Mutiara Tersembunyi, Pelajar Tanbu Juara Cerpen se Kalsel - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Mutiara Tersembunyi, Pelajar Tanbu Juara Cerpen se Kalsel

Mutiara Tersembunyi, Pelajar Tanbu Juara Cerpen se Kalsel

Noor Jannah



JURNALBANUA.COM, BATULICIN - Mutiara yang Tersembunyi membawa nama harum SMKN 1 Kusan Hilir ke tingkat Kalsel. Cerpen gubahan pelajar kelas satu itu, didaulat jadi juara di ajang ASKS (Aruh Sastra Kalimantan Selatan) ke 16, di Tanah Bumbu, Minggu (17/11) tadi.

Sebelum aruh dimulai, para guru Bahasa Indonesia tingkat pelajar sudah diberi tahu. Akan ada lomba cerpen. Mereka diminta kirimkan karya terbaik siswa.

Waktu itu hampir deadline, panitia memberi perpanjangan waktu 10 hari. Di Banua, secara umum, ketertarikan pelajar terhadap literasi memang tidak setinggi beberapa provinsi lain.

Di tengah deadline itu, guru Bahasa SMKN 1 Kusan Hilir, Fauzi Rohmah, teringat muridnya yang masih duduk di bangku pertama. Noor Jannah namanya. Walau muda, namun Jannah punya bakat menulis yang baik.

"Waktu kita tinggal 10 hari. Bagaimana, kamu siap? Kita angkat tema budaya," ujar Rohmah.

Tantangan itu dibalas antusias oleh Jannah. Selama tiga hari Jannah berkutat, didampingi gurunya.

Jadilah cerpen berjudul Mutiara yang Tersembunyi. Di tangan juri, cerpen mendapat predikat terbaik tingkat pelajar. Disusul cerpen Kabut, Jannatul Nazwa dari SMAN 1 Banjarbaru.

Kemudian Nyanyian Angin oleh Juhriah dari SMAN 1 Tamban. Juara harapan Syair-Syair Pelaut, oleh Fitri Amelia dari SMPN 2 Tanah Bumbu.

Noor Jannah dan gurunya Fauzi Rohmah (kanan) di sekolah



Rohmah kepada Jurnal Banua, Selasa (18/11) tadi mengatakan, juara satu cerpen adalah sejarah pertama sekolah mereka. "Semoga ini bisa jadi momentum literasi bagi pelajar kami, khususnya pelajar di Tanah Bumbu," ujarnya. (JB)

Berikut cerpen karangan Noor Jannah.

Mutiara yang Tersembunyi


Oleh Nor Jannah

Sore itu, aku menatap sendu mentari yang mulai pulang ke peraduan. Burung pun berarakan menuju ke timur. Aku ingin hari berubah menjadi malam, lalu pagi, siang, dan malam lagi. Aku sudah benar-benar tidak sabar lagi menunggu lusa. Liburan semester, hal yang paling dinantikan oleh hampir seluruh siswa, salah satunya aku. Pasalnya tumpukan tugas dan ujian-ujian tidak akan aku dengar beberapa minggu ke depan. Liburan kali ini aku memutuskan untuk pergi ke rumah nenek, sudah tahun kedua aku tidak berlibur ke kampung halaman, tempat aku menghabiskan masa kecil. Ya, dari pada aku hanya menghabiskan masa liburan di rumah dengan bermain Hp, setidaknya aku bisa merasakan asrinya alam pegunungan di rumah nenek. Udara segar pegunungan yang selalu kurindukan, sebab di kota udara sudah tidak ramah lagi. Polusi udara menyerang paru-paru setiap detiknya.

Liburan kali ini bukan hal yang mudah untuk kuputuskan, sebab mama memberi saran agar aku meninggalkan Hp di rumah. Berat rasanya aku harus berpisah dengan Hp, apa lagi seminggu lamanya. Aku sudah membayangkan, betapa bosannya aku di rumah nenek tanpa Hp. Sempat, niat liburan kuurungkan. Tetapi rasa rinduku ke nenek mampu mengalahkan egoku.

***

Hari pertama di rumah nenek menjadi momen yang tidak akan kulewatkan begitu saja. Aku bergegas mandi dan berpakaian rapi, lalu kubuka jendela kamar. Udara segar pun menyergap tubuhku yang sedikit merasa kediginan. Aku menatap keluar jendela, kuhirup udara dalam-dalam. Huft ..., segarnya, sangat berbeda dengan kota. Mataku terkesima menyaksikan pemandangan yang begitu menawan, kebetulan jendela kamar berhadapan dengan gunung yang menjulang tinggi serta pepohonan yang masih berderet rapi, seolah memagari pedesaan.

“Sarapan dulu, Nak,” suara yang selalu kunantikan setiap pagi itu membuyarkan lamunanku. Nenek lah pemilik suara yang selalu kurindukan itu.



Aku pun cepat-cepat sarapan agar bisa segera keliling kampung. Setelah sarapan selesai, aku menuju ke garasi untuk mengambil sepeda kesayanganku hadiah dari ayah saat aku meraih juara satu, semester lalu. Kukayuh sepeda menyusuri jalan setapak demi setapak sambil memandangi keindahan pemandangan di sekitar. Kukayuh sepeda semakin cepat, perjalanan kali ini tidak semulus perjalanan di awal. Aku harus beradu kekuatan mengayuh dengan tanjakan yang menguras seluruh tenagaku. Tapi lelahku tak sia-sia, semua terbayar lunas dengan menyaksikan panorama di ujung tanjakan yang tidak kalah indah dengan yang kulihat sebelumnya di sepanjang jalan.

Pemandangan terasa berbeda saat berada di bawah, kali ini aku melihat sekumpulan anak-anak seusia adikku sedang asyik bermain. Aku berhenti sejenak dan membawa sepeda ke tepi jalan. Aku berjalan meninggalkannya menuju tempat anak-anak itu berkumpul. Kupandangi dengan seksama dari balik pagar yang mengitari lapangan, terdengar jelas olehku gelak tawa mereka. Kulihat mereka sedang asyik memainkan mainan tradisional yang tidak asing bagiku. Melihat mereka bermain dengan riang membuat aku kembali menerawang ke kenangan masa kecilku. Egrang, ya, namanya egrang. Permainan tradisional yang terbuat dari dua pasang bambu yang panjangnya mulai dari dua meter hingga 3, 5 meter dan diberikan pijakan untuk kaki pada bagian bawahnya. Jarak ujung atas bambu dengan tempat pijakan rata-rata sampai satu meter.

Memainkan egrang memang sedikit sulit bagi pemula. Hal pertama yang harus dilakukan adalah berusaha berdiri tegak di atas egrang, ke dua kaki bertumpu pada pijakan dan kedua tangan berpegangan pada bagian atas bambu. Setelah menemukan titik keseimbangan dengan baik barulah kita mulai melangkahkan kaki perlahan dan berjalan seperti biasa. Sungguh sulit dan menguras tenaga.

Aku asyik mengambil foto keceriaan mereka dengan kamera digital, satu-satunya barang elektronik yang diizinkan mama untuk aku bawa. Ketika sedang asyik memotret, tiba-tiba saja terdengar orang memanggil namaku.

“Ta ... Ta ..., Ita!” suaranya terdengar jelas dengan setengah berteriak.

Aku membalikkan badan sambil memandangi seorang laki-laki seumuranku. Dia berlari mendekatiku disertai nafasnya yang terengah-engah. Dia memandangiku seraya tersenyum.

“Masih ingat aku?” ia bertanya sambil mengernyitkan dahi.

“Hmm ...,” aku berpikir beberapa saat.

“Maaf siapa?”

Dia kembali tersenyum, “Aku Toni,” katanya singkat.

“Astaga, kau Toni. Kau kan?” aku ingat masa kecil dulu.

“Kenapa aku harus bertemu lagi denganmu?” gerutuku dalam hati.

Dia sangat menjengkelkan, sekarang aku ingat kenapa permainan yang aku lihat tidak asing bagiku. Ya, di waktu SD ada perlombaan egrang di sekolah. Toni bertanding dengan aku. Aku sebenarnya tidak terlalu bisa memainkannya, tapi karena tak sanggup menanggung malu karena dianggap takut kalah bertanding dengannya, terpaksa aku ikut saja perlombaan itu. Namun, apa daya, rasa maluku berlipat ganda. Belum mencapai garis finis, aku sudah jatuh. Jelas saja semua orang yang melihat tertawa terbahak-bahak menjadikanku tontonan dan bahan ejekan, tidak terkecuali Toni. Sedangkan aku hanya bisa menangis kesakitan sambil memegangi kakiku yang terluka. Sejak saat itulah bagiku Toni adalah anak yang menjengkelkan dan egrang permainan yang paling tidak kusukai.

“Biasa aja kali, Ta. Aku nggak bakalan nantangin kamu main egrang lagi, kok.” katanya membuyarkan lamunanku.

“Siapa juga yang takut?” tanyaku ketus.

“Ah, yang benar kamu berani?” Toni menggodaku.

“Hanya egrang, soal kecil.” Kataku sambil menjentikkan jari. Sebenarnya hatiku berlawanan dengan yang kukatakan, sebab setelah masa kecil aku dipermalukan, aku tidak pernah lagi bermain egrang. Hanya saja aku tidak mau dianggap remeh.

“Biasa aja, kali Ta. Jangan ambil pusing, aku tidak akan menantangmu. Ayo ikut aku,” ucapnya sambil menarik tanganku.

Dia mengajakku lebih dekat lagi dengan anak-anak yang bermain egrang itu dan duduk di teras rumah yang tidak jauh dari anak-anak berkumpul.

“Itu kelompok egrang milik bapakku,” suara Toni mengalihkan perhatianku.

“Apa istimewanya egrang? Apa kamu tidak tahu, bermain game online itu lebih mengasyikkan? Tidak harus lelah melangkahkan kaki di atas bambu, juga tidak akan kesakitan karena terjatuh dari egrang.” Ucapku sewot.

“Aku tahu beberapa permainan yang kamu maksud, Ta. Tapi bagiku, egrang itu istimewa. Permainan tradisional yang harus kita jaga kelestariannya,” Toni mematahkan pendapatku.

“Tapi, Ton, alangkah baiknya kalau ada permainan di Hp yang bentuknya egrang. Kita tidak harus cape, tidak harus jatuh, kita cukup menggerakkan jari tangan kita. Lebih mudah, kan?” aku masih saja dengan pendapatku. Ya, karena bagiku permainan di Hp itu lebih menarik dan praktis dari pada permainan kuno yang harus panas-panasan juga bisa membuat kita kesakitan.

“Ita, kamu harus lebih lama tinggal di sini, jadi kamu akan tahu betapa istimewanya permainan tradisional yang kamu anggap kuno itu.”



“Aku rasa tidak perlu, Ton. Aku ke sini karena rindu dengan nenek dan pemandangan desa ini. Bukan permainan kampungan itu,” tegasku sambil beranjak pergi.

“Tunggu dulu!” Toni menghadangku.

“Aku jamin, jika kamu setiap hari bersamaku, kamu akan ketagihan tinggal di sini. Kamu akan menemukan keasyikan jika bermain dengan mereka. Keasyikan yang tidak kamu temukan di kota. Aku berani jamin. Kita taruhan?” Toni menantangku.

“Minggir!” aku mendorongnya dan menuju sepedaku. Kukayuh menjauh dan menuju ke rumah nenek.

***

Malam telah larut. Hanya suara jangkrik yang memecah kesunyian, mengganggu lamunanku. Terus terang aku tertantang dengan ucapan Toni. Aku terus memikirkannya. Hmm, apa istimewanya permainan kuno itu? Aku terus memutar otakku, mencari jawabannya. Hingga pukul 01.15 wita, tidak juga dapat kupejamkan mata. Aku gelisah dan juga penasaran memikirkan ucapannya. Kuputuskan untuk menemui Toni besok. Akan kuceritakan betapa hebatnya permainan yang ada di Hp. Sayangnya, aku tidak membawa Hp jadi aku tidak bisa menunjukkannya. Kutarik selimut dan mencoba memejamkan mataku yang tidak juga mengantuk. Tetapi rasa lelah membuatku terhanyut, dan membuatku tertidur.

***

Ayam jantan berkokok bersahutan. Suaranya memekakan telingaku. Mengganggu tidurku yang kurasa baru saja nyenyak. Lagi-lagi, Toni melintas di pikiranku. Aku pun bergegas untuk mendirikan salat, setelah itu aku mandi. Kubuka jendela, kuhirup dalam-dalam udara pagi ini. Begitu menyegarkan. Seperti kemarin, setelah sarapan aku pun mengayuh sepeda. Tujuanku untuk bertemu Toni.

Di lapangan, tidak kujumpai batang hidup Toni. Hanya beberapa anak yang tengah bermain. Di antara mereka ada yang bermain egrang, ada juga yang lompat tali. Kuperhatikan mereka dari teras rumah yang kududuki kemarin, sesekali aku mengambil foto mereka dengan kamera yang tidak ketinggalan kubawa. Tergambar jelas keceriaan di wajah mereka.

“Halo, Ita, ya?” suara itu mengagetkanku. Aku menoleh ke arahnya.  Kulihat laki-laki separuh baya yang rambutnya telah mulai memutih. Ia menyunggingkan senyum yang hampir tidak kelihatan karena tertutup kumisnya.

“Hai, Ta. Ini bapakku,” suara yang tidak asing itu kembali membuatku kaget.

“Hai, Pak.” Aku menyalami ayahnya Toni.

“Ini lho, Pak, yang Toni ceritakan tadi malam,” sambungnya kepada ayahnya.

“Bagaimana, Ta, kamu berubah pikiran?” tanya Toni penasaran. Aku kikuk ditatapnya.

“Nak, tidak apa-apa kamu punya pendapat berbeda, kok, mengenai sebuah permainan. Hal yang harus diingat adalah, kita tidak merugikan orang lain.” suara ayah Toni memecah kebisuanku. Kuedarkan pandanganku ke arah lapangan, anak-anak itu masih asyik dengan permainannya. Gelak tawa tidak jarang terdengar menggema.

“Mereka anak asuh, Bapak. Bapak membuat kelompok bermain, khusus permainan tradisional dengan harapan permainan itu tidak akan punah. Di setiap tahunnya, Bapak membuat perlombaan. Terkadang, mereka Bapak ikutkan lomba yang diadakan kecamatan atau pihak yang lainnya. Coba kamu lihat, menyenangkan bukan? Mereka tertawa dan bersenda gurau.” Ayah Toni menjelaskan. Aku menyimaknya tanpa berani membantah.

“Ta, yuk ikut aku. Kita ikut main dengan mereka,” lagi-lagi Toni menarik tanganku tanpa menungu persetujuanku.

Toni membimbingku bermain egrang. Awalnya, aku takut karena egrang yang kumainkan lebih tinggi dari pada dulu yang kupakai selagi SD. Aku gemetaran saat melangkahkan kaki yang berpijak pada bambu.

“Tenang, Ta. Jangan gugup! Kamu pasti bisa!” Toni menyemangatiku.

Berkali-kali aku hampir jatuh, Toni sigap menahan bambuku. Hingga akhirnya aku mulai dapat mengusai diri dan seimbang saat melangkahkan kaki. Aku mulai larut dengan permainan ini yang ternyata mengasyikkan. Aku merasa lebih tinggi dari yang lainnya keran berada di atas egranng. Aku pun mulai tenggelam dalam keceriaan bersama anak-anak asuhan ayahnya Toni.

Bruk ... Aku terjatuh. Bambu yang kulangkahkan menubruk batu. Kaki dan sikuku lecet, sedikit berdarah. Aku mencoba bangkit, namun terjatuh lagi. Ada rasa nyeri di kakiku hingga tidak sanggup untuk berdiri. Aku duduk dikerubungi oleh anak-anak. Mereka ada yang mengelap darah di siku dan kakiku. Ada yang berusaha mengurut kakiku.

“Kamu tidak apa-apa?” Toni bertanya dengan raut wajah khawatir.

“Seperti yang kamu lihat. Apa aku tidak apa-apa?” jawabku kesal. Ada rasa malu, tapi kulihat tidak ada yang tertawa mengejekku seperti saat aku terjatuh dulu. Mereka sibuk ingin menolongku sebisanya. Toni berusaha membantuku berdiri, lalu memapahku menuju rumahnya yang tidak jauh dari lapangan.

“Maaf, ya!” ucap Toni singkat. Aku tersenyum kecut.

Di rumah Toni kulihat banyak alat bermain, semuanya permainan tradisional. Rupanya ayah Toni serius dalam melestarikannya. Kulihat banyak penghargaan yang ditempel di dinding. Aku baru tahu, ternyata ayah Toni mengelola ini dengan panggilan nurani.

“Ayah sangat prihatin dengan kondisi masyarakat saat ini, khususnya anak-anak. Mereka tidak mengenal kebudayaan lokal yang dimiliki negara ini, salah satunya permainan tradisional. Sebagai generasi muda, aku pun ikut prihatin melihat semua ini. Mereka hanya mengenal permainan modern yang diperoleh melalui Hp atau teknologi canggih. Sungguh miris melihat keadaan ini, padahal permainan tradisional kita tidak kalah menarik dengan permainan modern, salah satunya saja egrang. Egrang adalah permainan yang ramah lingkungan, tidak membutuhkan banyak uang untuk memilikinya. Andai saja masyarakat mau bersama-sama melestarikan kebudayaan lokal yang kita miliki, sudah pasti negara kita akan menjadi tujuan utama para wisatawan asing.” Toni menjelaskan panjang lebar.

Aku tercengang mendengar pembahasan Toni tentang arti pentingnya kebudayaan. Ternyata dia sangat mencintai kebudayaan, khususnya permainan tradisional. Sikap dan ucapan Toni menampar harga diriku yang lebih menyukai permainan modern. Dia seakan mengingatkanku akan pentingnya memiliki rasa cinta terhadap kebudayaan.

“Rasa cinta terhadap budaya itu membuat kita merasa memiliki, maka kita akan selalu menjaganya tidak akan membiarkannya hilang, apalagi dirampas oleh negara lain.” Toni menyadarkan pendapatku yang ternyata keliru. Aku merenungi ucapan Toni.

“Kamu benar, Ton. Andai saja sedari dulu aku menyadari hal itu,” ucapku singkat setengah malu.

“Budaya lokal, cikal bakal lahirnya budaya nasional yang akan menjadi ikon atau penanda sebuah negara. Ketika kebudayaan lokal tidak lagi terjaga, maka kebudayaan nasional akan tergerus, maka tunggulah kehancuran bangsa ini yang tidak mencintai budayanya. Oleh karena itu, marilah kita jaga mutiara-mutiara yang tersembunyi itu dan menjadikan dia bersinar sepanjang masa,” sambung Toni penuh semangat.

Hari itu kuhabiskan waktu untuk bermain egrang bersama Toni, kaki yang tadi terasa sakit karena jatuh tidak kurasakan lagi. Liburan kali ini adalah liburan yang sangat berharga bagiku. Aku bertemu Toni, jiwa mudanya berkobar dalam melestarikan budaya, ia menyadarkanku bahwa sebagai anak bangsa yang baik, kita diharuskan untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan, terlebih budaya lokal agar tidak musnah dan membiarkan mutiara-mutiara tersembunyi itu tetap bersinar sepanjang masa.

***


BIODATA PENULIS

Nor Jannah, lahir 16 tahun yang lalu pada tanggal 15 September 2003. Ia suka bermain catur serta membaca dan menulis. Pernah mengikuti lomba menulis cerpen tapi gagal membawa pulang hadiah, tetapi itu tidak membuatnya patah semangat untuk mengikuti lomba kembali. Karena kegagalan bukan berarti berakhir. Ia sekarang tengah menempuh pendidikan di SMK Negeri 1 Kusan Hilir kelas X jurusan ATP.



Space Iklan

Tags

Posting Komentar