih hipotesis Tiga apalagi Empat.

Pada target minimum tentunya akan memilih pada hipotesis Dua dengan ibarat nilai (6,0-7,9) yang secara berangsur dan perlahan berupaya menuju hipotesis Pertama dengan ibarat nilai (8,0 – 9,9).

Untuk nilai 10 (diibaratkan nilai tertinggi dan sempurna) tidak dicantumkan, karena nilai itu hanyalah milik Tuhan Yang Maha Kuasa.

...’ sebenarnya musuh itu tidak ada, yang ada hanyalah
saudara yang berlainan pendapat ‘ ... (Mahatma Gandhi)

Mengemban amanat publik yang telah dipercayakan adalah baik dan mulia. Di sisi lain apabila analisis intermezo ini dikilas balik; maka dulu sebelum terpilih, bisa jadi muter-muter cari dukungan.

Masang-masang slogan, hambur-hambur kaos. Bagi-bagi hadiah. Konsep-konsep dan publikasi visi-misi, janji-janji program. Yang intinya: ‘pilih gue dong, lo kaga salah pilih deh, karena gue yang terbaik’.

Berarti hal ini tentunya sudah diniati sedari awal untuk jadi ‘orang penting’, yang berarti harus siap dengan segala sisi plus dan minusnya.

...... 'memang baik jadi orang penting, tetapi adalah lebih penting menjadi orang baik' ......

Lalu bagaimana dengan fenomena yang sudah menjadi rahasia umum. Bahwa pada proses seleksi legislatif dan atau eksekutif bisa jadi ada: money politic, kampanye outside jadwal. Atau curi start waktu kampanye. Dan banyak lagi kelucuan-kelucuan yang tidak lucu untuk dimainkan.


Di sisi lain sebagai masyarakat sudah sewajarnya ikut peduli atas pembangunan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Serta berpartisipasi terhadap kemaslahatan peradaban secara mikro dan makro dari dimensi ruang, gerak dan waktu. Dengan meninggalkan sisi minus masa lalu dan mencontoh sisi positif masa lalu untuk  masa kini. Serta berbuat lebih baik lagi untuk masa depan.

...’ dulu orang membutuhkan hasil produksi untuk dapat bertahan hidup,
sekarang hasil produksi membutuhkan orang untuk dapat bertahan ‘...
(Nicholas Johson).

Sebagai wakil rakyat yang terpilih dan pemimpin yang terpilih, sudah barang tentu masyarakat sangat mengharapkan concern dan responsif pro aktif yang mengacu kepentingan masyarakat. Karena predikat ‘actor is best very best for development’ yang tersandang bukanlah sekedar embanan brand merk/labeling untuk ego psikologis dan pamer materalistik semata. Lebih dari itu, adalah embanan tugas amanat yang mulia dan berat manakala berhadapan dengan problem public yang kompleks.

Membangun budaya aspiratif yang cerdas dan elegant, tentu harus mengarah pada proporsional logis, obyektif dan optimal.

Bahagian tugas yang berhadapan dengan tuaian kritik publik memang berat. Tetapi ketika hal tersebut terjadi hendaklah ditekankan pada sesuatu pemecahan masalah dan jalan keluar.

Bukan reaktif menyerang dan bersinisme politik serta tidak mempunyai solusi. Atau justru mencari-cari dalih dengan komunikasi politik yang logika pembenarnya terlalu dibuat-buat. Sehingga terkesan dan tertelisik dengan analisis bahwa iramanya hanya dagelan argumentasi lidah semata.

Di sisi lain titik yang berbahaya adalah manakala ‘pemain’ pembangunan menjalankan dan memainkan jurus: maling teriak maling. Lempar batu sembunyi tangan. Serta menggerakkan lidah tak bertulang dengan munafik agar terkesan seperti ‘pakaian bersih tanpa noda’ yang hanya menutupi raga dengan jiwa yang lapuk.

Kalau hal itu mungkin terjadi bisa saja kita semua miris, karena mempertanyakan kemana amanah suci tersebut akan di bawa?

Selamat Terpilih
Saijaan menunggu untuk lebih baik dan terus lebih baik lagi ....
Selamat berjuang para orang orang hebat .....

Untuk tutupan saya kutipkan puisi

K H  Ahmad Mustofa Bisri 

(Gus Mus)

NEGERIKU

Mana ada negeri sesubur negeriku

Sawahnya tak hanya menumbuhkan padi,
tebu dan jagung
Tapi juga pabrik, tempat rekreasi dan gedung
Perabot perabot orang kaya di dunia
dan burung burung indah peliharaan mereka berasal dari hutanku
Ikan ikan pilihan yang mereka santap bermula dari lautku
Emas dan perak perhiasan mereka di gali dari tambangku
Air bersih yang mereka minum bersumber dari keringatku

Mana ada negeri sekaya negeriku
majikan majikan bangsaku memiliki pulau pulau mancanegara
brangkas brangkas bank ternama dimana mana menyimpan harta hartaku
Negeriku menumbuhkan konglomerat dan mengikis habis kaum melarat
rata rata pemimpin negeriku dan handai taulannya terkaya di dunia

Mana ada negeri semakmur negeriku

penganggur menunggu di beri perumahan
gaji dan pensiun setiap bulan
rakyat rakyat kecil menyumbang negara tanpa imbalan
rampok rampok di beri rekomendasi dengan kop sakti instansi
maling maling di beri konsesi
tikus dan kucing dengan asyik berkolusi...

*) Yuri  biasa disapa Ceppe atau Utuh Iyur ; alumni Adm. Niaga FISIP ULM. Salah satu pelopor Mapala Fisipioneer. Kadang menulis tentang lingkungan, traveling, bisnis dan menyikapi fenomena sekitar.
Space Iklan

Tags

Posting Komentar