Lika-liku Mega Proyek Siring Laut, Pekerja Minta Tambah Waktu - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Lika-liku Mega Proyek Siring Laut, Pekerja Minta Tambah Waktu

Lika-liku Mega Proyek Siring Laut, Pekerja Minta Tambah Waktu


JURNALBANUA, KOTABARU - Jumat (23/11) kemarin, deadline mega proyek pelebaran Siring Laut Rp13,6 miliar. Sore hari, terlihat pekerjaan belum rampung, pekerja beberapa sibuk membenahi rakitan besi, sisanya merapikan semen curah ke lantai.

Pekerjaan ini menjadi sorotan banyak pihak. Lokasinya persis di depan kantor bupati. Kisahnya berliku-liku, pro dan kontra. Mulai dari proses lelang yang disoal, sampai pekerjaan yang lambat dimulai. Kontrak proyek yang dimenangkan PT Duta Ekonomi mulai 28 Mei tadi, tapi baru mulai di lapangan awal September.

Artinya, tiga bulan berjalan masa kontrak, pekerjaan di lapangan baru dilakukan. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Khairian Ansyari, terlihat memantau pekerjaan di ujung deadline itu. "Kemarin hitungannya sudah 90 persen fisiknya. Ini tinggal sedikit lagi," ujarnya, di Siring Laut, Jumat (23/11).

Selesaikah tepat waktu? Khairian tidak bisa memastikan. Kontraktor ujarnya masih ada waktu sampai pukul 24.00 malam.

Dia mengungkapkan. Sekitar 20 hari lalu, Duta Ekonomi sudah mengusulkan perpanjangan waktu. Sekitar satu minggu sesudah deadline. Dengan konsekuensi denda satu per seribu dari sisa pekerjaan. Misalnya sisa pekerjaan Rp3 miliar, maka denda per hari Rp3 juta.

Apakah usul itu diterima? Khairian mengaku belum ada keputusan. Karena proyek itu dikawal Kejaksaan Negeri Kotabaru sebagai TP4D, dia akan meminta saran dan pertimbangan jaksa. Walau, keputusan final tetap ada di instansinya.

Pun begitu, menurut Khairian, kalau juga tidak selesai, sisa pekerjaan juga tidak banyak. Kalau kontraktor tidak diberi waktu perpanjangan, maka sisa pekerjaan baru akan dilanjutkan di pembahasan anggaran 2019. Dengan kata lain, Khairian menyampaikan, rugi jika pekerjaan tidak dituntaskan, walau harus memberikan kebijakan perpanjangan waktu.

"Tapi kami koordinasi dulu dengan kejaksaan. Bagaimana pun, mereka adalah TP4D yang mendampingi proyek ini."

Salah satu pekerja, Yusuf, membenarkan perusahaan sudah mengajukan usul perpanjangan waktu. Dengan konsekuensi kena denda. "Tapi hitungan kami, dua atau tiga hari perpanjangan bisa selesai," akunya.

Khusus proyek pelebaran Siring Laut itu, memang sempat mendapat sorotan. Dimenangkannya Duta Ekonomi asal Sampang Jawa Timur itu memantik protes dari beberapa kontraktor lokal. Saat lelang, Duta Ekonomi bersaing ketat dengan PT Lidy's Artha Borneo yang menawar lebih rendah Rp12,6 miliar.

Borneo digugurkan dengan alasan tidak memberikan sertifikat ISO 2015. Tapi Borneo balik protes, karena menilai Duta Ekonomi kecil kemungkinan bisa membawa batching plant (pengolah semen curah), yang berada di Jawa. Semua alat penting pendukung kerja Duta Ekonomi memang berada di Jawa. Borneo sendiri berada di lokal.

Panitia lelang menjawab protes itu. Pemenang katanya siap membawa alat batching plant dari jawa. Dituangkan dalam pernyataan bermaterai. Panitia pun sudah ke Jawa memeriksa semua alat Duta Ekonomi. Katanya semua lengkap.

Namun, September 2018, yang datang hanya tiang pancang dan kapal LCT. Batching plant tidak ada. Belakangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengatakan, tidak ada biaya mobilisasi alat. Juga tidak memungkinkan alat ditaruh dekat pekerjaan karena berada dalam kota. Aktivitas batching plant memang menimbulkan polusi yang besar.

Jawaban pemerintah itu kembali menuai kontra di kalangan kontraktor. Belum ada kata mereka, kontrak besar dengan alat khusus, yang tidak ada biaya mobilisasi alatnya. Bagaimana kontraktor berani bekerja, jika tidak ada biaya mobilisasi alat? Sama saja dengan rugi besar. Mereka pun menduga, ada yang tidak beres dengan proses lelang mega proyek itu.

Belakangan, kontraktor beralasan, mereka tidak jadi bawa, karena pemerintah meminta memasang alat teesebut pada radius sekian dari proyek. Syarat itu tidak bisa mereka penuhi. Akhirnya, Duta Ekonomi memutuskan untuk membeli semen curah yang sudah jadi dari perusahaan lokal. Tempat pengolahannya sekitar 5 kilometer dari pusat kota. Di depan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Kotabaru. Persis di pinggir jalan utama poros kota.

Lika-liku tidak berhenti di sana. September awal, surut air laut cukup tinggi. Pekerja terpaksa, menyesuaikan waktu, untuk memasang tiang pancang. Ada sekitar 216 titik tiang. Satu titik ada yang memakai dua buah tiang, ada yang tiga tiang. Tiang itu ditumbuk ke dalam laut, sisanya dipotong. Banyak potongan tiang yang masih berukuran panjang.

Para pekerja bekerja siang malam. Pria-pria yang terlihat senior awalnya bekerja tanpa pengaman lengkap. Tapi ketika aksi berani mereka tanpa helm dan alat pengaman lainnya disorot media, barulah alat pengaman dilengkapi. Terlebih ketika kejaksaan meninjau ke lapangan Oktober tadi, semua pakai rompi.

Kata konsultan, lebar lantai di atas laut itu 49 meter, panjangnya 64 meter. Atau luasnya 3.136 meter persegi. Pekerja kerja dan lembur. Lembur tidak pakai shift. Entah bagaimana pekerja bisa bertahan di lapangan. Pemasangan bekisting dilakukan hampir berbarengan dengan tiang pancang.

Paruh awal November tiang pancang selesai, bekisting menyusul. Tidak lama, pengecoran lantai pun dilakukan. Siring Laut adalah kawasan populer tempat warga santai dan menikmati hiburan. Panggung musik ada di sana. Aktivitas warga sore hari di Siring dan malam hari padat. Debu semen dari truk molen pekerja sempat dikeluhkan warga.

Selain lantai Siring Laut, juga ada dua proyek lainnya yang belum selesai. Dermaga Siring oleh perusahaan yang beralamat di Kaltim, PT Palem Citra. Kontraknya Rp2,7 miliar. Deadline 3 Desember. Kata Khairian, proyek ini tinggal menyelesaikan bekisting dan cor semen.

Kemudian ada pembuatan dua buah patung Ikan Todak. Kontaktornya dari Jatim, PT Dian Sentosa dengan nilai proyek Rp4,8 miliar. Satu patung kata Khairian sudah ada di Siring Laut. Satunya masih di perjalanan dari Jogja ke pelabuhan di Surabaya. "Saya belum tahu, apakah nanti dari Surabaya ke Banjarmasin atau langsung ke Batulicin," ujarnya. Proyek ini deadline nya tanggal 13 Desember. Jadi total tiga proyek di Siring Laut nilainya mencapai Rp21,1 miliar.

Terbuat dari apa patung todak itu? Radar Banjarmasin pernah melihat patung yang sudah datang. Masih dibungkus. Tidak terlalu besar. Seperti ranjang untuk dua orang dewasa. Dari celah bungkusan yang terbuka, patung itu tampaknya terbuat dari besi atau semacamnya. Kata Khairian, patung nanti mengeluarkan air dari mulutnya, saling berhadapan. Ide ikan todak mengeluarkan air mancur ini pernah dicuatkan bupati sebelumnya Irhami Ridjani kepada awak media.

Khairian mengatakan, penambahan lantai Siring Laut akan menambah daya tarik wisatawan. Dia mengaku, pengunjung Siring Laut terus meningkat. Dan 2019 nanti, proyek rencananya akan kembali dilanjutkan. Lantai diperpanjang, dan akan dibuat wadah-wadah kuliner seperti yang ada di ujung lantai yang lama.

Dia juga menyampaikan, jika sebelumnya terlihat enggan memberikan keterangan kepada wartawan, karena banyak urusan dan pekerjaan yang harus dilakukan. Dia mengaku kadang kelelahan di lapangan. Dia pun meminta wartawan memaklumi itu. "Tapi saya pribadi tidak anti kritik," ujarnya.

Semua berita-berita akunya dia baca dan pelajari, jika ada tanya belum terjawab, Khairian mengaku segera berkoordinasi dengan bagian teknis yang mengerti. Bagaimana jawabannya, dan sebagainya.  "Kan saya bukan orang teknis," tambahnya. Mengingatkan, seperti telah diberitakan koran ini beberapa waktu lalu, Khairian, memang sempat terlihat mengeluh karena sering ditanya alat batching plant. Waktu itu dia mengatakan, kenapa wartawan tanya batching plant terus. Dia pun meminta wartawan menanyakan ke bawahannya.

Terlepas dari pendapat Khairian kalau mega proyek Siring Laut akan meningkatkan kunjungan wisatawan, ternyata tidak semua setuju dengan proyek tersebut. Akhir September, Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) Kotabaru unjuk rasa turun ke jalan. Salah satu yang disuarakan adalah proyek Siring Laut. Menurut mereka, di tengah terbatasnya anggaran daerah, Siring mestinya bisa ditunda, masih banyak lebih penting. Seperti kelanjutan proyek Rumah Sakit Tipe B dan jalan yang masih banyak rusak. (Sumber: Radar Banjarmasin grup Jawa Pos, Sabtu 24 November 2018)

Baca juga: Kotabaru Akhir Tahun Ngebut Puluhan Miliar, Jaksa Sarankan Tidak Perpanjang Waktu
Space Iklan

Tags

Posting Komentar