Wawancara Eksklusif, Andi Asdar: Jangan Salah Pikir - Jurnal Banua -->

Wawancara Eksklusif, Andi Asdar: Jangan Salah Pikir


Andi Asdar Wijaya


Anggota DPRD Termuda Tanbu Bicara Konsep Kepemimpinan


Di sebuah warung kopi di pinggir jalan poros Kabupaten Tanbu, Jurnal Banua berbincang lama dengan Andi Asdar Wijaya, pertengahan September tadi. Perawakannya kecil tapi rapi. Sorot matanya tajam, khas anak muda. Berikut wawancara eksklusif dengan anggota DPRD Tanah Bumbu termuda ini.

Bagaimana kabarnya?

Alhamdulillah sehat. Walau beberapa hari ini energi lumayan terkuras. Mendampingi ayahanda Zairullah Azhar berkeliling desa memenuhi undangan warga. Eh, luar biasa ternyata ayahanda itu, fisik dan energinya seolah tidak pernah turun.

Saya yang muda, kadang malu.

Kebetulan Anda menyinggung soal usia, itulah yang mau kami gali. Menurut Anda, kepala daerah itu apakah sepatutnya memang dari kalangan muda?

Saya pikir dalam Pilkada ini sebagian orang salah meletakkan pondasi berpikirnya. Kepala daerah bukan mewakili sebagian golongan. Kepala daerah itu memimpin semua orang. Tua dan muda, yang di desa atau di kota, intinya: semua rakyatnya.

Dalam memilih kepala daerah, karena dia adalah pemimpin semua, maka yang paling penting adalah kapasitasnya. Mampukah dia? Sudahkah dia memiliki semua kriteria kepemimpinan?

Perlu diingat, pemimpin perusahaan tidak perlu memiliki karakter kepemimpinan. Cukup intelegensi dan power. Nah, memimpin rakyat perlu karakter kepemimpinan.

Karakter kepemimpinan itu tergambar di moralnya, intelektualitasnya dan integritasnya. Nasib rakyat ditentukan oleh moralitas dan kapasitasnya dalam memimpin, bukan soal usia. Dia harus bisa memberikan keteladanan.

Bukankah Anda dulu juga berkampanye pilih yang muda? Sehingga di tahun 2019 tadi, Anda tercatat sebagai anggota DPRD termuda Tanah Bumbu.

Anda benar. Tapi begini...

Anda tahu? Pasti, dong, sudah tahu. Saya itu berlaga di "Dapil Neraka". Saingan saya banyak, hebat-hebat. Maka saya coba menarik simpati pemilih muda saat itu. Program yang saya tawarkan pun khas program kepemudaan.

Pemilu legislatif berbeda dengan Pilkada. Legislatif mewakili beberapa daerah, mewakili beberapa segmen di masyarakat. Nah, saat itu saya mewakili segmen pemuda.

Kalau Pilkada, itu mewakili semua rakyat di Tanah Bumbu. Bukan hanya untuk kalangan muda. Tapi semua kalangan. Makanya, slogan pilih yang muda untuk Pilkada itu tidak tepat. Yang tepat adalah pilih yang terbaik di antara yang baik.

Anda berbicara begitu, karena Anda kebetulan berada di Parpol koalisi Zairullah?

Saya berbicara begitu bukan karena saya kader Golkar. Saya hanya menyampaikan logika berpikir yang benar untuk memilih pemimpin. Jujur, saya sepakat dengan Mila Karmila (Cabup Tanah Bumbu), bahwa di Pilkada ini kita harus ada gagasan.

Sehingga, masyarakat kita tidak terjebak dalam pola-pola perbincangan yang tidak mendidik. Diskusi dan ide-ide harus menjadi warna dalam komunikasi publik di Tanah Bumbu. Ini harus kita biasakan.

Keberpihakan kepada anak muda adalah menomor satukan masa depan mereka. Menomorsatukan kualitas pendidikan mereka. Tujuan utama pendidikan apa sih? Kan akhlak. Nah ini yang sekarang harus kita benahi.

Makanya dalam wawancara terdahulu, saya ada bilang. Anak sekarang, mencuci piring sendiri sudah malas. Saya melihat itu dampak dari menurunnya kualitas pendidikan kita. Ekstrakurikuler seperti Pramuka yang menempa mental dan disiplin anak muda harus kita galakkan lagi.

Saya tidak bilang game online itu buruk. Tapi itu kan hiburan. Sama saja dengan game atau permainan zaman dulu. Kita tidak mau generasi muda kita sibuk bermain saja. Harus seimbang semua.

Apa harapan Anda terkait Pilkada di Tanah Bumbu tahun ini?

Saya meminta, kita semua dewasa dalam politik. Kampanye-kampanye hitam sebaiknya jangan lagi ada. Mari sama-sama kita didik masyarakat kita.

Biarlah masyarakat merdeka dan gembira dalam memilih. Biarlah mereka menganalisa siapa yang terbaik di antara yang baik. Siapa yang pantas memimpin seluruh rakyat di Tanah Bumbu tanpa membedakan usia atau golongan, atau apa pun.

Biarlah masyarakat bebas memilih siapa yang mampu memberikan keteladanan, sehingga daerah kita ke depan menjadi inpirasi.

Karena ternyata, saya sepakat dengan Kanda Fawa (tokoh pemuda asal Pagatan), bahwa kepemimpinan itu anugerah. Semua orang bisa jadi pemimpin, misalnya pemimpin rumah tangga atau pemimpin perusahaan. Tapi tidak semua memiliki jiwa kepemimpinan.

Kepemimpinan itu memberikan keteladanan. Dan itu saya temukan dalam sosok ayahanda Zairullah Azhar. Beliau memberikan saya banyak pelajaran hidup dan kehidupan. Dan saya sungguh bersyukur menjadi bagian dari orang-orang yang bisa mengenal beliau. (shd/jb)


Space Iklan

Tags :

bm
Jurnal Banua

Situs pemberitaan online Jurnal Banua telah memiliki badan hukum dan terdaftar di Kemenkumham RI. Semua produk pemberitaan diolah melalui proses jurnalistik yang profesional dan bertanggungjawab.

Posting Komentar