Ketika Bupati Tanbu Ketemu Sahabat Kecilnya yang Kerja Serabutan di Jalan - Jurnal Banua -->

Ketika Bupati Tanbu Ketemu Sahabat Kecilnya yang Kerja Serabutan di Jalan

Bupati Tanah Bumbu Sudian Noor akrab disapa Haji Dian (tengah) bertemu sahabat masa kecilnya Enggo di Kotabaru, Minggu (5/1) pagi tadi

Dahulu mereka bermain layang bersama. Dewasa: satu jadi bupati, yang lain bekerja serabutan di jalan. Sekian tahun tak bertemu. Minggu (5/1/20), mereka mengajarkan apa arti sahabat.

JURNALBANUA.COM, KOTABARU - Bupati Tanah Bumbu Sudian Noor, akrab disapa Haji Dian berakhir pekan ke Pulau Laut, Minggu (5/1) tadi. Ia memang lahir di Kotabaru, dekat Islamic Center.

Usai Subuh, Haji Dian memilih lari pagi. Memakai baju kaos bertulisan Indorunner Kotabaru. Dipadu celana olahraga panjang motif doreng.

Ia berlari melintasi jalan di depan Masjid Raya. Rencana mau ke Siring Laut.

"Udaranya terasa masih sama seperti zaman saya anak-anak," ujar Haji Dian.

Dekat Pasar Empat Serangkai, Haji Dian berhenti. Tampak di depan, persis seberang Bank BRI, sebuah bendera hijau dengan tiang kayu. Tanda ada yang berpulang.

Ke sana Haji Dian melangkah. Saat itu banyak pria berbaju koko dan batik. Sampai depan mereka, sejenak para pria paruh baya terdiam. Tetiba seorang maju dan berteriak.

Haji Dian disambut kenalannya

"Astaga Haji Dian..! Bupati Tanah Bumbu, ya ampun. Panjang umur bedapatan di sini," pekik seorang pria.

Ia lantas seperti berlari menghampiri Haji Dian. Memeluknya. Lama pelukan itu.

Haji Dian lantas ditarik masuk. Didudukkan di depan rumah duka. Di sana banyak ibu-ibu.

Kini giliran ibu-ibu itu yang memekik. Satu dua tampak memeluk Haji Dian.

Kepada Jurnal Banua yang kebetulan ada di sana, Haji Dian menjelaskan. Pria dan ibu-ibu itu sebagian adalah keluarga, dan mayoritas adalah tetangganya saat ia kecil.

Para ibu memandangi Haji Dian lekat-lekat. Seperti ibu yang melihat anaknya pulang merantau. Bertanya ini dan itu. Berapa anak, bagaimana istri, dan sebagainya.

Terungkap di sana, bahwa yang meninggal adalah salah satu kenalan Haji Dian. Meninggal mendadak, diduga serangan jantung.

Ketika ingin masuk melayat, dari rumah duka keluar mendadak Enggo. Wajahnya kusut, seperti habis menangis atau bangun tidur.

Hampir semua warga di pusat kota kenal Enggo. Pria itu bekerja serabutan. Kadang jadi tukang parkir. Tukang becak. Apa saja.

Melihat sosok di depannya, seketika Enggo memekik. Sementara Haji Dian menghampirinya. Saling pandang, kemudian saling peluk.

Seperti anak-anak mereka kemudian duduk, memegang bahu masing-masing. "Dulu kami sering main layang-layang sama-sama. Betegangan (adu layang-layang)," ujar Haji Dian. Matanya tampak berkaca-kaca.

Enggo (kanan) tertawa menceritakan masa kecilnya main layang-layang

Sementar Enggo berkali-kali mengatakan, kekagumannya. "Jadi Bupati kawanku waktu kecil, jadi Bupati. Tidak menyangka," ucapnya.

Dua pria berbeda jalan hidup itu pun bertukar cerita. Ini dan itu. Kopi dan kue dihidangkan.

Tidak lama, Haji Dian meminta ke dalam rumah. Ia bersama para pelayat lain mendoakan dan membacakan Yasin bagi almarhum.

"Tidak ada yang berubah. Masih sama seperti dulu. Terharu, sidin masih ingat lawan ulun (saya)," ucap Enggo.

Persahabatan yang tak lekang oleh waktu

Sementara Haji Dian berdoa, Enggo memilih mandi. Selesai, penampilannya berubah. Belum pernah Jurnal Banua melihatnya begitu: berpakaian alim serba putih.

Selesai doa, Haji Dian pamit diantar Enggo ke ujung jalan. Tampak tangan Bupati menyelipkan amplop ke saku Enggo.

"Jaga kesehatan kawan. Sama-sama kita saling mendoakan," pinta Haji Dian kepada sahabatnya itu.

Enggo, pemuda jalanan itu hanya tersenyum. Menepuk bahu Haji Dian. "Sejahterakan rakyatmu Bupati," balasnya tersenyum. (JB)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar