Anak-anak Berlarian, Loreng Cokelat di Kotabaru Dengar Keindahan Islam - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Anak-anak Berlarian, Loreng Cokelat di Kotabaru Dengar Keindahan Islam

Anak-anak Berlarian, Loreng Cokelat di Kotabaru Dengar Keindahan Islam

Anak-anak berlarian di Masjid Agung Khusnul Khatimah sebelum ceramah dimulai

Namanya Ali Saleh bin Humaid. Dari Hadramaut. Murid Habib Umar bin Hafidz. Begitu kata pemandu acara.

JURNALBANUA, KOTABARU - Ali Saleh tidak bisa berbahasa Indonesia. Ceramah maulid Nabi di Masjid Agung Khusnul Khatimah pakai penerjemah.

Ceramah malam Jumat akhir November tadi. Di barisan depan banyak jemaah seragam cokelat dan loreng. Maulid digagas Polres Kotabaru.

Entah bagaimana caranya, bisa mendatangkan penceramah dari Hadramaut itu. Pastinya banyak warga datang. Anak-anak berlarian, makanan diedarkan.

Wajah Kapolres AKBP Suhasto yang duduk di barisan depan, terlihat lebih putih dari biasanya. Entah pengaruh lampu memantul dari dinding tegel putih. Atau karena kupiah putihnya.

Ali Saleh bin Humaid membaca doa
Di samping Kapolres duduk Dandim 1004 Letkol Inf Rony Fitriyanto. Pakai baju koko putih, peci hitam. Di kanan kiri mereka beberapa tokoh agama sepuh Pulau Laut.

Di depan, beberapa layar TV datar. Siaran langsung. Jemaah barisan depan yang duduk di pojok kanan dan kiri memilih nonton dari layar TV. Lebih enak.

Penasaran juga jadinya. Apa yang mau disampaikan Ali Saleh. Wajahnya khas Timur Tengah. Pakai baju jubah panjang warna cokelat. Pakai kaca mata.

Suaranya tidak berat tapi nyaring. Kalau tersenyum lebar, terlihat deretan gigih bersih. Berbaris rapat, putih. Kontras dengan warna janggutnya.

Berceramah lah dia. Bahasa Arab. Kalimat yang dia gunakan tidak terlalu panjang. Tapi penerjemah menafsirkan dengan jumlah kata, yang sepertinya lebih banyak sedikit, dari pada jumlah kata yang diucapkan Ali Saleh.

It's okey. Selama pas aja, gak apa-apa lah.

Walau ceramah yang sejam bisa jadi dua jam setengah jika penerjemahnya begitu. Tapi mungkin memang harus begitu, menerjemahkan makna kalimat dari Arab ke Indonesia. Bukan semata artikan kata per kata.

Kata Ali Saleh. Muslim beruntung punya panutan sekaliber Nabi Muhammad.  Agama lain dulu, masuk Islam karena terpesona akhlak Nabi.

Tutur kata, perlakuan Nabi laksana untaian mutiara. Bukan saja kepada sesama manusia, juga ke tumbuhan dan hewan.

Satu-satu Ali Saleh mengisahkan kisah-kisah keindahan pribadi Nabi. Kisah-kisah itu sering kita dengar sebetulnya. Tapi cara Ali Saleh menyusun kisah satu ke kisah lainnya, mengembalikannya ke masa kini. Seperti orang yang berjalan memakai mesin waktu ke masa silam, kembali dan berkata: ini lho mutiara yang harusnya kamu pakai, bukan perhiasan imitasi itu.

Suatu ketika ujar Ali Saleh, di medan perang. Seorang pejuang Muslim membawa air minum. Dia mendengar jerit kehausan dari sudut sana. Berlari lah ia ke tempat suara jeritan itu.

Ketika yang menjerit tadi ingin diberi air, tiba-tiba di ujung lain terdengar teriakan serupa. Yang mau diberi air tadi juga mendengar lantas berkata: sudah kamu ke sana dulu, sepertinya yang di sana lebih haus dari pada aku.

Sampai di sana, prajurit yang bawa air tadi, kembali mendengar jeritan serupa. Orang ke dua yang ingin diberi minum berkata persis seperti orang pertama: sudah kamu ke sana dulu, sepertinya dia lebih perlu dari aku, nanti dia keburu mati.

Berlari lagi prajurit pembawa air ke suara teriakan orang ke tiga. Tapi dia lambat, yang terakhir berteriak sudah meninggal.

Berlari lah dia kembali ke orang ke dua, ternyata meninggal juga. Dengan dada yang penuh kesedihan, berlari prajurit tadi ke tempat pertama. Yang pertama menjerit haus tadi ternyata sudah meninggal juga. Pecah lah tangisnya.

Sudah kah kata Ali Saleh, kita Muslim seperti itu? Rela berkorban untuk orang lain.

Kita haus, tapi mendengar orang lain haus, kita dahulukan orang itu. Berbuat baik di masa sulit, sudah mampukah kita Muslim?

Ali Saleh juga menceritakan kisah putri Nabi, Fatimah dan suaminya Ali. Kisah ini terkenal sekali.

Suatu ketika anak-anak Fatimah, Hasan dan Husain sakit. Bernazarlah Ali dan Fatimah, jika Hasan dan Husain sembuh akan puasa tiga hari. Sembuh. Maka nazar ditunaikan, Hasan dan Husin ikut puasa.

Waktu itu di rumah mereka hanya ada tepung jo, kualitasnya lebih rendah dari gandum. Hasil upah kerja Ali memetik kurma.

Hari pertama puasa dibuat seporsi roti untuk berbuka. Saat ingin buka puasa, rumah diketuk. Ternyata yang datang orang miskin yang sedang kelaparan. Diberikanlah roti itu oleh keluarga Ali. Mereka sendiri buka puasa dengan air putih saja.

Hari ke dua, Ali tetap kerja, diupah lagi tepung jo, dibuat lagi seporsi roti. Saat ingin berbuka, pintu rumah diketuk lagi. Kali ini yang datang anak yatim, juga kelaparan, diberikan lagi roti itu. Buka puasa dengan air putih lagi. Semua lemas. Namun nazar puasa sisa satu hari, mereka pun bersabar.

Hari ke tiga, Ali tetap semangat kerja. Dia sudah biasa kerja keras dan menahan lapar. Dapat lagi upah tepung jo. Sampai di rumah dibuat lagi roti.

Keluarga Ali sudah demikian lemah. Senja datang, saat hendak buka puasa, pintu rumah diketuk lagi. Yang datang orang mengaku tawanan perang baru bebas dan sangat kelaparan. Keluarga Ali kembali memberikan roti itu.

Esok hari, Ali membawa Hasan dan Husain ke rumah Nabi Muhammad. Rasulullah terkejut melihat cucu-cucunya pucat dengan badan gemetar. Ali pun menceritakan kepada mertuanya apa yang sudah terjadi.

Setelah itu, Nabi Muhammad dan para sahabat ke rumah Ali. Di sana Fatimah menyambut ayahnya. Jalannya sempoyongan, badannya gemetar. Mata Rasulullah berkaca-kaca, pipinya yang putih basah. Dipeluknya putrinya.

Begitulah akhlak Nabi, keluarga dan sahabat masa itu. Maka bagaimana kah mereka tidak berduyun-duyun memeluk Islam? Bagaimana panglima perang sehebat Umar bin Khattab tunduk pada Nabi? Bagaimana Abu Bakar pengusaha kaya raya mau jadi pemegang tali unta Nabi?

Itulah keindahan Nabi kata Ali Saleh. Itulah keindahan Islam.

Di samping pagar masjid, terlihat setia tukang pentol, menuangkan saus tomat ke bungkus plastik. Kendaraan-kendaraan diparkir di halaman. Kembali ke jalan, klakson-klakson ramai, sibuk. Sebuah toko hape ramai pengunjung. Dulu toko itu, jualan kaset, pernah alami musim nasyid. Dulu anak muda di jalan kota biasa dengar Nabi dari alunannya. (JurnalBanua)
Space Iklan

Tags

Posting Komentar