Mereka Meninggalkan Kampung Halaman, Berharap Peluang Kerja Dari BLK - Jurnal Banua -->

Mereka Meninggalkan Kampung Halaman, Berharap Peluang Kerja Dari BLK

Remaja pria salto di halaman BLK Kotabaru

Hikmah dan Siti Aminah, dua gadis berparas ayu. Duduk tersipu malu, ketika lensa kamera mengarah ke wajah mereka.

JURNALBANUA.COM, KOTABARU - Rabu (27/2) siang, tawa anak-anak muda membahana. Di Balai Latihan Kerja (BLK), Desa Sigam Kecamatan Pulau Laut Utara.

Remaja pria hilir mudik di lorong kelas. Remaja putri menyebar. Ada di kantin, ada di dalam asrama.

Tiga buah pintu asrama putri terbuka lebar. Tawa renyah sesekali terdengar dari baliknya. Jurnal Banua lantas menuju asal suara itu.

Di dalam kamar ukuran sekitar 3,5 meter persegi sama sisi itu, gadis-gadis duduk melingkar. Di depan pangkuan mereka nasi kotak. Masing-masing punya.

Hikmah dari Pulau Laut Kepulauan, Pulau Kerasian. Sudah sekitar seminggu dia di BLK. Pisah dari orang tua.

Hikmah dua dari kiri bersama sahabatnya

"Kadang rindu sama orang di rumah," ujarnya.

Dia baru saja lulus SMA. Pergi ke BLK karena masalah klasik. Ekonomi. Di BLK belajar gratis. Malahan dikasih uang saku Rp25 ribu satu hari.

Program latihan kerja ini sudah berlangsung sejak tahunan lalu. Baru dengar? Kurang populer memang. Padahal di Kotabaru banyak anak-anak yang menganggur, tidak punya keahlian. Sepertinya gaung BLK perlu ditabuh keras-keras.

Di BLK itulah Hikmah belajar. Ambil jurusan komputer. Bisa Anda bayangkan? Lulus SMA sederajat mengambil latihan komputer program kantoran dasar: word dan lainnya.

Di ruangan sebelah, Siti Aminah tersenyum. Rambutnya sebahu hitam dan lebat. Dia juga mengambil jurusan komputer.

Hampir semua gadis-gadis itu belajar komputer. "Maunya kerja di kantor. Rencana nanti masukkan lamaran di perusahaan di Sungai Danau," katanya.

Siti Aminah

"Dia enak. Ada orang dalam (di perusahaan)," kata teman Aminah. Terdengar tawa geli.

Aminah dari Kecamatan Pulau Laut Timur. Sama dengan Hikmah, ia pun baru lulus SMA.

Butuh Modal Usaha

Latihan kerja di BLK lamanya satu bulan setengah. Bagi remaja atau pemuda yang serius, waktu itu cukup untuk menjadi seorang yang lumayan ahli.

Fadly misalnya. Anak muda yang tinggal di Simpang Karya pusat kota itu, sekarang sudah bisa bongkar full dan perbaiki mesin motor.

Dia belajar satu bulan setengah saja. "Fadly memang rajin. Dia tanya terus, pokoknya di luar kelas pun tetap belajar," ujar seorang rekannya.

Kepada Jurnal Banua, Fadly membenarkan. "Saya suka mesin. Suka otomotif," akunya.

Sekarang dia kerja di BLK. Membantu-bantu bengkel profesional balai tersebut.

Fady

"Mau sih punya bengkel sendiri. Tapi gak ada modal. Mahal biayanya bikin bengkel," akunya.

Menurut Fadly, BLK bisa menjadi salah satu alternatif bagi anak muda di daerah yang belum punya biaya cukup. "Banyak di sini. Ada juga listrik, las untuk industri pabrik," tekannya.

Tidak Perlu Ijazah Untuk Masuk BLK

Selain sudah ahli memperbaiki motor, Fadly juga memiliki sertifikat lulus dari BLK. Sertifikat itu bertaraf nasional.

"Mereka ada sertifikat yang dikeluarkan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)," kata Kepala BLK Siswanto.

Lalu bagaimana cara masuk belajar ke BLK? Siswanto mengatakan, anak muda cukup mendaftar. "Syaratnya yang penting bisa baca dan tulis," paparnya.

Di dalam BLK mereka akan mendapatkan tempat menginap. Makan dua kali sehari. Dan uang saku per orang Rp25 ribu.

"Bagaimana? Sudah dikasih uang dapat ilmu lagi," tambah Siswanto.

Daya tampung BLK sebanyak 180 orang. Dalam setahun BLK dapat menggelar enam angkatan.

Beberapa perusahaan mengirimkan instruktur untuk memberi pelatihan di BLK. Seperti PLN, perusahaan perkebunan dan lainnya.

Minta Perusahaan Prioritaskan Tenaga Lokal

Di BLK, Kadisnakertrans Kotabaru Kamiruddin mengatakan, sudah menyurati hampir semua perusahaan di Kabupaten Kotabaru.

Suratnya memberitahukan ada tenaga kerja siap pakai. Berharap para pimpinan perusahaan memprioritaskan para pekerja lokal itu.

Dari data yang dia pegang, tahun 2016 serapan tenaga kerja dari lulusan BLK sebanyak 72 persen. Tahun 2017 naik jadi 74 persen.

Di tahun 2018 meningkat menjadi 76 persen. "Kami harap tahun 2019 ini serapannya bisa di atas 85 persen," imbuh Kamiruddin

Kamir demikian ia akrab disapa. Mengimbau para kepala desa membuat kelompok yang nanti akan dikirim ke BLK.

"Saya kasih contoh. Misalnya mereka mendatangkan instruktur dari luar daerah belajar menjahit, lebih baik kelompok warga dibawa ke BLK saja. Uangnya bisa dipakai beli mesin jahit," paparnya.

Kamir kemudian menambahkan, mereka sedang mengumpulkan data. Tenaga kerja apa yang paling dibutuhkan perusahaan.

"Karena bisa saja SDM kita yang memang kurang. Skill yang diperlukan tenaganya tidak tersedia," ungkapnya.

Namun dia juga mendorong, agar anak muda mau berwirausaha. "Kalau mau buka usaha. Pemerintah siap memberikan dampingan," tekannya. (JB)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar