Air PDAM Batola Disorot Publik, Antropolog ULM Dorong Uji Independen

Antropolog Ekologi ULM, Nasrullah. (FOTO:IST)

JURNALBANUA.COM, MARABAHAN - Kekhawatiran publik terhadap keamanan air minum PDAM Barito Kuala (Batola) yang bersumber dari Sungai Barito bukan perkara mudah ditepis.

Pasalnya, kekhawatiran tersebut tidak lahir semata dari narasi atau isu di ruang publik. Nalar awam masyarakat terbentuk dari fakta visual di lapangan, seperti fenomena ikan sekarat yang terjadi sepanjang puluhan kilometer perairan Sungai Barito, terutama dari wilayah Kuripan hingga Marabahan.

Kondisi serupa juga terjadi pada ikan-ikan di keramba apung di Marabahan dan Bakumpai yang mati akibat fenomena danum bangai. Tercatat, sekitar 93.930 kilogram ikan nila mati dengan estimasi total kerugian mencapai Rp3,287 miliar.

“Visual itu menjadi faktor utama yang membentuk persepsi publik ketika mereka mengonsumsi air minum yang bahan bakunya berasal dari Sungai Barito,” ujar antropolog ekologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Nasrullah, Kamis (29/1/2026).

Menurut Nasrullah, dalam situasi seperti ini, upaya meyakinkan masyarakat tidak cukup hanya dengan penjelasan teknis. Meski PDAM Batola telah menjalankan prosedur ilmiah, seperti pemeriksaan bahan baku di laboratorium internal, hasil tersebut tetap berpotensi dinilai subjektif oleh publik.

“Nilai kelayakan produksi air PDAM Batola akan tetap dipersepsikan subjektif jika hanya bersumber dari pemeriksaan internal,” katanya.

Untuk menjembatani nalar awam masyarakat dengan keyakinan berbasis sains, Nasrullah menyarankan PDAM Batola melakukan sejumlah langkah konkret. Salah satunya dengan melibatkan pemeriksaan kualitas air oleh laboratorium eksternal yang independen.

“PDAM Batola bisa mengundang pemeriksaan kualitas air oleh laboratorium perguruan tinggi, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Dinas Kesehatan, atau lembaga resmi lainnya,” jelasnya.

Langkah tersebut, menurut Nasrullah, penting sebagai second opinion yang lebih objektif sekaligus untuk mengonfirmasi hasil uji laboratorium internal PDAM Batola.

Selain itu, Nasrullah yang meneliti perubahan mode produksi petani Bakumpai di lahan pasang surut dalam disertasi S3 Antropologi, juga mengusulkan adanya aksi simbolis guna meningkatkan kepercayaan publik.

Aksi tersebut dapat berupa demonstrasi minum air PDAM Batola secara terbuka di hadapan masyarakat, kemudian disebarluaskan melalui media sosial.

“Cara semacam ini pernah dilakukan Presiden Joko Widodo ketika menjadi orang pertama yang disuntik vaksin Covid-19,” tegasnya.

Ia menilai, jika Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD, unsur Forkopimda, termasuk pimpinan PDAM Batola berani meminum air PDAM secara terbuka, hal itu akan menjadi pesan yang sangat kuat bagi masyarakat.

Langkah berikutnya yang disarankan adalah kebijakan sosial berupa pembebasan atau penggratisan iuran PDAM kepada pelanggan selama satu bulan.

“Pembebasan iuran itu bertujuan menguatkan kepercayaan publik, sekaligus membangun citra PDAM Batola yang lebih simpatik,” pungkas Nasrullah.(saa/ibr/jb)



Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.