Tugiatno Gagas Embung Demi Akhiri Krisis Air Bersih

Kegiatan reses Anggota DPRD Banjarmasin, Tugiatno. (FOTO: JURNAL BANUA)

JURNALBANUA.COM, BANJARMASIN — Terik matahari Minggu (25/10) siang itu tak menyurutkan langkah warga Kelurahan Kuripan untuk berkumpul. Di bawah bayang-bayang cuaca kering dan bau asap yang kian menyengat, raut wajah mereka menyiratkan satu hal yang sama: kerinduan akan air bersih dan keadilan sosial yang kian sulit dijangkau.

Bagi warga Kuripan, kemarau panjang kali ini bukan sekadar urusan cuaca panas. Ini adalah perjuangan harian. Sungai Martapura yang biasanya menjadi urat nadi kehidupan, kini debit airnya makin menyusut dan terganggu. 

Dalam keseharian, giliran air bersih yang tak lancar mengalir kerap memaksa warga mengurut dada.

Kondisi inilah yang mengemuka saat Anggota DPRD Kota Banjarmasin, Tugiatno, hadir melangkah ke tengah-tengah warga untuk menyerap aspirasi.

"Hari ini keluhan paling mendasar adalah air bersih," ujar Tugiatno. 

Kemarau yang membentang panjang telah melumpuhkan pasokan ideal dari sungai utama.
Namun, pertemuan itu bukan hanya tempat meratapi keadaan. Dari dialog hangat tersebut, mencetuslah sebuah usulan masa depan: pembangunan embung penampung air.

"Kita berharap ke depannya Banjarmasin memiliki embung. Jadi, ketika kemarau panjang melanda lagi, warga tidak perlu lagi merasakan krisis air seperti saat ini," tutur Tugiatno optimistis.

Beban Ganda: Saat Bantuan Tak Lagi Sapa
Di luar persoalan krisis air yang mengeringkan sumur-sumur warga, ada kemarau lain yang tak kalah menyiksanya: terputusnya uluran tangan bantuan sosial (bansos).

Beberapa warga dengan nada berat menceritakan kebingungan mereka terkait pergeseran status Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau peringkat desil. Mereka yang dulunya berada di kategori desil bawah di bawah angka 5 yang mengindikasikan berhak menerima bansos, tiba-tiba mendapati statusnya melonjak ke desil 7 atau 8.

Secara teknis di atas kertas, angka itu membuat mereka tampak seolah-olah sudah sejahtera. Namun di lapangan, kenyataan hidup mereka tak bergeming. Akibat perubahan angka tersebut, hak mereka untuk menerima bantuan sosial melayang begitu saja.

"Persoalan desil ini berdampak langsung pada dapur warga. Ini yang perlu kita telusuri dan perbaiki bersama," tegas Tugiatno menanggapi aduan tersebut.

Meskipun ada beberapa catatan kecil mengenai pembenahan infrastruktur pemukiman, isu air bersih dan kejelasan bansos tetap menjadi prioritas utama yang membakar harapan warga Kuripan siang itu. 

Mereka berharap, pertemuan dan aspirasi yang dititipkan lewat wakil rakyat ini tidak menguap begitu saja bersama angin kemarau, melainkan berbuah solusi nyata di kemudian hari.(saa/jb)






















Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.