Kampung Tangguh Banua, Konsep Jitu Melawan Corona dari Desa - Jurnal Banua

Kampung Tangguh Banua, Konsep Jitu Melawan Corona dari Desa

Arief Prasetya Sik M.Med.Kom saat meninjau Kampung Tangguh Banua di Kabupaten Tanah Bumbu

Catatan: Arief Prasetya Sik, M.Med.Kom*

DESA merupakan pertahanan kita dalam memerangi wabah pandemi. Desa adalah benteng terakhir. Jika wabah di desa-desa bisa kita kendalikan, maka penanganan corona akan jauh lebih mudah.

Inilah konsep Kampung Tangguh Banua gagasan Kapolda Kalsel Irjen Pol Nico Afinta, yang hari ini ditinjau Gubernur Sahbirin Noor di Desa Mekar Jaya Kecamatan Angsana.

Kampung Tangguh Banua (KTB), merupakan konsep brilian Kapolda Irjen Pol Nico Afinta. Dengan konsep gotong-royong warisan nusantara, warga memiliki kemandirian kolektif dalam menanggulangi dampak-dampak pandemi corona ini.

KTB didesain untuk menjadi kawasan yang mampu menerapkan new normal secara maksimal. Mulai kedisiplinan warga menjalankan protokol kesehatan. Sampai melakukan inovasi kreatif untuk menciptakan ketahanan ekonomi yang kuat

Di KTB Desa Mustika Kecamatan Kuranji misalnya. Disiplin melakukan protokol kesehatan grafiknya terus meningkat. Sarana cuci tangan mudah ditemukan di tiap rumah. Kesadaran kolektif warga bisa dilihat dari sarana yang mereka gunakan, ada yang dari galon bekas, hingga jeriken.

Bahkan, di KTB Desa Batulicin Irigasi, ke kebun pun, warga sudah terbiasa menggunakan masker. Warga gotong-royong menyediakan sarana kesehatan ini, memanfaatkan kain bekas dan jasa penjahit lokal.

Pemerintah desa, Polri-TNI ambil peran maksimal. Ada standar operasional bagi warga yang melanggar aturan. Lama-lama, aturan itu menjadi kebiasaan. Sederhananya, sistem kesadaran kolektif menerapkan protokol kesehatan itu, akhirnya menjadi budaya di masyarakat.

Berbarengan dengan itu, tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh di desa seperti kepala desa, Bhabinkamtibmas dan Bhabinsa terus mengedukasi warga terkait ketahanan ekonomi. Polisi di KTB Mekar Jaya, baru-baru tadi berhasil memanen setengah ton ikan lele dari kolam terpal di pekarangan.

Setengah ton sumber protein bukan nilai yang kecil untuk dibagikan kepada warga. Ditambah dengan pemanfaatan pekarangan kosong untuk sayuran, herbal dan lainnya, mampu menjawab kebutuhan dapur warga.

Ketahanan ekonomi di tengah pandemi ini dirasakan langsung, misalnya oleh penjual jamu. Ibu Sumiati di Desa Batulicin Irigasi dan Ibu Yayuk di Desa Maju Mulyo. Jamu anti corona mereka yang terbuat dari jahe, penjualannya mengalami kenaikan. Ibu Yayuk bahkan dalam seminggu mampu meraup laba kotor hingga Rp3 juta.

Ketika warga desa terbiasa menjaga protokol kesehatan, selanjutnya adalah membentengi mereka dari potensi-potensi terpapar wabah di tempat lain. Misalnya warga desa pergi ke pasar kota untuk memenuhi kebutuhannya, maka dia berisiko.

Menjawab tantangan itu, KTB di Kabupaten Tanah Bumbu punya konsep: menghadirkan keperluan masyarakat di tengah-tengah kampung.

Di KTB Desa Batulicin Irigasi, warganya mayoritas pekebun. Mereka tidak punya hasil ikan laut. Memenuhi kebutuhan ini, warga bekerja sama dengan para penjual ikan online keliling. Ada sekitar 10 pedagang ikan yang boleh masuk ke Desa Batulicin Irigasi.

Pedagang ikan punya jadwal masing-masing masuk desa. Nama-nama dan nomor hape para pedagang bahkan dibuatkan spanduk, dipasang di sudut-sudut desa.

Dampak dari aktivitas itu, tenaga kerja bertambah, kompensasi dari perubahan alur distribusi barang. Pasokan ikan di pasar pusat kota akhirnya terserap. Inilah konsep menghadirkan keperluan masyarakat di tengah-tengah kampung. Sederhana tapi solutif.

Maka KTB-KTB yang ada di Tanah Bumbu, kemudian membentuk relawan online. Terdiri dari anak-anak muda di desa. Relawan online ini memiliki panel data: toko apa menjual apa, dan seterusnya.

Di Kampung Tangguh Banua, Desa Maju Mulyo Kecamatan Mantewe, warga desa sudah melakukan kerja sama dengan pedagang kelontongan keliling yang menggunakan pikap.

Gotong-royong dalam menegakkan protokol kesehatan, mandiri dalam ketahanan pangan, dan menghadirkan keperluan masyarakat di tengah kampung, sangat efektif mengurangi jumlah kerumunan. Tapi tetap membuat ekonomi bergerak.

Efektivitas alur distribusi kebutuhan warga untuk menghindari kerumunan di pusat perbelanjaan itu, terbukti dengan dibentuknya kemitraan ojek online lokal (Omjek dan SBA Ojek), di Desa Bersujud, Desa Gunung Besar, Desa Kersik putih dan KTB-KTB di wilayah perkotaan.

Melihat perkembangan sekarang, kami dari kepolisian percaya, semakin banyak Kampung Tangguh Banua dibentuk, semakin mudah pengendalian wabah ini. Dampaknya, semakin matang kita dalam menuju new normal. Di mana semua kembali beraktivitas normal, tapi dengan protokol kesehatan yang ketat.

Dalam new normal, lapangan baru akan terbuka, jasa pengantaran barang online. Rumah makan akan kembali sibuk. Pasar-pasar sibuk mengemas pesanan warga. Semua itu kita jalankan dengan sabar, hingga pandemi berakhir.

Semua berawal dari desa. Berawal dari Kampung Tangguh Banua. Semoga lebaran tahun depan, kita kembali bisa saling bersentuhan fisik. Dan menjadikan pola hidup sehat menjadi kebiasaan kita. Amin.

*Wakapolres Tanah Bumbu


Dapatkan berita terbaru dari kami, dengan cara klik like atau suka Fanspage FB ini


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar