Tajam isyarat tangan dan sorot mata mereka; alis bertaut, menantang argumentasi lawan bicara. Lebih seratus pemuda berkumpul; lebih seratus catatan. Walau mungkin belum sepakat, tetapi keputusan mereka sudah bulat: sakali tajajak caram kahandak!
ZALYAN SHODIQIN ABDI, BANJARMASIN
ATMOSFER auditorium KH Idham Chalid, Rabu (28/10) siang tadi terasa hangat oleh riuh diskusi Aruh Pemuda 2026—Youth Kalimantan Confrence. Sedikit yang menyadari, suhu udara yang mendadak gigil sore harinya bukan karena panitia memaksa mesin pendingin bekerja maksimal, tetapi di luar hujan telah turun dengan derasnya.
"Lebat sekali rupanya tadi," kata Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Kalsel, Febriadin Hafiz, sejenak ke luar gedung membakar rokoknya.
Matanya tenggelam ke dalam sisa genangan air di jalan beraspal. Lalu dagunya terangkat, saya ikuti pandangannya. Di atas sana samar biru langit mulai terlihat, walau lapisan jerebu itu masih mengambang,
Inilah hujan ke tiga kalinya dalam sepekan terakhir. Belum cukup ternyata, betapa parahnya kebakaran hutan tahun ini.
Setelah habis sebatang, kembali ke dalam ruangan. Di dalam, para pemuda masih khusyuk berdikusi, duduk melingkar-lingkar.
Penggagas aruh—Akademi Bangku Panjang Mingguraya lewat program BASAibu Wiki Kalimantan—membagi sekitar dua ratus pemuda menjadi sepuluh kelompok diskusi; menggelar lima isu besar: literasi, kebudayaan, lingkungan, kepemudaan serta kesenjangan pendidikan.
Setiap isu dibahas oleh dua kelompok. Setelahnya, masing-masing kelompok akan maju mengadu gagasan. Rampung presentasi, barulah digelar pemungutan suara isu prioritas pemuda tahun depan.
Selain sekolah dan kampus, muda-mudi dari bebagai komunitas di Kalimantan juga hadir. Salah satunya dari komunitas Tuli. "Sekarang Tuli adalah sebutan yang sopan. Kalau tunarungu itu kasar," kata rekan muda Musa Bastara.
Penasaran, saya mendekati meja kawan-kawan Tuli.
![]() |
| Pemuda dari komunitas Tuli hadir di Aruh Pemuda 2026. Mereka berdisusi bersama ratusan peserta lainnya dari berbagai sekolah dan kampus |
Ada tiga pemuda, M Haris Fadillah, M Rizqi Rahman dan Adinda Nikmah Fahrinnadi. Jari-jari mereka sibuk berbicara dalam bahasa isyarat, alis di wajah rupawan mereka keras bertaut. Apa yang menggelisahkan kawan Tuli?
Khairun Nisa dan Adelia Mawaddah dari Pusbisindo (Pusat Bahasa Isyarat Indonesia) yang menjadi telinga dan lidah mereka, menyebut dua kata: API, KARHUTLA!
"Mereka takut, kak! Belum ada sinyal khusus untuk kawan Tuli kalau ada kebakaran. Kita, kan, bisa mendengar sirine!
Amit-amit, jangan sampai, ini misal saja. Kalau mereka sendirian di rumah tiba-tiba ada api?!" bergegas-gegas Khairun Nisa menerjemahkan.
Bagi kalian yang tinggal di luar titik terparah Karhutla, saya akan memberikan gambaran. Pertengahan Oktober tadi, terentang dari Kabupaten Banjar sampai Barito Kuala, sedikitnya lima buah rumah terbakar, api dari lahan dan hutan menjalar masuk ke permukiman. Matahari tenggelam dalam lautan asap—sirine pemadam meraung siang dan malam.
Saya kemudian berkeliling meja. Semua isu saling berkelindan. Karhutla menjadi pemantik kerusakan lingkungan, siapa yang menikmati dan siapa yang menanggung akibatnya. Buruknya literasi dan pendidikan juga tidak berdiri sendiri; keduanya bertaut dengan hasil politik elektoral: mundurnya kualitas para pemegang kebijakan.
Dan muara semuanya adalah kegelisahan.
"Hasil penelitian dari I-NAMHS (Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey), satu dari tiga remaja mengalami kesehatan mental," seru seorang pemuda.
![]() |
| Kualitas politik juga tidak lepas dari diskusi para pemuda yang hadir dalam Aruh Pemuda |
Materi pra diskusi yang mereka dapat dari Dory Amanda Sari, Dr Harla Sara Octarra, Anandyta Amalia dan Sandi Firly tentang berpikir kritis dan cara menuangkan gagasan lewat narasi persuasif membuat mereka disiplin data.
"Di Singapura, jika semua jumlah buku dibagi ke rakyat, satu orang bisa dapat satu buku. Kita? Satu buku harus digilir ke 90 orang. Sudahlah kurang, mahal pula!" sahut yang lain.
Setelah semua grup selesai presentasi, dan para pemuda melakukan voting, persoala lingkungan berada di puncak kecemasan. Sebanyak 30,7 persen pemuda memilih lingkungan sebagai isu prioritas. Menyusul persoalan literasi sebanyak 21,3 persen.
Tiga isu sisanya beda-beda tipis, hanya belasan persen.
Mengapa kualitas lingkungan bersanding dengan literasi dalam puncak kecemasan pemuda?
Sederhana jawabnya. Dalam diskusi mereka, saya menangkap kesan rendahnya SDM konstituen adalah cerminan dari buruknya literasi. Berdampak langsung kepada hasil politik elektoral. Buntutnya, ketidakpuasan pemuda terhadap kebijakan tata kelola SDA di Kalimantan.
"Kawan Tuli juga bercerita, betapa sedih mereka melihat teman-teman usia muda terpaksa harus meninggalkan sekolah karena harus menikah atau terkendala ekonomi," kata Khairun Nisa.
SIAPA BILANG APATIS?
Ketika mendapat kesempatan berbagi gagasan dengan anak muda, Febriadin langsung melempar angka dari catatannya:
Kawan-kawan usia muda jumlahnya telah mengisi seperempat dari jumlah penduduk Kalsel; 70 persen dari mereka aktif berdiskusi, walau tidak sampai 2 persen yang terlibat organisasi.
"Data itu menunjukkan, pemuda kita tidak apatis. Hanya saja ruang diskusi mereka bergeser ke digital."
Dia menyarankan, selesai konferensi, tidak perlu memilih banyak isu untuk dikawal. Satu isu pu tidak soal, tetapi fokus dan tuntas. "Karena yang penting itu tuntas," tegasnya.
Hal senada juga disampaikan anggota DPRD Kalsel, M Syaripuddin, yang berkesempatan hadir. Politisi ini meyakini, masa depan nanti ditentukan oleh generasi tiga puluh tahun ke bawah.
"Kita perlu memberikan ruang seluas-luasnya kepada mereka," katanya.
BUDAYA ADALAH SENJATA
Untuk melihat apa tujuan Aruh Pemuda 2026 kali ini, ada baiknya kita geser sebentar ke belakang.
Tahun 2025 di Jenewa Swiss, Yayasan BASAibu Wiki menerima penghargaan dunia WSIS (World Summit on the Information Society) Prizes oleh PBB dalam kategori Cultural and Linguistic Diversity Through Youth Digital Engagement (Keberagaman Budaya, Bahasa, dan Konten Lokal melalui Keterlibatan Digital Pemuda).
Program BASAibu Wiki sudah berjalan sejak beberapa tahu terakhir di berbagai provinsi di Indonesia. Di Kalimantan Selatan, program ini dimmotori oleh Lembaga Akademi Bangku Panjang Mingguraya.
Koordinator BASAibu Wiki Kalimantan, Hudan Nur menjelaskan selama dua tahun terakhir, mereka sudah menjaring 15 ribu lebih partisipan muda. Terdiri dari 6.612 perempuan dan 8.418 laki-laki.
"Aruh Pemuda 2026 adalah gelanggang pertemuan dua tahun perjalanan BASAibu Wiki Kalimantan. Mencoba menerjemahkan gagasan mereka nantinya ke dalam aksi nyata," ujarnya.
Pemuda, lanjut Hudan, terus didorong melestarikan budaya daerah, salah satunya percaya diri menggunakan bahasa daerah untuk merespons isu sipil lokal ke ruang digital.
"Bahasa adalah identitas budaya. Bahasa daerah berfungsi mewariskan kecerdasan kultural, yang terkadang kita abaikan dalam kebijakan," timpal Armiati Rasyid (baru saja dilantik sebagai Kepala Balai Bahasa Kalteng, sebelumnya Kalsel).
![]() |
| Terkikisnya bahasa daerah dan apropriasi budaya menjadi salah satu isu yang diangkat para pemuda di Kalimantan |
Saya kemudian ingat, salah satu meja diskusi sempat memperlihatkan bagimana kecerdesana kultur itu. "Pengelolaan kanal modern gambut untuk alasan agronomis adalah sebab kenapa kita kesulitan mengendalikan karhutla. Padahal budaya lokal kita telah mengajarkan bagaimana mengelola gambut dengan efektif," begitu catatan pemuda aruh.
Ironsinya, kearifan budaya lokal terkadang justru tidak bertemu dalam ruang kampanye terbaiknya. Ornamen budaya yang dipakai sekadar bahan bakar komodifikasi.
"Cemas saja ketika melihat budaya justru diproduksi seperti barang pabrik. Film horor yang mengangkat ornamen budaya lokal dengan formula itu-itu saja, misalnya. Yang penting laku. Ini menjadi tantangan," kata Musa Bastara, jurnalis muda yang juga ikut aruh.
Apa pun itu, setidaknya Aruh Pemuda telah memperlihatkan tingginya kepedulian anak muda di Kalimantan. Tinggal bagaimana konferensi menelurkan rekomendasi nyata yang siap mendorong perubahan positif di tengah masyarakat.
"Sakali tajajak, caram kahandak yang kita jadikan tema aruh ini adalah semboyan Banjar yang dipopulerkan oleh komponis Hamiedhan AC. Maknanya senada dengan sekali layar terkembang pantang biduk ke tepian," pungkas Hudan.
![]() |
| Ratusan catatan dari pemuda menjadi sinyal kepedulian yang diharapkan dapat mendorong perbaikan kualitas hidup |
BASAH
Matahari telah tenggelam ketika saya pulang dari aruh. Jalan kompleks perkantoran Gubernur Kalimantan Selatan basah; sisa keringat para pelari masih menempel di kaos mereka; wajah-wajah segar tanpa masker.
Basah dedaunan telah menyamarkan aroma jerebu. Hampir tak ada aroma asap, tidak seperti siang ketika saya meluncur dari Banjarmasin ke Banjarbaru.
Bersama Musa, saya melaju pulang melewati JL Gubernur Syarkawi. Di salah titik terarah karhutla, di sini asap masih ada, mata saya sempat berair, pedas. Walau tidak sepekat malam-malam sebelumnya.
Mendekati tempat tinggal Musa di Gudang Hirang, kami melewati jejeran warung-warung remang yang merangkap karaoke. Truk-truk besar parkir di depannya.
Memperlambat kendaraan, saya melihat beberapa wanita muda di dalam warung. Wajahnya tebal riasan, berbaju kaos ketat. Lantunan dangdut keras dari speaker besar berlampu warna-warni.
"Tidak usah, langsung ke rumah saja!" teriak Musa mengalahkan deru kendaraan ketika saya memberikan kode apakah mampir sebentar ke salah satu warung.
Warung itu, buka sejak petang sampai dini hari. Tak peduli asap, tak peduli jiwa yang kelelahan, perempuan-perempuan muda tepian kota tetap meniti panjangnya malam lewat tampias dari lingkaran terluar distribusi kekayaan alam Kalimantan.




