Ketika Amal Bertemu Zairullah di Rumah Panggung Samping Masjid - Jurnal Banua -->

Ketika Amal Bertemu Zairullah di Rumah Panggung Samping Masjid

Amal tak kuasa menahan haru saat memberi sambutan di hadapan Zairullah Azhar | Foto: Jurnal Banua

Amaludin, pria berbadan tinggi itu tak mampu menahan perasaan harunya. Suaranya bergetar. Di hadapan Zairullah ia seperti seorang anak yang curhat kepada ayahnya. Para ibu yang melihat pun terbawa suasana.

JURNALBANUA.COM, TANAH BUMBU - Senin (21/9) pagi, seperti biasa Zairullah Azhar olahraga ringan usai salat subuh. Lapat-lapat terdengar tawa anak-anak di asrama anak yatim.

Matahari mulai naik. Usai sarapan alakadarnya, Zai -begitu ia akrab disapa- terlihat masuk ke kamar mandi. Tak lama berselang, datang dua pemuda: Fawahisah dan Andi Asdar Wijaya.

Dua pemuda itu kontras visualnya. Satu tinggi besar dengan rambut panjang. Fawahisah, selain dikenal sebagai politikus PAN, juga merupakan atlet karate. Andi Asdar, politikus muda Golkar bertubuh kecil dengan penampilan rapi.

Mereka menunggu di ruang tamu Istana Anak Yatim. Tidak lama menanti, kamar Zai terbuka. Berbaju putih celana hitam, peci hitam. Zai langsung menyapa dan melemparkan senyum khasnya.

"Sehat? Alhamdulillah," ujarnya.

Fawa kemudian mengingatkan kembali, hari itu ada jadwal menghadiri undangan silaturahmi warga di Desa Rantau Panjang Hulu Kecamatan Kelumpang Hilir.

Meluncurlah mereka menggunakan roda empat. Mobil tua Zai memimpin di depan. Tanpa pengawalan. Sebelum ke luar jalan utama, Zai menyempatkan melayat tetangganya.

Kembali ke jalan utama. Terlihat pagi Tanah Bumbu mulai menggeliat. Polantas sudah sibuk mengatur di persimpangan-persimpangan jalan.

Roni, sopir pribadi Zai mantap memimpin iring-iringan kecil itu. Walau mobil tua, terlihat mesinnya terawat dengan baik.

Bukti tuanya mobil hitam polos itu, warga Tanah Bumbu sampai familiar. "Itu mobilnya Pak Zai," teriak seorang Ibu. Suaranya masuk ke dalam kabin mobil yang penulis tumpangi, di belakang rombongan.

Teriakan Ibu itu persis di daerah Sepunggur. Hanya beberapa meter dari hajatan pernikahan.

Rombongan terus naik ke arah Pagatan. Melalui jalan poros provinsi. Di daerah berpanorama hamparan luas padi sawah yang mulai berbulir, Roni belok kiri. Masuk gerbang Desa Rantau Panjang Hulu.

Di dekat masjid, berhenti. Kami disambut seorang pria tinggi. Berbaju putih. Memakai masker. Dari nada suara dan gerak-geriknya, bisa dipastikan lelaki tinggi itu masih muda.

"Dia Kepala Desa. Namanya Amaludin," kata seorang warga menjawab tanya wartawan.

Amaludin membawa Zai ke rumah panggung. Tepat di samping masjid. Rumah tua, tinggi dan panjang ke belakang. Kaca-kaca jendelanya banyak yang rusak.

Di dalam rumah, beberapa sepuh duduk bersila di ruang utama. Ibu-ibu di bagian belakang. Karena suasana pandemi, jarak dibuat lapang. Warga lainnya, memilih duduk di luar. Pengeras suara disediakan.

Masih mengenakan masker, Amaludin membeber kata-kata sambutan. "Warga sudah lama mau ketemu Bapak. Sukur hari ini kesampaian," jelasnya.

Ia kemudian melanjutkan, Desa Rantau Panjang Hulu rata-rata mengenang Zairullah sebagai tokoh panutan. Itu mengapa katanya, anak-anak di sana banyak dinamai Zairullah dan Azhar.

Konsep desa pun dari dahulu dibangun mengikuti cita-cita besar dokter Zairullah. Ekonomi kerakyatan dibangun atas prinsip gotong-royong.

Amal mengungkapkan, ketika mereka mendengar Zai berada di Tanah Bumbu, romantika warga kembali ke era periode awal. Suasana spiritualitas Tanah Bumbu yang kental. Kualitas pendidikan generasi muda yang menjadi perhatian utama.

Kilas balik itu, rupanya membawa ingatan Amal ke masa ia remaja. Nada suaranya tiba-tiba bergetar. "Warga kami rindu Pak suasana itu," lirihnya. Melepaskan kata-kata itu rupanya juga membuka bendungan emosionalnya. Ia terisak.

"Kami doakan...," kata-katanya terputus oleh air matanya. Bahunya sampai terguncang. Semua terdiam. Ibu-ibu mulai mengambil ujung kerudung, mengusap bulir yang tak tertahankan turun ke pipi mereka.

Warga yang berada di luar rumah juga larut terbawa suasana. Sukri, marbot masjid desa matanya berkaca-kaca. Ia duduk berjongkok, di pinggir jalan dekat pematang sawah.

Sukri tiap hari menatap Azhar, yang diabadikan ke nama masjid desa. Sekian lama, kerinduannya menatap Zairullah Azhar terobati hari itu. Walau hanya menatap dari luar rumah.

Entah takut ketahuan, bahwa dirinya juga terbawa haru, si tinggi besar Fawa sigap mengambil alih suasana. Ia memandu dirinya sendiri dan warga mengumandangkan kata-kata bernada semangat.

Suasana pun reda. Lanjut giliran Zai memberikan sambutan. Suaranya khas. Pelan namun jelas. Zai memaklumi, mengapa Amal dan warga berada di suasana emosional seperti itu.

Ia sendiri merasakan. Tanah Bumbu dari tahun ke tahun kehilangan pondasi. Kebersamaan spiritual yang dahulu terlihat di keseharian Tanah Bumbu sekarang memudar. Masing-masing seolah hanya saling berlomba mengejar dunia.

Amaludin (kanan) berpose bersama Zairullah Azhar

"Sedih saya melihat data. Kasus AIDS di Tanah Bumbu saat ini demikian besar. Narkoba," ucapnya.

Menurut Zai, Tanah Bumbu harus kembali ke konsep awal Bumi Bersujud. Dan itu bisa dicapai jika semua elemen di Tanbu bekerja sama. Kembali menata, mau dibawa ke mana kualitas daerah ini ke depannya. (shd/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar