Konsep Sederhana Zairullah Serap Ribuan Tenaga Kerja, Kabar Gembira Nelayan - Jurnal Banua -->

Konsep Sederhana Zairullah Serap Ribuan Tenaga Kerja, Kabar Gembira Nelayan

Umay, asyik mengeringkan udang papai di desanya, Setarap, Sabtu (21/11) tadi | Foto: Jurnal Banua
Baunya semerbak, khas ebi (udang papai) basah. Umay berkeringat. Tangkapan ikan pesisir Satui ini terus menurun. Dia terkejut, mendengar ada calon bupati punya program pabrik ikan.

JURNALBANUA.COM, TANAH BUMBU - Sabtu (21/11) di Desa Setarap Kecamatan Satui. Langit cerah. Di tengah horizon tampak puluhan kapal tongkang batubara berjejer.

Pesisir di Satui dan Angsana memang berubah. Pelabuhan-pelabuhan batubara yang mulai marak dibangun sejak beberapa tahun terakhir, disinyalir memberikan dampak langsung terhadap kegiatan nelayan.

Mudah ditemukan pengakuan warga, tentang terus menurunnya tangkapan laut mereka. Ikan-ikan katanya seolah semakin jauh ke tengah. Ongkos bahan bakar minyak nelayan pun 

"Turun terus hasil melaut," aku Umay. Dia bersama istrinya, pagi Sabtu itu asyik mengeringkan udang papai. Bahasa lokal untuk ebi.

Baunya khas dan menyengat. Jika tidak terbiasa mudah pusing mencium aromanya.

Ditanya harapannya dengan beberapa calon bupati yang sedang berlaga di Bumi Bersujud, Umay tidak mendamba banyak. Katanya, cukup perhatikan nasib nelayan. Dan buatkan program yang berpihak pada mereka.

"Bantu sarana misalnya," ucapnya pelan.

Disinggung ada program dari salah satu calon bupati akan membangun industri pengolahan ikan, dia menyambut antusias. "Itu bagus, bisa menampung hasil nelayan. Harga jualnya juga bisa tinggi," katanya.

Ia rupanya sudah bisa membayangkan, industri itu akan menjadi alternatif bagi puluhan ribu nelayan Tanah Bumbu ke depannya. Sayangnya Umay tidak tahu siapa calon bupati yang memiliki misi ekonomi tersebut.

"Ada ya calon yang mau begitu?," tanyanya lugu.

Sekadar diketahui, calon bupati nomor urut 3, Zairullah Azhar dalam tiap kampanye dialogisnya menekankan dua fakta penting Tanah Bumbu saat ini. Tingginya pengangguran dan merosotnya pengembangan mental generasi muda.

Dua fakta itu saling berkaitan. Anak muda rata-rata hanya mengenyam pendidikan SMP. Sementara itu, kawasan pesisir banyak beralih ke kegiatan pertambangan.

Salah satu contoh di kawasan Angsana. Berdirinya pelabuhan khusus batubara di sana, membuat banyak nelayan beralih pekerjaan. Padahal, batubara merupakan bisnis yang tidak berkelanjutan, dalam hitungan tahun sudah habis.

Menyiasati semakin bertambahnya angka pengangguran, Zairullah memiliki misi untuk ekonomi berkelanjutan. Khususnya bagi nelayan di kawasan pesisir. Salah satunya adalah industri pengolahan ikan.

Industri itu akan menjawab tantangan ekonomi. Di sektor hulu, puluhan ribu nelayan akan memiliki alternatif pemasaran. Di sektor hilir sendiri, serapan tenaga kerja juga bertambah.

Rangkaian industri pengolahan ikan akan membuat mata rantai. Serapan tenaga kerja di sini bukan angka kecil. Mulai dari nelayan yang melaut, orang-orang yang bekerja di pabriknya, sampai distribusi pemasarannya.

"Apalagi kalau kita bisa menembus pasar ekspor. Berkolaborasi dengan nelayan-nelayan kabupaten tetangga. Konsep ekonomi ini akan terus berkembang, beda dengan batubara yang hanya hitungan tahun," beber Zairullah. (shd/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar