TMMD Kotabaru: Kisah Romantis Bambu, Tentara dan Bocah Desa - Jurnal Banua
News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

TMMD Kotabaru: Kisah Romantis Bambu, Tentara dan Bocah Desa

TMMD Kotabaru: Kisah Romantis Bambu, Tentara dan Bocah Desa


Tentara masuk desa biasanya punya cerita sendiri. Seperti di ujung Banua, memori masa kecil membuat Kapten Inf Tata Ramdan meminta pasukan membuat egrang.

JURNALBANUA.COM, KOTABARU - TMMD, biasa dikenal dengan sebutan tentara masuk desa. Di Kotabaru tahun ini diadakan di pelosok Pulau Laut. Tepatnya di Subur Makmur. Sekitar 100 kilometer dari pusat kota.

Danramil Pulau Laut Barat, Kapten Inf Tata M Ramdan bersama 113 prajurit ditugaskan di sana. Sejak 11 Juli 2019 tadi.

Sudah biasa dalam TMMD, meski program kerja ada, namun pelaksanaannya tidak sesederhana di atas kertas. Misalnya, bedah rumah penduduk. Awalnya memakai kalsiboard, namun perintah atasan tiba-tiba minta ubah batako. Tidak ada pilihan bagi pasukan, mereka harus melaksanakannya.

Masalahnya, anggaran biasanya turun belakangan dari pusat. Sederhananya, TNI harus melaksanakan kerja sebagus-bagusnya dengan dana terbatas.

"Jangan tanya apa yang sudah negara berikan padamu. Tapi tanya apa yang sudah kamu berikan buat negara" kata Kapten Syaiful Bahri disambut tawa rekan-rekannya.

Tiap program tentara masuk desa, warga tidak jarang heran. Melihat pasukan itu seperti bisa apa saja. Aduk semen. Nyadap karet. Giling padi.

Di lain pihak para tentara sendiri dituntut kreatif. Mengerjakan apa yang tidak tertuang dalam rencana. Asal hasilnya positif.

Atasan menagih laporan hampir tiap saat. Atasan atasannya lagi menagih serupa. Sampai tingkat pusat. Disertai foto dan video.

Zaman berubah. Jika dulu para tentara cukup bekerja membangun desa saja. Di era digital mereka pun wajib foto dan video. Dua kali lipat lelahnya.

Beberapa data-data kegiatan itu biasa dibagi humas Kodim 1004 kepada para jurnalis lokal.

Jumat (19/7) pagi kemarin, pekerjaan tidak sepadat hari biasa. Waktu terbatas. Tata Ramdan terlihat belum puas dengan giat hari itu.

Dia mencari alternatif. Kebetulan tentara kurus tinggi itu melihat anak-anak remaja SD pulang sekolah. Di desa, anak SD yang usia muda jarang punya hape. Mereka terkadang menonton anak SD tingkat akhir atau pelajar SMP bermain gadget.

Ekonomi penduduk Subur Makmur rata-rata menengah. Mayoritas kerja di ladang atau kebun. Khas penduduk eks transmigrasi.

"Tiba-tiba timbul saja idenya itu. Lihat anak-anak gak ada mainan," ujar Tata dengan logat khas Jawa Barat.

Tata sudah lama tugas di Kabupaten Kotabaru. Anak lelakinya satu orang jadi polisi. Tugas di Polres Kotabaru.

Tata meminta pasukan menebang pohon bambu. Panjang-panjang bambu di Subur Makmur. "Bikinkan egrang anak-anak. Kasih tahu mereka," ujarnya saat itu.

Para tentara membuat egrang di Desa Subur Makmur

Ramailah para pelajar. Ada yang sudah lepas baju seragam. Ada masih paka pramuka. Merubung tentara. Bambu digergaji. Dipotong-potong. Sebentar saja. Jadilah egrang.

Seorang tentara menaiki egrang. Berjalan-jalan. Kakinya seolah jadi panjang. "Sambil nendang bisa Ndan?," kata seorang remaja. Tentara pun menendang, tidak jatuh. Bocah-bocah tertawa geli.

"Ternyata anak-anak itu gak ada bisa naik egrang," kata Tata. Dia seperti tidak percaya. Faktanya begitu.

Digilirlah bocah-bocah itu naik egrang. "Lurus kakinya," kata tentara mengajarkan.

Tentara memperagakan cara main egrang

Ketika aksi itu sampai ke Makodim, Dandim Letkol Inf Rony Fitriyanto melontarkan pujian. "Mantap, kreatif," ujarnya.

DI Pulau Laut, seperti daerah lain yang digerus kemajuan teknologi, permainan tradisional memang semakin memudar. Era digital mampu menggerus banyak permainan fisik anak-anak dulu.

Tak terkecuali di desa-desa. Walau tidak seperti di kota karena sinyal dan sarana terbatas. Namun malam-malam, di jembatan, atau di bawah pohon ramai anak remaja main game online.

Di desa pelosok Kabupaten Kotabaru, jika ada anak bergerombol memegang hape main game, artinya itulah titik sinyal internet terkuat di lingkungan mereka.

Kepada penulis, Tata mengaku haru melihat anak-anak belum biasa main egrang. "Ternyata permainan tradisional memang lama-lama akan tenggelam sama hape," ujarnya.

Padahal menurut Tata, permainan tradisional jauh lebih baik daripada game online. "Kan di lapangan. Anak-anak gerak badannya, juga sosialisasi sama kawan-kawan. Hape kan enggak."

Ia mengimbau para orang tua tidak memberikan gadget sepenuhnya pada anak-anak. "Jangan hape terus. Makan di rumah, semua sibuk main hape." (Radar Banjarmasin edisi Sabtu 20 Juli 2019)
Space Iklan

Tags

Posting Komentar